
Nisa mencengkram sprai kuat-kuat, entah sejak kapan pakaian keduanya terlepas. Putra nampak kesusahan saat menjebol gawang. Nisa sudah menangis dan Putra pun menghentikan aktivitasnya karena tidak tega pada istrinya. Padahal, setengahnya pun belum, baru ujungnya sedikit menerobos. Tapi Nisa sudah ...
Ah, Putra tidak meneruskannya.
"Jangan nangis," ucap Putra. Ia membelai rambut istrnya lalu mencium kening yang sudah basah karena keringat menahan rasa sakit di bawah sana. "Besok saja kita lanjutkan, sekarang tidurlah," bidiknya kemudian.
Putra menarik selimut untuk menutup tubuh istrinya yang polos, ia benar-benar tidak bisa melakukannya karena Nisa tidak menikmatinya. wanita itu masih tegang karena kedua pahanya masih tertahan tidak terbuka lebar. Karena begitu, ia tidak akan bisa menjebol gawang. Yang ada nanti malah nyeri karena terlalu dipaksakan.
Ia bisa mengerti, ia juga akan menunggu sampai istrinya benar-benar siap. Sedikit kecewa memang, tapi apa boleh buat? Dari pada Nisa menangis dan matanya bengkak itu malah akan menjadi masalah baginya. Karena rencananya, besok orang tua Nisa akan berkunjung. Bahkan keluarga besar orang tuanya akan datang.
"Tidurlah," ucap Putra.
"Tapi ..."
"Tidak apa-apa, aku akan menunggunya sampai kamu siap."
Setelah tubuh mereka terbungkus dengan selimut, Putra memeluk tubuh itu sambil berpegangan pada buah dada yang begitu kenyal. Memilih ujung dada itu sampai Nisa mulai tera**s*Ng. Gadis itu mende*ah, sambil memegang tangan suaminya.
"Mas," ucap Nisa. "Sepertinya aku sudah siap," kata wanita itu. Ia merasa terpancing karena jari-jemari suaminya terus meraba bagian tubuhnya yang bisa membangkitkan gairahnya.
Mendengar itu, Putra langsung kembali memposisikan diri. Ia naik ke atas tubuh istrinya, menatap bola mata indah itu lekat-lekat. Lalu menatap dengan tatapan nanar seperti orang kehausan. Beberapa kali ia menelan salivanya. Ingin mencoba menahannya tapi tidak bisa karena tongkatnya terus berdiri tegak.
"Kamu yakin?" tanya Putra. "Kalau memang belum siap tidak apa-apa, aku ngerti." Padahal itu hanya basa-basi agar tidak terlalu memaksa.
"Siap, Mas. Lakukanlah."
Nisa membuka lebar-lebar kedua pahanya. Ia siap menerima rudal masuk ke dalam gawangnya. Sampai akhirnya, Nisa kembali meringis menahan nyeri saat suaminya kembali memasukkan senjatanya ke area intinya.
Cengkraman itu begitu kuat sampai Putra sendiri terluka akibat ulah istrinya.
"Hentikan bila aku menyakitimu, tapi mende*ahlah kalau kamu menikmatinya."
Perlahan, Putra mendorongnya sampai miliknya kelelep. Nisa meneteskan air mata tanpa suara. Menahan nyeri itu Karen tidak ingin membuat suaminya kecewa. Siap atau tidak siap, ia harus bisa membahagiakan suminya.
Putra tidak langsung menggerakkan miliknya yang sudah tertancap dengan sempurna. Ia memberi waktu pada istrinya, memberi ruang untuk bernapas. Hingga ada pergerakan tangan istrinya mulai berpindah pada pinggangnya, seakan memintanya untuk bergerak.
"Tahan ya, ini pasti sakit. Tapi kata orang lambat laun akan terasa nikmat."
__ADS_1
Putra mulai memaju-mundurkan pinggulnya.
"Uh ... Sakit," pekik Nisa.
"Tahan."
Sejurus kemudian, Nisa ikut bergerak. Tubuhnya terguncang saat suaminya mulai mengatur ritme, dengan tempo yang begitu pelan tapi dapat dirasakan. Tidak peduli dengan cairan merah yang sudah membasahi tempat tidurnya. Putra bisa memaklumi itu karena ini pertama kali bagi istrinya juga dirinya
Tempo yang awalanya lambat sedikit mulai berpacu. Kenikmatan yang memang tidak bisa diungkapkan kata-kata itu kini dapat dirasakan oleh seorang pria bernama Putra Farhan Permana.
"Ah, Nisa ..." Tidak tahu harus berbuat apa, Putra menikmati percintaan itu Karen ia telah mencapai puncak kenikmatan yang hakiki. Ia mencium kening istrinya beberpa detik sambil merasakan kedutan panjang di bawah sana.
"Sudah?" tanya Nisa dengan polosnya. Wanita itu belum merasakan surga dunia karena masih merasakan nyeri di bagian intinya yang kini telah robek.
"Terima kasih, terima kasih telah membahagiakanku." Putra mencium bibir istrinya sambil bermain lidah.
"Tapi aku tidak merasakan apa-apa," kata Nisa.
Putra tersenyum, istrinya lucu sekali.
"Nanti aku buat kamu melayang, tapi tidak sekarang. Tunggu besok atau lusa sampai itunya tidak bengkak. Sekarang tidurlah, ini sudah terlalu larut."
"Tidurlah." Putra mencium bahu istrinya. Ia janji akan membuat istrinya merasakan apa yang ia rasakan saat ini.
***
Sampai keesokkan harinya.
Nisa terbangun, ia mendengar alarm berbunyi suara adzan berkumdang. Ia mengerjakan matanya, tapi ia tidak bisa bangun karena tubuhnya merasa remuk redam.
"Aduh ...," pekik Nisa saat beranjak. Ia menarik selimut untuk menutup tubuhnya, lalu duduk dan bersandar di sandaran ranjang.
Putra terbangun, ia mendaratkan kepala di paha istrinya.
"Sudah adzan, Mas. Kita shalat dulu yuk," ajak Nisa.
"Tunggu sebentar, Mas siapkan air hangat untukmu mandi." Putra memakai kolornya terlebih dulu, lalu dengan cepat beranjak. Setelah beberapa menit kemudian ia kembali.
__ADS_1
"Bisa tidak?" tanya Putra saat Nisa beranjak.
"Bisa." Nisa membalut tubuhnya dengan selimut.
"Aku gendong saja." Putra langsung meraih tubuh istrinya dan mengantarnya ke kamar mandi. Setibanya di sana ia menurunkannya. "Mas mandi di kamar mandi yang lain ya, kalau nunggu gantian nanti keburu siang."
Putra langsung pergi ke kamar mandi yang ada di dapur.
"Siapa yang ada di sana, Bi?" tanya Sarah pada bi Ami.
"Putra," jawabnya.
"Kenapa mandi di sini? Emangnya kamar mandinya bermasalah?" tanya Sarah lagi.
"Katanya Nisa sedang mandi juga," jawab bi Ami.
"Oh ..."
Tak lama, muncullah Putra dengan rambutnya yang basah. Sarah hanya tersenyum karena ia tahu apa yang telah terjadi dengan pengantin baru itu.
"Mama kenapa? Ada yang lucu?" tanya Putra.
"Tidak, cepatlah ke kamar. Shalat subuh terus ajak istrimu turun kita sarapan sama-sama," kata Sarah.
Putra berjalan sambil bersiul.
Sarah hanya menggelengkan kepala dengan tingkah anaknya itu.
"Anakku sudah besar, Bi. Waktu begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin aku melahirkan dia sendirian," kata Sarah.
Farhan pun mendengar dengan penuturan istrinya. Entah kenapa, hati Farhan merasa teriris jika mendengar kata-kata itu keluar dari mulut istrinya.
Bi Ami sampai menyenggol tubuh Sarah, memberi kode kalau suaminya ada di sana.
"Mas, sejak kapan kamu di situ?"
"Sejak tadi." Jawab Farhan sambil mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.
__ADS_1
Sarah merasa tidak enak jadinya, apa lagi terus mengingat kejadian 25 tahun silam.