Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 76


__ADS_3

Keesokan paginya.


Semua keluarga sudah berkumpul di ruang makan. Termasuk pengantin baru itu. Fathan nampak perhatian pada istrinya karena Arumi belum tahu bagaimana sikap keluarga suaminya itu, yang ia tahu adalah Farah. Mereka saling kenal tapi tidak dekat, setahu Arumi Farah itu cukup cerewet. Tapi tidak saat ini, gadis itu nampak buru-buru sampai-sampai tasnya ketinggalan saat sudah selesai sarapan langsung pergi begitu saja.


"Farah, tasnya ketinggalan," kata Arumi.


"Oh iya, aku buru-buru soalnya. Aku duluan ya," pamit Farah.


"Astagfirallah, Farah ... Sampai lupa cium kedua tangan orang tua," kata Sarah.


Akhirnya gadis itu kembali dan mencium kedua tangan orang tuanya. Seperti biasa, Farah memberikan senyum tanpa dosa.


"Maaf, Ma. Aku buru-buru, si Nom-nom sudah jemput soalnya," ujar Farah.


"Nom-nom?" ulang Sarah.


"Naomi, Ma. Aku pergi dulu ya semua, babay ..." Farah memberikan kiss bye pada anggota keluarganya.


Farhan sampai geleng-geleng kepala dengan tingkah anak gadisnya itu.


"Sayang, aku juga berangkat ya. Ada meeting sama klien soalnya," pamit Farhan.


"Klien dari mana, Pa?" tanya Sarah. "Tuan Akio itu ya yang dari Korea?" tanya Sarah lagi.


"Iya, Papa tidak boleh telat." Farhan pun akhirnya pergi dan meninggalkan semuanya.


"Ma, aku juga mau ke pesantren," ucap Putra. "Soalnya besok aku ada jadwal praktek jadi tidak ada waktu selain hari ini, sekalian ambil barang-barang Nisa," sambungnya.


"Oh, ya sudah kalau begitu," jawab Sarah "Kalian tidak ke mana-manakan hari ini?" tanya Sarah kemudian pada Fathan dan istrinya.


"Kalau aku tidak ada Ma. Aku mau istirahat aja," jawab Fathan, karena memang tubuh Fathan terasa remuk redam akibat kejadian kemarin malam soal pengeroyokan, dan itu membuat Arumi merasa bersalah.


Apa lagi semalam ia tidur begitu saja tanpa bertanya mengenai keadaan suaminya.


"Ya sudah kalau memang mau istirahat, jangan lupa minum obatnya," kata Sarah. "Dan ini, kamu minum susunya dan habiskan, Mama tidak mau calon cucu Mama kenapa-kenapa," sambung Sarah pada menantunya yang kini tengah hamil.


"Siang kita ke rumah sakit, kamu belum cek kandungan 'kan?" tanya Sarah lagi.


Arumi menggelengkan kepalanya, ia malah terlihat sedih. Meski terdengar ketus tapi mama mertuanya sangat perhatian. Sarah memang berubah, mungkin Karena memiliki tiga anak membuatnya sering marah-marah, terkadang emosinya tidak terkontrol. Tapi ia sangat sayang dengan keluarganya terutama pada anak-anaknya.


Tanpa mereka tahu, Arumi meneteskan air mata. Ia sedih karena teringat mendiang ibunya, ibunya juga sama persis cerewetnya seperti ibu mertuanya. Tapi itu terjadi tidak lama karena perhatian lain diberikan oleh Sarah, wanita paruh baya tapi masih terlihat cantik itu nampak menyodorkan buah-buahan yang sudah dikupas dan dipotong-potong.

__ADS_1


"Makan ini juga, biar bayimu sehat." Sarah tidak mungkin membiarkan menantunya bernasib sama sepertinya. Sarah sangat sedih saat diawal kehamilan dan itu menjadi pengalaman untuknya.


"Makasih, Tante," ucap Arumi.


"Kok Tante sih? Mama dong, Fathan 'kan anak Mama dan kamu istrinya, jadi kamu anak Mama juga." Sarah tersenyum saat mengucapkan kalimat itu.


Arumi pun akhirnya tersenyum saat mendengar penuturan mama mertuanya. Ia merasa bersyukur berada di keluarga harmonis itu, mereka terkenal bukan karena kaya, keluarga barunya itu juga terkenal dengan kebaikannya.


Akhirnya, Putra dan Nisa pun berangkat ke pesantren. Dan Fathan pergi ke kamar setelah mengantar kakaknya. Ia meringkuk di tempat tidur karena semua badan terasa sakit.


Tak lama, Arumi datang membawakan obat yang ia dapatkan dari mama mertua.


"Fathan, aku bawakan ini untukmu. Kata mamamu kamu harus minum obat." Arumi meletakan nampan di atas nakas yang berisikan obat dan air minum.


Fathan beranjak dan mendudukkan diri di tepi ranjang. Arumi pun ikut duduk di sampingnya, dan mengambil obat itu lalu memberikannya pada suaminya.


"Minumlah," ucap Arumi.


Lelaki itu meminum obatnya sampai air minum itu tidak tersisa.


"Tetaplah di sini." Fathan meraih tangan Arumi karena wanita itu tampak akan pergi meninggalkannya.


Arumi pun akhirnya kembali duduk, padahal ia tidak akan kemana-mana, hanya saja ingin menyimpan nampan ke dapur setelah itu kembali menemani suaminya. Lagi pun, ia merasa sungkan jika tidak bersama suaminya. Ia belum terbiasa dengan keluarga Fathan.


"Apa?" tanya Arumi balik.


"Soal perasaanmu, apa ada rasa di hatimu untukku? Aku takut pernikahan ini membuatmu tidak bahagia, tapi perlu kamu tau, aku sayang kamu juga calon anak kita."


Fathan meraih tangan Arumi lalu menciumnya, ia ada keberanian karena kini telah menjadi suami dari gadis itu.


Arumi merasa tersentuh dengan penuturan suaminya, akhirnya ia menyandarkan kepala di bahu suaminya tanpa dipinta oleh Fathan.


"Terima kasih sudah mencintaiku, terima kasih juga sudah bertanggung jawab, aku beruntung menjadi istrimu. Kamu begitu baik, bahkan kamu sering menolongku sejak masih SMA, kamu sering memberiku tumpangan."


"Kamu masih ingat masa-masa sekolah kita?"


"Tentu, bahkan kamu sering memberikan bekal makananmu untukku."


"Pertanyaannya kamu sayang gak sama aku?" tanya Fathan.


Arumi mengangguk dan itu dapat dirasakan oleh Fathan karena gerakan kepala Arumi yang terletak di bahunya. Fathan mengangkat kepala istrinya, lalu menatap wajah cantik itu lekat-lekat. Fathan hendak mencium tapi tiba-tiba ...

__ADS_1


"Arumi ...," panggil seseorang.


Fathan menarik diri dan tidak jadi mencium istrinya karena ia kenal siapa yang memanggil istrinya itu. Siapa lagi kalau bukan mamanya. Fathan pun menghembuskan napas dengan pasrah.


Sarah memang mengajak Arumi hari ini ke dokter untuk memeriksa kandungannya.


"Aku temui mamamu dulu, kamu istirahat ya. Aku tidak akan lama, aku janji langsung pulang setelah selesai dari dokter."


Sebelum Arumi keluar, Fathan meletakkan jari di bibirnya. Seakan memberi kode bahwa istrinya harus menciumnya lebih dulu.


"Apa sih?" tanya Arumi sok polos, padahal ia tahu apa maksud suaminya. Meski begitu, Arumi tetap menghampirinya. Sekilas, wanita itu mencium bibir suaminya.


"Sudah ya, aku berangkat dulu," pamit Arumi.


"Jangan lama-lama," kata Fathan.


Arumi pun akhirnya pergi bersama mama mertua ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya.


***


Sedangkan di tempat lain.


Mobil yang ditumpangi Farah ternyata menabrak mobil yang ada di depannya. Sudah jelas mobil di depan itu memberi lampu sen. Dan kebetulan yang mengendari mobilnya adalah Farah sendiri. Ia menggantikan temannya karena sedang malas menyetir.


"Bisa bawa mobil gak sih," teriak Farah.


"Farah, kok jadi kamu yang marah sih? Orang itu sudah kasih lampu sen juga," sahut Naomi.


"Aku gak liat." Farah tidak terima dan langsung keluar.


Saat itu juga pengemudi mobil yang ditabraknya ikut keluar. Nampak seorang lelaki tampan berwajah opa-opa mungkin umurnya hampir sama dengan Farhan tapi begitu tampan.


"Ya Tuhan oppa," ucap Naomi.


"Kenapa kasih lampu sen nya mendadak?" tanya Farah dengan ketus. Farah tidak peduli setampan apa lelaki itu.


"Farah, jangan galak-galak, ini momen langka," kata Naomi.


"Please deh, jangan kecentilan," ujar Farah.


Orang itu hanya diam saja karena tidak begitu mengerti bahasa Indonesia.

__ADS_1


"Dia Korea abal-abal, jangan ketipu," kata Farah.


Lalu, orang itu berbicara dengan bahasa asing. Farah dan Naomi pun terdiam apa lagi dengan Farah.


__ADS_2