
Nisa pun menoleh dan melihat sebuah kado yang berbentuk kota dari Putra. Nisa berdiri lalu meraihnya.
"Apa ini?" tanya Nisa.
"Kalau aku kasih tau itu bukan kejutan dong, kenapa tidak bilang kalau panti membutuhkan ini semua?" Putra melihat pada barang-barang yang yang masih tersisa.
"Sebenarnya memang ini sudah banyak, tapi Miko selalu membawakan semua ini untuk anak-anak. Jadi aku tidak bilang padamu," jawab Nisa.
"Ya setidaknya ada pemberian dariku juga, besok aku bawakan mainan yang lain." Putra seakan tidak ingin kalah dari sosok Miko yang sepertinya memang mencari simpatik dari Nisa.
"Ngomong-ngomong, terima kasih ya kadonya," ucap Nisa.
"Iya, sama-sama."
Nisa membawa sisa mainan ke dalam dibantu juga oleh Putra. Sampai pada akhirnya, Alifa datang sambil berkata. "Sebenarnya kalian itu cocok menjadi sepasang kekasih, sudah kenal sifat masing-masing dari kecil kenapa tidak mencoba? Banyak kok dari sahabat menjadi pasangan, aku dukung malah," celetuk Alifa.
"Alifa, ngomong apa sih kamu?!" sentak Nisa. "Jangan di dengar omongannya memang selalu ngaur," ucap Nisa pada Putra. Ia pun melanjutkan perjalanan menuju gudang untuk meletakan sisa mainan di sana.
Sedangkan Putra malah tersenyum dan mengekor di belakang gadis itu. "Terus goda Kakakmu itu," bisik Putra pada Alifa. Tentu saja itu tidak didengar oleh Nisa.
Alifa mengacungkan ibu jari sebagai jawaban, karena gadis itu yakin kalau sahabat kakaknya itu memiliki rasa pada sang kakak. Terlihat dari cara pria itu menatap dan selalu memberi kejutan seperti hadiah-hadiah. Meski mereka lama tidak bertemu tak membuat Putra acuh.
Setiap tahun selalu ada paket untuk Nisa dari seseorang, bahkan Nisa sendiri tidak tahu siapa pengirimnya. Hanya Alifa yang tahu soal itu karena diam-diam Alifa dan Putra sering berkomunikasi hanya untuk menanyakan kabar Nisa.
"Ini taro di mana?" tanya Putra setibanya di gudang. Ruangan itu sudah mulai sempit karena banyaknya barang-barang di sana. "Ini kalau tidak terpakai bisa disumbangkan lagi pada panti asuhan yang lain, Sa. "
"Iya, sebagian ini sudah diberikan. Dan rencananya besok aku mau pergi ke Bogor untuk menyumbangkan ini semua pada yayasan yang membutuhkan."
Ada mainan, baju-baju dan alat tulis yang baru. Itu semua pemberian Miko, sampai Nisa sendiri bingung kenapa hanya ke panti ini Miko menyumbangkannya? Meski begitu, pesantren yang dikeloloa uwa Nisa sering membagikannya ke yayasan yang lain.
"Ke Bogor? Aku boleh ikut tidak? Mumpung belum sibuk dan masih menikmati masa libur."
__ADS_1
"Boleh, nanti kita berangkat sama-sama."
Nisa tahu apa yang akan dilakukan Putra nanti, menjadi dokter tentu akan pasti sibuk. Ia pun memanfaatkan kebersamaan mereka sebagai sahabat.
***
Hari yang ditunggu pun akhirnya tiba.
Putra sudah berengkat ke pesantren pagi-pagi untuk menjemput Nisa. Namun, sepertinya ia terlambat Nisa sudah berada di sebuah mobil bersama seorang laki-laki, tidak sendiri. Tapi tetap saja Putra tidak suka mereka dekat.
"Sudah mau berangkat ya?" tanya Putra turun dari mobil dan langsung menghampiri Nisa. Ia berdiri di samping pintu mobil.
"Iya, aku sama Miko sama Uwa juga," terang Nisa.
"Wa, Nisa bareng sama aku ya?" tanya Putra, ia meminta izin terlebih dulu.
"Berdua?" tanya uwa Nisa. Uwa Nisa tidak menginzinkan kalau hanya berdua di dalam mobil.
"Ya sudah, tapi terserah Nisa mau atau tidak," ucap Uwa lalu menoleh ke arah Nisa.
"Udah ayo turun," ajak Alifa. "Sama Kak Putra pasti lebih menyenangkan, apa kalian tidak rindu masa-masa kecil dulu? Kita bernostalgia," sambung Alifa.
"Nostalgia? Kayak yang inget aja, kamu itu masih kecil," kata Nisa.
"Inget kok, Kak Nisa sempat dirapikan kerudungnya sama Kak Putra dulu." Alifa tahu itu bukan karena ingatannya, melainkan dari Putra sendiri karena laki-laki itu sering curhat mengenai Nisa.
Putra langsung menoleh ke arah Alifa, ia dibuat malu oleh gadis itu. Sampai-sampai Nisa sendiri langsung menatap wajah Putra. Namun, itu hanya sekilas karena ia tak ingin memandang wajah Putra lebih lama.
"Aku harap kamu tahu isi hatiku, Sa. Tapi ini belum saatnya aku mengungkapkan perasaanku, ada hari di mana aku akan menyatakannya," batin Putra. Ia menunggu hari spesial Nisa, yaitu mengunggu hari ulang tahun gadis itu yang tinggal beberapa minggu lagi.
Tidak lama lagi waktu itu tiba, bahkan ia sudah memberikan kado untuk Nisa. Ia harap dari kado yang diberikan padanya Nisa akan tahu siapa yang selama ini selalu memberikannya hadiah. Bertuliskan 'pengagum rahasia.'
__ADS_1
Akhirnya, Nisa turun dari mobil Miko dan berpindah ke mobil Putra bersama adiknya. Selama diperjalanan, Nisa menikmatinya karena Putra menyetel sebuah lagu kesukaan gadis itu. Sesekali Nisa ikut bernyanyi.
"Kenapa suka dengan lagu ini?" tanya Putra.
"Suka aja, liriknya tuh nyentuh banget."
"Seorang wanita memuja pria tapi tak dapat termiliki karena suatu hal, aku heran saja kamu begitu menyukai lagi ini, apa itu pengalaman dari hidupmu?" tanya Putra.
Sebenarnya ia ingin sekali menanyakan soal ini pada Nisa. Tapi ia tahan karena tidak enak jika menanyakannya lewat telepon, itu bersifat pribadi menurutnya. Putra semakin penasaran dengan hati Nisa, kalau lagu itu benar pengalaman hidupnya siapa laki-laki yang dipuja Nisa? Mungkin kah sosok pengagum rahasia itu sudah memikat hati gadis itu? Jika benar, Nisa tidak akan mengalami seperti yang dilagu itu.
Tentu Putra akan membalas perasaan Nisa padanya. Karena ialah sosok pengagum itu. Putra mulai berpikir positif, ia yakin bukan Miko orang yang dikagumi Nisa. Pasti dirinya, pikir Putra. Sampai ia tersenyum-senyum sendiri saat memikirkannya.
Kebahagiaan menantinya, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi bagaimana kalau bukan dirinya? Mungkin hatinya akan hancur berkeping-keping.
Nisa dan Putra asyik berbincang, sementara Alifa gadis itu malah tidur. Awalnya ia tidak akan ikut, berhubung Putra ikut dan Nisa sudah bersama Miko, mau tak mau Alifa ikut dan berakhir membantu Putra agar kakaknya itu satu mobil dengannya.
"Dugaanlu pasti benar, lagu ini mewakili perasaanmu 'kan?" tanya Putra untuk yang kedua kalinya.
"Sok tau, aku hanya suka aja. Lagunya enak di dengar," elak Nisa. "Dah ah, jangan bahas lagu itu lagi."
Nisa memalingkan wajah, ia menatap jalan yang mulai memasuki kawasan puncak. Udara yang mulai dingin membuat Putra mematikan AC. Dan Nisa membangunkan adiknya itu yang kerjaannya hanya tiduran.
Alifa pun terbangun dan menggeliat. Mereka turun dari mobil, tapi Putra membantu membuka pintu arah Nisa berada. Dan itu dilihat oleh Miko.
"Sepertinya pria itu suka sama Nisa," batin Miko.
_
_
Selagi nunggu aku up, kalian bisa mampir di karya temanku ini ya.
__ADS_1