Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 62


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian.


Seorang lelaki tampan yang kini berusia 25 tahun tengah memandang sebuah foto seorang gadis yang mengenakan hijab. Wajahnya tertutup dengan syar'i, terakhir ia melihat wajah gadis iyu saat masih berusia 6 tahun. Ia ingat betul saat merapihkan kerudungnya, itu terakhir ia bertemu dengannya. Hanya lewat telepon dan vidio call yang dilakukan.


Ya, lelaki itu adalah Putra Farhan Permana. Pemuda tampan yang kini bergelar menjadi seorang dokter muda. Lelaki tampan itu menempuh pendidikannya di luar negri. Kini, ia telah pulang ke tanah air karena studi pendidikkannya telah selesai.


Tampan, baik, pintar, serta sopan. Itu menjadi kebanggaan orang tuanya. Lama ia memandang foto gadis kecil itu rasa rindu ingin bertemu terlintas dalam benaknya. Berencana untuk menemui gadis itu suatu saat. Sahabat kecilnya tumbuh menjadi sosok wanita yang menjadi pengagum kaum hawa.


Entah bagaimana rupa gadis itu sekarang, tentu pasti sangat cantik. Bibir lelaki itu tersenyum sambil mengusap gambar itu, hinggga tak lama kejahilan seseorang datang dan merebut foto yang tengah dipegangnya.


"Mama ...," teriak orang itu.


Seorang gadis yang begitu cantik, gadis itu sudah siap untuk berangkat kuliah. Ia datang menemui sang kakak untuk menyuruhnya segera mengantarkannya ke kampus. Namun, ternyata sang kakak malah tengah melamun sambil mandang foto gadis kecil itu.


"Farah!"


Putra langsung membekap mulut sang adik dengan telapak tangan, ia tak ingin orang tuanya tahu soal ini. Apa lagi berniat menjodohkannya, ia ingin rasa itu tumbuh dengan sendirinya, tanpa ada paksaan. Terlebih pada gadis yang bernama Khairu Nisa itu.


Farah memukul tangan sang kakak yang masih menempel di mulutnya, lalu kakaknya itu pun melepaskannya. Putra meletakkan jari telunjuk, isyarat bahwa adiknya tidak boleh memberitahukan soal ini.


"Awas kalau bilang sama mama!" ancam Putra.


"Emangnya kenapa kalau mama tau? Bukannya itu bagus? Nanti Kakak bisa dinikahkan sama kak Nisa," kata Farah.


Adik perempuannya sangat mendukung, karena ia menyukai sosok Nisa yang baik. Bahkan beberapa bulan lalu sebelum Putra pulang dari luar negri, ia dan keluarga berkunjung ke pondok pesantren. Nisa berdakwah di sana dan semua keluarga memuji akan kepintaran gadis itu.


"Udah jangan ikut campur, pokoknya awas kalau mama tau!" kata Putra lagi.


"Mama sudah tau kali, pas pulang yang Kakak tanyakan paling pertama kak Nisa 'kan?"


"Pokonya jangan bahas masalah ini, kalau tidak Kakak tidak akan mengantarmu kuliah pagi ini," ancam Putra.


Farah mendelikkan mata, setelah itu menjulurkan lidah. "Aku tidak janji," ucapnya seraya keluar dari dalam kamar.


"Awas aja kalau berani, ku jitak kepalamu!"


***


Pagi ini, semua keluarga berkumpul di ruang makan. Sarah begitu telaten melayani semuanya, apa lagi pada sang suami. Bahkan, Sarah pun kini telah mengenakan hijab. Kecantikan wanita itu tidak pernah luntur di mata suaminya. Padahal, usianya kini sudah 45 tahun. Karena pandai merawat diri dan dorongan modal yang cukup membuatnya bisa mengatasi masalah di wajah.

__ADS_1


"Terima kasih, sayang," ucap Farhan.


"Sama-sama," jawab Sarah.


"Ma, aku mau itu dong," pinta Farah menunjuk selai roti yang di dekat mamanya.


"Ini." Sarah memberikannya pada anak gadisnya itu. "Pulang kuliah langsung pulang, jangan nongkrong-nongkrong gak jelas Mama tidak suka!" sambung Sarah.


"Hari ini aku ada janji, Ma. Mau jenguk teman di rumah sakit," jawab Farah.


"Tidak ada alasan, pokoknya pulang. Kalau mau Mama jemput kamu ke kampus lalu Mama antar kamu jenguk temanmu itu," ujar Sarah.


Farah mendengus kesal, ia menghela napas dan menghembuskannya dengan kasar. Apa kata teman-temannya nanti kalau ia datang sama mamanya? Bisa-bisa diledek si anak mami.


Putra dan Fathan menahan tawa karena Farah mulai saat ini dikekang, setelah membuat onar di kampus orang tuanya tidak mengizinkannya pergi apa lagi sama teman-temannya.


"Udah habiskan sarapanmu, terus berangkat. Sudah siang juga," cetus Sarah.


Sarah pusing dengan tingkah anak gadisnya itu, sering buat masalah. Kemarin, di kampusnya berantem sama teman sekelas hingga ia di panggil ke kampus dan beri peringatan untuk lebih mengajarkan anaknya. Padahal, itu memang bukan kesalahan Farah seratus persen. Ia hapal bagaimana watak anaknya, Farah tidak mungkin marah kalau tidak dipancing. Namun, ia tidak tahu apa penyebab anaknya sampai berkelahi.


"Ayo cepat habiskan," timpal Putra.


Drama di ruang makan pun selesai semua penghuni di rumah itu mulai beraktivitas dengan urusan masing-masing. Sarah pun sibuk dengan urusannya yang kini sering mengikuti pengajian. Apa lagi sekarang ia ingin melihat penampilan Nisa berdakwah.


"Belum, Ma. Baru minggu depan mulai sibuk," jawab Putra.


Putra masih menikmati masa liburnya, dan itu ia akan pergunakan untuk berkunjung ke pesantren sahabatnya itu.


"Emangnya ada apa, Ma?" tanya Putra.


"Ikut Mama ke pengajian teman Mama," ajak Sarah.


Mau menolak, Putra tidak bisa. Permintaan sang ibu paling utama, sampai akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke pesantren.


"Hmm, baiklah," jawab Putra dengan lesu.


Padahal, Sarah mengajaknya untuk bertemu dengan sahabat kecilnya itu. Ia ingin gadis bercadar itu menjadi menantunya, apa lagi dengan kesepakatannya dengan Wita saat dulu.


Akhirnya, mereka semua pun berangkat, begitu pun dengan Farhan. Sarah mencium tangan suaminya dan Farhan mencium kening sang istri. Begitu harmonis keluarga itu.

__ADS_1


"Sayang, Papa berangkat dulu ya," pamit Farhan.


"Iya, Pa. Hati-hati di jalan," balas Sarah.


***


Di dalam mobil Putra.


"kamu sering buat ulah ya?" tanya Putra pada adiknya.


"Tidak, mereka duluan yang usil," elak Farah.


"Masa?" Putra tidak percaya begitu saja. "Apa itu benar, Fathan?" tanyanya pada adik lelaki itu.


Fathan hanya menggerakkan bahu sebagai jawaban. Fathan terbilang cuek, pemuda itu lebih banyak diam. Tidak seperti Farah yang cerewet.


Jika sudah begitu, itu artinya Fathan tidak mau tahu dengan urusan Farah.


Putra pun fokus pada kendaraannya, hingga akhirnya mereka sampai di kampus Farah. Fathan dan Farah beda jurusan dan itu membuat Fathan tidak tahu apa saja yang dilakukan adiknya itu.


"Pulang nanti Kakak tidak bisa jemput, kalian naik taksi aja," kata Putra. Soalnya ia akan pergi bersama ibunya ke pengajian.


"Iya," jawab Fathan.


"Awas kalau kamu keluyuran," kata Putra pada Farah.


"Iya, lama-lama Kakak kayak mama, bawel!"


Kedua adiknya pun turun dan Putra segera pulang. Sampai tiba, ternyata sang mama sudah menunggu bahkan sudah siap untuk berangkat.


"Kita ke mana sih, Ma?" tanya Putra penasaran.


"Ke yayasan," jawab Sarah.


"Oh ..." Hanya itu yang dijawab Putra.


Akhirnya mereka sampai setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam. Putra melihat sebuah yayasana yang cukup besar. Ternyata, itu yayasan yang didirikan Sarah dengan kawan-kawan termasuk Wita.


Turunlah mereka dari mobil, saat itu juga kedatangannya disambut oleh Wita yang lebuh dulu berada di sana. Wita pun memanggil putrinya.

__ADS_1


"Nisa ..." panggil sang bunda.


Muncullah sosok gadis yang bersyar'i itu. Putra langsung menoleh saat nama Nisa tersengar di telinga.


__ADS_2