
Naomi menyikut tangan Farah, menyadarkan gadis itu bahwa dugaannya salah. Pria yang ada di hadapannya ternyata bukan oppa Kaleng-kaleng.
Entah apa yang diucapkan lelaki dewasa tapi terlihat tampan itu, hingga tak lama orang yang ada di belakangnya menghampirinya dan malah menyodorkan sebuah kartu kecil yang ternyata sebuah kartu nama.
Ternyata orang itu ajudan si oppa.
"Ini kartu Tuan Akio, kalau ada apa-apa bisa hubungi ke nomor ini. Sekarang kami sedang buru-buru, dan Tuan Akio minta maaf atas ketidak nyamanan kalian. Mungkin saya juga yang salah karena memberi lampu sen dengan mendadak," jelasnya.
"Iya, Pak, Om. Ah pokoknya iya saja, nanti kami akan menghubungi kalau ada apa-apa," jawab Naomi.
Padahal yang nabrak mereka bukan mobil yang ada di depan. Bagi Tuan Akio, mereka masih kecil dan ia masih memaklumi nya. Dan tak lama, kedua pria itu pergi dari hadapan Farah dan Naomi.
Setelah kepergian mereka, Farah baru tersadar. Gadis itu terkesiap karena dari lamunannya.
"Dia bukan Korea abal-abal, Farah. Kamu gak tau 'kan tadi dia bilang apa?" tanya Naomi. Gadis itu masih memegang kartu yang diberikan orang tadi, Farah pun akhirnya mengambil.
"Biar aku yang simpan kartu ini, aku 'kan yang nabrak, " ucap Farah.
"Alasan, bilang saja kamu mau gebet itu oppa-oppa iya 'kan? Lagu lama," sindir Naomi.
"Ih, enak saja. Dia bukan tipeku. Sudah ayo masuk nanti kita terlambat, untuk mobilmu nanti aku ganti, " kata Farah.
"Ganti dari Hongkong, yang ada papamu marah besar kalau dia tau kamu nyetir tanpa izin darinya, apa lagi sampai nabrak kendaraan orang," kata Naomi.
"Udah jangan berisik!"
Kedua gadis itu pun masuk ke dalam mobil dan mobil itu mulai melaju. Farah mengemudi dengan kecepatan penuh karena sebentar lagi ia terlambat.
__ADS_1
Tin, tinnn ....
Darah mengejar waktu, meski begitu tetap saja mereka terlambat. Pintu gerbang kampus sudah tertutup dengan sempurna. Farah dan Naomi menghela napas panjang. Padahal, pelajaran ini sangat penting.
"Ya, telat kita," ucap Naomi pasrah. "Cabut yuk?!" ajaknya kemudian.
"Gak ah, aku harus pulang. Mobilmu rusak, depannya sampai penyok begitu. Kalau aku ketauan maen nanti orang tuaku semakin memarahiku karena tidak kuliah," jelas Farah.
Farah memberikan kunci mobil pada Naomi, sementara ia pulang naik taksi. Ia ada ide untuk mengelabui orang tuanya. Karena ia tak ingin lagi kena marah.
***
Farah sampai di rumah.
Gadis itu berjalan dengan tertatih. Lalu, Sarah melihat kedatangan putrinya.
"Sakit, Ma," keluh gadis itu.
"Kenapa bisa sampai kaya gini?" tanya Sarah.
"Tadi ada yang nabrak mobil Naomi, Ma. Terus kakiku kejepit."
Akting Farah begitu meyakinkan ibunya.
"Siapa orangnya?" tanya Sarah.
Farah pun akhirnya memberikan kartu nama orang yang ia tabrak tadi. Sarah pun mengambilnya.
__ADS_1
"Itu kartu nama yang nabrak aku, Ma."
"Tuan Akio?" Sarah merasa tidak asing lagi dengan nama itu.
***
Sementara di tempat lain.
Farhan masih menunggu kedatangan kliennya yang sharusnya datang setengah jam lalu. Farhan terus melihat jam di tangan.
"Bayu, apa tuan Akio benar akan datang?" tanya Farhan. "Sudah jam berapa ini?" tanyanya lagi.
"Itu tuan Akio." Bayu menunjuk ke arah belakang bosnya.
Farhan bernapas lega karena meeting kali ini memang harus berjalan dengan lancar.
"Maaf lama menunggu," ucap asisten tuan Akio. "Tadi ada kendala di jalan," katanya lagi.
"Oh iya, tidak apa-apa," jawab Farhan.
Akhirnya, meeting pun dimulai dan selesai tanpa kendala. Mereka pun berbincang lebih dulu sebelum pertemuan berakhir. Asisten tuan Akio menceritakan tragedi tadi yang sempat menghambat perjalanan mereka.
Farhan sendiri hanya manggut-manggut, karena maraknya anak gadis jaman sekarang. Setelah itu, mereka pun akhirnya berpisah. Farhan langsung pulang ke rumah setelah meeting selesai.
Sesampainya di rumah, Farhan disambut oleh istri tercinta. Sarah langsung saja membicarakan kejadian yang menimpa putrinya dan memperlihatkan kartu nama itu pada suaminya.
Sampai akhirnya, Farhan berpikir cerita siapa yang benar?
__ADS_1
"Farah..." teriak Farhan