
Sarah terkejut mendapati ciuman itu, ditambah lagi saat mendengar suara di sebrang sana.
"Nenek kenapa tutup mataku?" tanya Putra sambil menarik tangan yang mulai keriput itu dari wajahnya.
Entahlah, Putra melihat atau tidak yang jelas wanita itu sudah mencoba menutup matanya.
"Aku 'kan jadi gak bisa lihat Mama, itu Mama diapain sama Papa? Kok Papa gitu?" tanya anak kecil yang masih polos itu.
"Mama gak diapa-apain, sayang. Tadi Mama kelilipan dan Papa coba meniup mata Mama." Sarah harus bisa mengalihkan kecurigaan anak itu, diusianya yang sekarang tengah jujur-jujurnya. Bagaimana kalau sampai mengadu pada orang tua Farhan?
Farhan sendiri hanya menggaruk kepala yang tidak gatal. Lalu menghampiri anaknya dan menggendongnya. Sarah pun menyusul.
"Mama, aku laper tapi ngantuk juga," tutur Putra.
"Loh, kok aneh? Mau tidur apa mau makan?" tanya Sarah.
"Makan, terus tidur," jawab Putra.
"Ya udah, kita makan," ajak Sarah.
Mereka bertiga makan bersama, sedangkan bi Ami pamit pulang ke rumahnya di antar supir. Kepergiannya belum diketahui oleh anaknya yang berstatus duda itu. Mungkin sekarang pria itu tengah sendiri di rumah itu sebabnya bi Ami putuskan untuk pulang lebih dulu.
Seusai makan, Putra mengajak kedua orang tuanya tidur bersama. Sarah dan Farhan hanya saling melempar pandangan, karena mereka sadar penuh bahwa tidak ada ikatan halal di antara mereka. Sarah enggan karena takut adanya setan.
Tapi, Farhan meyakinkan Sarah bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Ia tak ingin membuat anaknya kecewa, ia juga janji hanya menemani sampai anaknya tertidur.
Tiba di kamar, Putra memposisikan diri, ia tidur di tengah. Dan orang tuanya di kedua sisi. Bocah itu nampak bahagia, melihat kanan kiri terdapat orang tuanya. Inilah yang diinginkannya sejak dulu.
"Tidurlah, katanya sudah ngantuk," ucap Sarah.
"Iya, Mama," jawab Putra.
Saat Putra mulai terlelap, Farhan meraih tangan Sarah. Ia ingin bicara berdua dengan serius mengenai hari bahagianya. Ia ingin meyakinkan Sarah bahwa ia sangat mencintainya dan menyesali perbuatannya yang dulu.
Farhan menuntun wanita itu, mengajaknya ke balkon. Malam itu, cuaca sangat indah. Langit yang dihiasi banyak bintang. Posisi Farhan langsung memeluk tubuh Sarah dari belakang. Mengecup leher jenjang wanita itu dari samping sehingga membuat Sarah mendesir.
"Mas," ucap Sarah. Karena lelaki itu sudah berkata tidak akan terjadi apa-apa di antara mereka.
__ADS_1
Sarah hafal betul bagaimana lelaki itu, terkadang lepas kendali jika sudah berdua. Dan anehnya, selama dua tahun katanya merasa tidak bahagia saat ia masih menjadi istrinya. Sekaranglah ia akan menanyakan semuanya pada laki-laki itu.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Sarah.
"Hmm, tanyakan yang ingin kamu tanyakan," kata Farhan.
"Dua tahun bersamaku dan kamu bilang tidak bahagia, apa itu betul?" Sarah bukan menggali rasa sakit waktu itu, ia hanya ingin tahu, masa iya tidak ada cinta sedikit pun. Padahal, ia selalu menikmati percintaan disetiap malamnya. Farhan juga membalas apa yang dilakukan Sarah setiap kali bercinta.
Bukan kah akan merasa jijik saat melakukannya dengan orang yang tidak kita cintai? pikir Sarah.
"Maafkan aku, disitulah kesalahanku, Sarah. Aku buta dan terlalu percaya dengan ucapan Nadia, maafkan aku. Terkadang aku jengkel saat pulang kerja dan aku cape tapi kamu tidak mengerti, yang kamu inginkan hanya aku yang mengerti dirimu. Salahnya aku malah menceritakan keluhanku pada orang lain," jelas Farhan.
"Maafkan aku juga karena keegoisanku membuatmu tidak nyaman saat bersamaku. Tapi, dari sinilah aku belajar. Tau bagaimana caranya menjadi mandiri. Segala sesuatu yang terjadi pasti ada hikmahnya, Mas," kata Sarah yang masih berada dalam pelukkan mantan suaminya.
"Kamu menjadi wanita hebat, aku salut padamu, Sarah. Tanpa aku hidupmu jauh lebih baik, aku merasa berdosa karena tidak tau kalau kamu mengandung anakku." Farhan semakin mengeratkan pelukkannya bahkan sesekali ia mencium pipi wanita itu.
"Maafkan aku, mulai saat ini akan aku jadikan kamu sebagai ratu dalam hidupku." Farhan menghirup aroma tubuh Sarah, dari dulu hingga sekarang baunya tetap sama, tidak ada yang berubah. Hanya sipatnya yang jauh lebih baik. "Kamu terlalu berharga jika disia-siakan," tutur Farhan dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Terima kasih, Mas. Terima kasih masih mempercayaiku dan menjadikanku sebagai istrimu lagi."
***
Farhan inginnya besok, tapi tidak dengan Sarah. Bagaimana pun, ia masih menjadi karyawan di perusahaan garment. Ia harus mengundurkan diri dan pamit pada anak-anak di line yang ia pegang. Cukup lama ia berada di pabrik, membuatnya cukup akrab dengan karyawan di sana. Meski tidak ada teman dekat selain Wita.
"Aku juga mau menemui Wita besok, aku mau dia datang di hari pernikahan kita," kata Sarah.
"Hmm, baiklah kalau itu yang kamu mau. Besok aku akan mengantarmu kemana pun kamu pergi. Biarkan Bayu yang mengurus persiapan pernikahan kita. Sudah malam sebaiknya kamu tidur," titah Farhan kemudian.
"Kamu tidur di mana, Mas?"
"Tidur di kamar tamu, terkecuali kamu mengizinkanku tidur bersamamu," goda Farhan.
"Apaan sih? Kita harus akad dulu baru boleh tidur bersama," jelas Sarah.
"Iya, Mas tau itu. Kamu tidur sama Putra?" tanya Farhan.
"Iya."
__ADS_1
Mereka pun berpisah tepat di depan pintu yang di tempati oleh anaknya. Tak lupa, Farhan kembali mencium Sarah.
"Selamat malam," ujarnya kemudian.
Sarah hanya memberikan sebuah senyuman sebagai perwakilannya, dan mereka pun akhirnya berpisah masuk ke dalam kamar masing-masing.
Keesokkan paginya.
Sarah sudah siap dengan setelan kerjanya, Farhan yang melihat pun terheran-heran.
"Kok pakai seragam sih?" tanya Farhan.
"Ini hari terakhir aku memakai baju ini, Mas. Setelah aku resmi mengundurkan diri dari pekerjaanku aku akan melepasnya."
"Oh iya, bi Ami tidak pulang ya?" tanya Farhan.
"Iya, semalam dia mengirimku pesan katanya bermalam di sana. Sekalian aja kita jemput bi Ami," jawab Sarah.
Putra yang sedari tadi ada di sana hanya mendengar pembicaraan mereka. Karena bocah itu tengah anteng menyantap sarapannya. Sampai pada akhirnya, mereka pun berangkat ke pabrik. Putra pun ikut ke pabrik. Saat tiba di perusahaan garment itu, Putra memanggil seseorang yang dikenalinya.
"Om Ramdan," teriak Putra memanggil laki-laki yang menaruh hati pada mamanya itu.
Ramdan pun menoleh ke sumber suara dan memberikan senyum termanisnya pada anak kecil yang ada di dalam mobil. Ia sendiri tengah berada di area parkir. Senyumnya semakin mengembang saat melihat siapa yang turun. Sayangnya, ia tak dapat memiliki wanita itu.
"Mama, kita temui om Ramdan dulu," pinta Putra.
"Iya, sayang." Sarah menuntun anaknya menghampiri Ramdan dan meninggalkan Farhan yang masih di dalam mobil. Lelaki itu pun turun dan hendak menyusul. Namun, ia mengurungkan niatnya. Memberi waktu untuk laki-laki itu bersama Sarah, bagaimana pun pria itu masih karyawannya dan Sarah berteman dengan laki-laki itu. Cemburu tentu ada, apa lagi lelaki itu menaruh hati pada calon istrinya tapi ia percaya pada Sarah bahwa tidak akan ada pengkhianatan di antara mereka..
_
_
Sambil nunggu aku up lagi kalian bisa mampir di karyaku yang lain juga, tinggal klik aja profilku dan ini aku juga bawa karya teman yang tak kalah menarik.
Author : Syasyi
Judul :Terkerat Pesona Kakak Ipar
__ADS_1