Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 66


__ADS_3

Keesokan paginya.


Nisa minta izin kepada uwa-nya untuk pergi ke rumah Sarah, terpaks ia berbohong karena sebenarnya ia ingin menemui Putra. Ia ingin menyakan sesuatu kenapa lelaki itu memberi hadiah disetiap tahun dengan nama tersembunyi.


Untung, uwa Nisa percaya karena Sarah masih bagian pesantren di sana.


"Hati-hati ya, Nisa," ucap uwa sebelum Nisa berangkat, apa lagi gadis itu menyetir sendiri.


***


Setelah menempuh perjalanan, akhirnya Nisa sampai pada jam 6 pagi, karena ia berangkat subuh-subuh. Sayangnya, pas tiba ternyata Putra sudah berangkat. Mungkin tadi sempat berpapasan tapi mereka tidak tahu.


"Nisa," ucap Sarah.


Gadis itu tersenyum di balik cadar yang dikenakannya berwarna navy.


"Kenapa tidak bilang mau kemari, hm?" tanya Sarah lagi.


"Iya, Ma. Dadakan," ucap Nisa.


"Ya udah, ayo masuk," ajak Sarah.


Saat sampai, si kembar muncul. Farah menyambut kedatangan wanita bercadar itu. Bahkan mereka saling berpelukkan.


"Sudah siap mau berangkat ya?" tanya Nisa.


"Iya, Kak. Ada ujian soalnya. Kak Putra mana, Ma?" tanya Farah.


"Udah berangkat, baru saja," jawab Sarah.


"Ya ... Kok aku ditinggal sih." Wajah Farah menunjukkan rasa kecewa, padahal ia sudah siap dam bela-belai bangun pagi.


"Udah, bareng gue aja," sahut Fathan.


"Ih, suka ngebut. Gak mau naik motor, nanti rambut aku berantakan," tolak Farah ajakan kakaknya itu.


Fathan memutar bola mata jengah, adiknya itu centil sekali, pikirnya.


"Ya sudah, tunggu papa sebentar lagi turun kok. Dan benar saja, Farhan turun dan langsung menyapa akan keberadaan Nisa. Ia sampai bingung dengan keadaan gadis itu pagi-pagi ada di rumahnya.


Dan akhirnya, mereka pun sarapan bersama. Tak lupa mengajak Nisa untuk ikut bergabung. Tak lama searapan pun selesai karena Farah ngajak papanya untuk buru-buru berangkat. Hingga kini menyisakan Sarah dan Nisa. Karena sudah tidak ada siapa-siapa, Nisa pun membuka cadarnya.

__ADS_1


"Sa, wajahmu ayu sekali," puji Sarah. Nyaris sempurna karena sama sekali tidak ada jerawat atau pun noda.


Mendapat pujian itu membuat Nisa tersipu malu.


Sedangkan Farah, masih sempat-sempatnya ia memainkan ponsel. Bukan apa-apa, ia memberitahukan kakaknya akan keberadaan Nisa di rumah. Gadis itu mengirim pesan singkat.


"Pulang sekarang, ada pujaan hatimu tuh di rumah. Kak Nisa datang." Terkirim dam centang 2.


Lama tidak berubah centang itu, membuat Farah akhirnya menelepon, tapi tak kunjung diangkat. Padahal, pemuda itu tengah balik arah. Ada yang ketinggalan di rumah sehingga ia tidak menanggapi saat ponselnya terus berdering.


Sampailah Putra di rumah. Lalu, ia melihat sebuah mobil yang ia kenali.


"Inikan mobil uwa-nya Nisa. Apa mereka berkunjung?" Putra segera masuk dan kedatangannya di kejutkan dengan pemandangan indah.


Wajah cantik itu terlihat jelas. Dan gadis itu makah tidak sadar akan keadaannya yang tidak memakai cadar. Nisa malah tersenyum dan itu membuat Putra semakin takjub.


"Kamu kok pulang lagi?" tanya Sarah.


"A-ada yang ketingggalan, Ma." Jawab Putra tanpa menoleh, ia masih saja menatap wajah Nisa yang cantik. Cantiknya begitu alami sehigga ia begitu memuji kecantikkan gadis itu.


Akhirnya, Nisa tersadar. Dan langsung menutup wajahnya dengan kerudungnya yang panjang.


Putra yakin kalau kedatangan Nisa bukan untuknya, paling menemui orang tuanya. Setelah mengambil berkas, Putra segera kembali karena pagi ini ada rapat penting.


***


Nisa menunggu kepulangan Putra, tapi tak kunjung pulang. Padahal hari sudah sore, dan ia tidak bisa berlama di rumah Sarah. Inginnya, Nisa menghubungi Putra, tapi pesan yang kemarin saja belum dibuka oleh lelaki itu.


Hingga akhirnya, Nisa pun pamit untuk pulang.


"Kenapa gak nginap saja, Mama bisa minta izinkan kamu pada uwa, ini sudah sore kamu bisa sampai pulang malam," kata Sarah mencegah kepulangan gadis itu.


"Tidak, Ma. Aku mau pulang saja," tolak Nisa. Ia merasa kedatangannya sia-sia karena sikap Putra biasa saja saat dirinya datang. Padahal, ia sudah tahu bahwa selama ini yang menjadi pengagum rahasia itu adalah Putra.


Tidak ada lagi spesial dari Putra untuknya, Putra memilih untuk memendam perasaannya dari pada harus merasakan sakit hati lagi. Biar cinta itu tersimpan dengan rapi. Pada saat Nisa akan pulang, akhirnya Putra tiba.


"Buru-buru amat," ucap Putra saat melihat Nisa yang hendak naik mobil.


"Iya," jawab Nisa.


"Oh, ya udah hati-hati."

__ADS_1


Nisa kira lelaki itu mencegahnya pulang, tapi ia salah. "Apa kamu hanya mengerjaiku, Put?" batin Nisa bertanya.


"Soal kado itu, aku sudah ..."


"Oh, itu. Maaf ya, aku tidak bermaksud gombal," pungkas Putra. Padahal, Nisa belum selesai bicara. "Anggap aja angin lalu, kamu kayak yang gak tau aku aja."


"Oh, gitu ya. Aku kira itu tulus dari lubuk hati, akunya aja yang terlalu baper ya."


Sarah pun akhirnya pergi dari sana, karena ia yakin di antara mereka ada sesuatu yang ia tidak tahu. Ia juga yakin kedatangan Nisa pasti untuk menemui anaknya.


Cukup lama mereka berdiri di depan mobil masing-masing, sampai akhirnya hujan turun dengan lebat. Putra langsung saja menarik tangan Nisa untuk segera masuk.


"Pulangnya nanti saja, tunggu hujan reda. Ini lebat sekali."


Jedarrr ...


Suara petir langsung menggelegar. Sarah pun kembali keluar.


"Syukurlah, Mama kira kamu sudah pulang. Ayok masuk," ajak Sarah pada Nisa.


Mau tak mau, Nisa pun masuk karena hujan disertai angin yang begitu kencang. Cuaca mendadak buruk seperti hatinya.


Lampu pun tiba-tiba mati.


Sarah panik karena anak kembarnya tak kunjung pulang, padahal ini sudah sore. Mau menelepon pun takut karena petir masih saling bersahutan. Nisa yang takut suara petir dari dulu, ia hanya bisa berlindung di balik tubuh Sarah.


"Jangan takut," kata Sarah mengusah bahu gadis itu.


Nisa menutup kuping saking takutnya. Karena hari mulai gelap, tentu di rumah itu butuh cahaya untuk menerangi. Putra ingin sekali menjadi pelindungnya, tapi apa daya.


"Sa, tunggu sebentar ya. Mama mau ambil lilin," pamit Sarah.


Pada saat Sarah pergi, suara petir kembali menggelegar. Sontak, membuat Nisa terkejut dan langsung pindah duduk di sofa yang di tempati oleh Putra, bahkan Nisa duduk di pangkuan lelaki itu. Hingga terjadi saling memandang cukup lama. Ini sangat memalukan, ia tak sengaja melakukannya karena reflek.


Karena cahaya dari arah belakang muncul, Nisa langsung saja turun.


"Maaf," ucap Nisa. Gadis itu memukul kepalanya sendiri. "Bodoh-bodoh ...," rutuknya dalam hati.


Sarah pun datang, ia menelisik mereka berdua. Putra terlihat gugup karena takut mamanya melihat apa yang terjadi, bisa-bisa ini salah paham.


"Kamu kenapa?" tanya Sarah pada anaknya.

__ADS_1


__ADS_2