Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 67


__ADS_3

Putra gelagapan. "Mmm , tidak kenapa-kenapa, Ma," jawabnya.


"Hujannya lebat sekali, Sa kamu nginap saja ya, nanti Mama izinkan sama uwa juga sama mama kamu," ucap Sarah.


Nisa tak menjawab, mau pulang pun takut karena hujan memang sangat lebat dan suara petir masih bersahutan. Belum lagi yang mati lampu. Padahal, waktu baru menunjukkan pukul 5 sore, tapi sudah sangat gelap.


"Putra, coba chat adik-adikmu," titah Sarah.


"Gak ada signal, Ma."


Tak lama, terdengar suara deruman mobil masuk ke garasi dan Sarah yakin itu suaminya pulang. Tanpa sadar ia pergi dalam keadaan membawa lilin, tentu ruangan menjadi gelap.


"Put, nyalakan senternya dong," pinta Nisa.


Putra pun menyalakan senter dari ponsel, tapi laki-laki itu malah iseng. Putra meletakkan cahaya senter tepat di bawah dagu sehingga wajahnya begitu menyeramkan dan itu membuat Nisa ketakutan. Reflek gadis itu memukulnya bertubi-tubi.


"Ampun-ampun ... Sakit, Sa," keluh Putra.


"Siapa suruh jahil," cetus gadis itu.


Pada akhirnya, rasa canggung itu hilang. Keduanya teringat akan masa lalu kecil mereka yang di mana selalu saling merindukan jika sedang bicara melalui panggilan.


"Sa," panggil Putra.


"Hmm," jawab gadis itu singkat.


"Boleh aku tanya sesuatu ga?"


"Apa?"


Putra menarik napas untuk mempersiapkan diri akan pertanyaannya, ia siap untuk terluka jika memang jawaban Nisa menyakiti hatinya.


"Sejak kapan kamu menyukai lelaki itu?" Putra begitu harap-harap cemas dan menatap bola mata indah Nisa yang terkena cahaya dari senter.


"Lelaki siapa? Selain papaku aku tidak menyukai siapa-siapa," jawab Nisa begitu santai. Sebenarnya Nisa tahu kemana arah pembicaraan mereka tapi ia tidak ingin menyakiti hati pemuda itu.


Nisa tahu perasaannya dari Alifa bahwa ternyata laki-laki ini diam-diam menyukainya. Dan bodohnya ia tidak sadar akan hal itu, karena ia menganggap kebaikan Putra hanya karena sejak dulu ia dianggap adik oleh lelaki itu.

__ADS_1


"Miko, kamu suka ya sama dia? Dia memiliki semuanya ya, menurutku dia laki-laki yang sangat baik," puji Putra, ia ingin jawaban apa yang akan dijawab Nisa mengenai pemuda itu.


"Aku sama dia seamin tapi tidak seiman. Keyakinan kami berbeda dan rasa kagumku hanya soal kepeduliannya terhadap orang muslim. Miko memang laki-laki yang sangat baik, rasa suka ku hanya sebatas kagum dan itu tidak lebih," jawab Nisa.


Dan ternyata, pembicaraan mereka di dengar oleh Farhan dan Nisa, juga Farah yang ternyata ikut pulang bersama papanya. Kalau Farah tidak dibungkam mulutnya, gadis itu pasti sudah mengacaukannya.


Farhan dan Sarah akhirnya mebyimpulkan bahwa ternyata anaknya diam-diam menyukai Nisa teman masa kecilnya. Karena tidak ingin menganggu percakapan serius itu, akhirnya membuat mereka pergi dan mengajak Farah masuk ke ruangan lain.


"Tapi kamu menaruh hati pada pemuda itu 'kan? Andai kamu dan dia seiman kalian pasti bersatu," tutur Putra.


Penuturan Putra seakan menyudutkan perempuan itu karena Putra tidak puas akan jawaban Nisa.


"Jangan berpikir yang menurutku mustahil, sudah jelas aku dan dia tidak seiman, itu artinya tidak akan terjadi apa-apa antara aku dan dia. Jangan berandai-andai," jawab Nisa. "Pembahasanmu itu seakan menyuruhku untuk menjawab bahwa aku mencintainya, itu 'kan maksudmu?"


Nisa malah berbalik marah karena desakan laki-laki itu, padahal kedatangan Nisa kemari bukan untuk membahas yang lain, ia hanya ingin Putra mengklarifikasi soal pengagum rahasia yang ia lakukan padanya. Awalnya, Nisa tidak begitu berharap akan pengagum rahasia itu, tapi setelah tahu siapa orangnya ia ingin menanyakan apa maksud semua itu?


"Kenapa harus bahas orang lain? Yang aku ingin bahas itu soal kado-kado yang kamu kirimkan untukku."


Memang tidak ada pengakuan dalam surat itu bahwa Putra yang menjadi pengagum rahasianya, tapi kado terakhir yang diberikan membuat Nisa kini tahu siapa yang selalu memberikan hadiah disetiap tahunnya padanya. Tapi laki-laki ini malah berkelit dan membahas yang lain.


Tapi bagi Nisa tidak mudah menganggap itu angin lalu karena beberapa hari ini hatinya dibuat gelisah karena ia tidak menghubungi Putra, laki-laki itu seakan menghindar darinya. Tanpa merasa ada salah, tentu membuat Nisa bertanya-tanya ada apa dengan Putra? Kenapa sikapnya berubah? Nisa tahu kesibukan laki-laki itu, tapi setidaknya hanya untuk membalas chat bisa disela-sela jam istirahat. Tidak mungkin Putra tidak tahu soal pesan darinya.


Karena sebagian orang tidak mungkin bisa hidup tanpa benda pipih itu, sesibuk apa pun pasti melihat dan membuka ponselnya bukan? Pikir Nisa.


"Mudah sekali kamu bilang begitu," ucap Nisa.


Putra terdiam, mencari tahu soal pemikiran Nisa tentang kado-kado yang diberikan padanya. Dari matanya tersirat kekecewaan, akan ketidakpuasan soal jawaban yang diberikan pada Nisa soal kado yang menjadi pengagum rahasia itu.


Apa jangan-jangan Nisa berharap lebih? Apa ini saatnya Putra menyatakan perasaan yang sudah ia simpan selama bertahun-tahun? Akhirnya, Putra menarik napas dalam-dalam untuk mencoba mengungkapkan perasaannya. Diterima atau tidak, ia siap. Sesakit apa pun ia harus bisa terima, karena sejujurnya ia tidak bisa tidur disetiap malamnya hanya karena perasaannya.


"Sa?"


"Ya."


"Andai, kalau ada yang menyukaimu sejak lama, dan kamu kenal sekali orang itu apa tanggapanmu?"


"Pengecut, tanggapanku pada orang itu sangat pengecut. Dan lagi, munafik."

__ADS_1


Putra menelan saliva susah payah, berarti selama ini ia pengecut dan munafik. Lain di hati lain di bibir, ya itu memang disebut munafik.


"Dan aku yakin si pengecut itu ada di hadapanku," ucap Nisa.


Putra langsung menoleh dan menatap kedua bola mata indah Nisa dalam-dalam. Apa maksudnya dia menganggapnya pengecut? Apa jangan-jangan Nisa sadar siapa yang sedang dibahas olehnya?


"Aku menunggu si pengecut itu mengungkapkan perasaannya, tapi sayangnya tidak menyatakannya karena menganggap wanita itu menyukai laki-laki lain. Tidak gentle ya? Si pengecut itu juga pecundang."


Lontran Nisa membuat Putra merasa terejek, ia terpancing dengan penuturan Nisa.


"Aku bukan pengecut, aku juga bukan pecundang, apa lagi munafik."


"Aku tidak bilang kamu seperti itu, terkecuali kalau kamu memang merasa. Berarti kamu lelaki itu? Kamu bilang tadi andai, andai ada laki-laki yang menyukaiku sejak dulu, kamu 'kan orangnya?"


"Kalau iya, apa yang akan kamu lakukan?"


"Tidak ada."


"Kenapa? Kamu tidak memberi kesempatan padanya begitu?"


"Kesempatan apa? Dianya saja diam saja tidak berbuat apa-apa, masa harus aku yang menyatakan perasaanku?!"


Akhirnya Putra tahu apa yang harus ia lakukan, ini kesempatan baginya karena lampu hijau sudah menyala, ia memang tidak akan menyatakan cintanya sekarang, tapi ia akan melakukan dengan cara lain. Ia rasa melamar gadis itu lebih tepat.


Akhirnya, Putra pun diam dan itu membuat Nisa kesal. Tak lama, lampu pun menyala dan percakapan mereka menggantung tidak jelas, menuturut Nisa sendiri. Padahal Putra sudah ada rencananya selanjutnya.


***


Akhirnya, Nisa pun bermalam karena Sarah sudah meminta izin. Sampai keesokan harinya, Nisa masih dibuat kesal, tidak ada jawaban kepastian dari laki-laki itu padanya.


Dan pagi ini, Nisa pamit. Bahkan Putra tidak memunculkan batang hidungnya.


"Hati-hati," ucap Sarah.


Selepas kepergian wanita itu, Sarah dan Farhan pun langsung bersiap-siap menyusul anaknya yang lebih dulu sampai di pesantren.


"Ayo cepat, Pa. Jangan sampai kita keduluan Nisa," pinta Sarah.

__ADS_1


__ADS_2