Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 80


__ADS_3

Akhirnya, tuan Akio memaafkan Farah. Dan gadis itu bukan hanya minta maaf, ia juga akan mengganti rugi kerusakan yang telah ia buat. Farah sendiri tidak tahu berapa nominal yang akan dikeluarkan untuk biaya mobil tuan Akio.


"Yakin mau ganti rugi mobil rusak itu?" tanya ajudan tuan Akio.


Kini, Farah tahu siapa nama lelaki tua itu karena mereka sempat berbincang setelah tuan Akio memaafkannya.


"Yakin, Pak. Pak Anwar tidak perlu khawatir." Gadis itu tersenyum, karena ia akan meminta uang pada papanya untuk membayar tagihan itu. "Tuan Akio masih lama ya?"


"Sebentar lagi, tunggu saja," jawab Anwar.


Tuan Akio mau pun ajudannya tidak tahu kalau Farah itu anak dari rekan kerja yang saat ini tengah bekerja sama. Apa lagi pak Anwar tidak yakin kalau gadis itu mampu membayar kerugian yang akan dibayar oleh Farah.


Tuan Akio sendiri tidak memaksa, ia hanya menuruti apa keinginan gadis itu karena Farah begitu memaksa. Dan muncullah sosok tuan Akio.


Ketampanannya memang sungguh mempesona apa lagi dengan senyumnya hingga memperlihatkan lesung pipinya.


"Kenapa jantungku berdebar saat melihatnya," batin Farah. "Aku tidak mungkin jatuh cinta pada lelaki dewasa 'kan? Farah, dia seusia papamu," batinnya lagi.


"Jadi berangkat sekarang?" tanya pak Anwar.


Farah mengangguk, lalu mereka bertiga pun pergi ke bengkel mobil untuk memperbaiki mobilnya. Farah hanya ingin bertanggung jawab sesuai keinginan orang tuanya. Dan tibalah mereka di bengkel itu. Farah dan pak Anwar turun lebih dulu sementara tuan Akio pergi entah kemana karena ia menyerahkan urusan mobil itu pada karyawannya termasuk pada gadis itu yang katanya kekeh ingin bertanggung jawab.


"Ada yang bisa kami bantu?" Pekerja bengkel menghampiri Farah dan pak Anwar.


"Tolong dicek mobil itu." Tunjuk pak Anwar. "Kira-kira berapa biaya yang harus dibayar?"

__ADS_1


"Baik, Pak. Kami cek dulu ya, silahkan duduk di ruangan sebelah." kata pegawai itu sambil menunjuk tempat yang disediakan.


Farah dan pak Anwar menuju ruangan, dan ternyata tuan Akio sudah lebih dulu ada di sana. Beberapa saat kemudian, pegawai itu datang sambil membawa kertas setelah dihitung-hitung biaya yang harus dibayar ternyata nominalnya tidak sedikit.


Pak Anwar mengambil kertas itu dan memperlihatkannya pada Farah. Gadis itu sangat terkejut melihat angka yang tidak sedikit. Lidahnya terasa kelu dan hampir tidak bisa bernapas.


"Mahal sekali," batin Farah. "Gimana ini? Aku tidak yakin papa mau membayarnya bisa-bisa aku diomelin lagi." Farah tersenyum miris sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tuan Akio melihat ekspresi gadis itu, begitu pun dengan pak Anwar. Tuan Akio membiarkannya apa gadis itu tetap kekeh ingin membayarnya? Melihat ekspresinya saja tidak meyakinkan.


"Ya sudah, lakukan servis," kata pak Anwar. "Bukan begitu?" tanyanya pada Farah.


"I-iya, Pak," jawab Farah. "Saya ke toilet sebentar," pamit Farah pada pak Anwar. "Toilet sebelah mana ya, Pak?" tanyanya pada pegawai bengkel.


***


"Angkat dong, Pa." Farah sudah panik karena takut papanya tidak mau membantunya. Cukup lama ia berada di toilet, tetap saja Farhan tidak menjawab panggilan dari anak gadisnya itu.


Mau tidak mau, Farah menghubungi Naomi dan meminta bantuan pada sahabatnya itu. Sayang, Naomi tidak bisa membantu karena ia sendiri kena marah orang tuanya karena mobilnya pun masuk bengkel.


Tidak ada jalan lain selain meminta maaf pada tuan Akio, kalau ia tidak bisa membayar semua tagihan. Farah hanya punya uang separuh dari total pembayaran itu.


Farah menghela napas panjang lalu kembali menemui pak Anwar.


"Pak, boleh saya bicara sebentar?" tanya Farah.

__ADS_1


"Ya, tentu. Ada apa?"


"Jujur, saya tidak punya uang sebanyak itu. Saya hanya bisa bayar separuhnya saja."


"Tunggu sebentar, saya bicarakan ini dengan Tuan Akio." Pak Anwar menghampiri tuannya dan mengatakan semuanya.


Tuan Akio sudah menduganya, melihat gadis itu gemetar membuat tuan Akio merasa kasihan. Lalu ia beranjak dan menghampiri Farah.


"Ayo ikut." Tuan Akio meraih tangan Farah dan mengajaknya ke tempat lain.


"Kita mau kemana?" tanya Farah.


Tuan Akio tidak menjawab, pria itu terus menuntunnya sampai menyetop taksi. Farah diam saja saat pria itu membawanya. Dan sampai lah mereka di tujuannya.


"Kenapa kesini?" tanya Farah, pasalnya tuan Akio membawa Farah ke hotel tempat Akio bermalam.


Pria itu menginap di sana karena kebetulan rumah miliknya yang berada di sana tengah direnovasi.


"Ngapain ke sini?" tanya Farah lagi. Gadis sangat ketakutan karena takut tuan Akio macam-macam padanya.


"Tuan Akio, kita mau ngapain ke sini?! desak Farah.


"Kamu bayar dengan cara lain kalau tidak punya uang," jawab tuan Akio.


"Apa? Maksudnya bayar dengan cara lain seperti apa? Jangan macam-macam!" sentak Farah.

__ADS_1


Tapi tuan Akio tidak menggubrisnya lelaki itu terus saja menarik lengan Farah ke kamar hotel yang di tempatnya.


__ADS_2