Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 50


__ADS_3

Hari ini cukup membuat jantung Ramdan hampir copot.


"Mas," panggil Morin.


"Hmm," jawab Ramdan tanpa menoleh.


Lalu, Morin melepaskan pelukkannya dan Ramdan membalikkan tubuh. Saat itu juga istrinya kembali memeluknya.


"Kamu tidak lelah?" tanya Morin yang ada dalam pelukkannya.


"Lumayan, kamu pakai baju nanti masuk angin," ujarnya.


"Kamu tidak tertarik melihatku gitu?" tanya Morin.


Ia pikir suaminya akan mengajaknya tidur dan istirahat sama-sama. Bahkan ia masih belum menggunakan bajunya, karena ia kira suaminya akan langsung mengajaknya bercinta karena sebagian orang yang dinantikan setelah menikah adalah malam istimewanya.


Apa Morin tidak bisa merasakan dekat jantung suaminya yang berpacu cepat seperti habis maraton? Ramdan bukannya tidak tertarik, ia belum ada keberanian untuk menyentuh tubuh istrinya. Ia ingin sekali menyentuh buah kenyal yang sedari tadi menggoda imannya. Apa lagi sekarang buah itu menempel di tubuhnya.


"Mas." Morin menggambar secara abstrak di dada suaminya bahkan sampai turun ke perut.


Oh ... Itu membuat milik Ramdan semakin menegang. Tanpa permisi, akhirnya ia membopong tubuh istrinya ke tempat tidur. Morin senyum-senyum saja saat tubuhnya dibawa ke tempat tidur. Ini yang diinginkannya sejak tadi. Ia ingin menikmati surga dunia yang katanya sangat indah dan memabukkan.


Teman-teman di luar negri sering cerita bahwa katanya rasanya itu enak dan bikin ketagihan. Meski hidupnya di luar bebas tak membuat Morin melepaskan kepe*awanannya begitu saja apa lagi pada pria yang bukan suaminya.

__ADS_1


Morin memeluk suaminya yang kini berada di atas tubuhnya.


"Apa kamu begitu menginginkannya?" tanya Ramdan berbisik di telinga dan itu membuat istrinya merinding disko.


Gadis itu menganggukkan kepala. Jangan salahkan suaminya jika nantinya Morin mengaduh. Gadis itu membangunkan singa yang tengah tidur. Ramdan diam bukan berarti ia tidak bisa apa-apa. Ramdan cukup perkasa untuk menjinakan istrinya.


Perlahan, Ramdan melepas handuk yang dikenakan istrinya. Namun, ia langsung menarik selimut untuk menutupnya kembali. Ia juga melepas pakaiannya sehingga keduanya menjadi polos dan bersembunyi di balik selimut tebal.


Pria itu menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Memperiapkan diri untuk menyentuh dan menatap tubuh istrinya yang polos. Sungguh, ini pertama kali baginya melihat seorang wanita dalam keadaan seperti ini. Tanpa permisi, ia melakukan keberanian untuk mencium bibir ranum istrinya. Menyesapnya dengan dalam dan menikmati permainan yang dipimpin oleh istrinya.


Ia yakin kalau ini bukan yang pertama kali bagi Morin, karena wanita itu cukup pandai bermain lidah. Tapi tak mengapa ia menerima segala kekurangan dan kelebihag wanita itu. Termasuk, jika ini bukan yang pertama ia terima dengan ikhlas dan lapang dada. Hidup sendiri di negri orang, apa lagi di negri yang cukup bebas.


Ciuman semakin panas dan menggila sehingga Morin merubahkan posisi, ia menjadi di atas dan mengungkung suaminya. Sampai pada akhirnya, jiwa hasrat lelaki itu berada dalam puncak yang tak bisa dielakkan. Ramdan membalikkan istrinya dan memimpin permainan.


Sang istri menjambak rambutnya kuat-kuat saat di bawah sana berkedut manja.


"Ah ...," suara itu lolos begitu saja.


Ramdan menyeringai puas saat melihat istrinya lemah tak berdaya. Ia menjeda aktivitasnya memberi ruang untuk istrinya bernapas. Tak berselang lama, Morin pun memeluk seraya mencium leher suaminya.


Akhirnya, Ramdan memposisikan diri, ia siap untuk melakukannya.


"Hentikan jika aku menyakitimu," bisiknya.

__ADS_1


Wanita itu mengangguk disertai jantung yang berdebar. Perlahan tapi pasti, pria itu mulai memasuki area terlarang dengan senjatanya. Tak cukup sekali dorongan untuk menembus benteng itu, bahkan berkali-kali.


"Susah sekali," bisik lelaki itu.


Ini sungguh keberuntungan, yang dikira sang istri sudah tidak perawaan. Namun, nyatanya gadis itu masih menjaga kehormatannya.


"Maafkan aku karena telah mendugamu yang tidak-tidak," batinya.


Beberapa menit kemudian, ia kembali mempersiapkan diri menarik napas dalam-dalam.


Ramdan mendorongnya lagi dan lagi sampai Morin akhirnya meringis dan menahan sakit di bawah sana. Cengkraman yang begitu kuat sehingga mengores kulit bagian punggung suaminya dengan kuku.


"Sakit," lirih wanita itu sambil memejamkan mata. Bohong yang katanya nikmat, yang ada sakit dan sangat perih. Darah pun mulai keluar dan membasahi kulit bagian bawah sana. Lelaki itu tersenyum bangga saat berhasil mencapai kenikmatan yang hakiki itu.


Ia pun mendayunya dengan sangat lembut.


"Tahan ya," bisik suaminya.


Lalu, ia mempercepat temponya sehingga Morin semakin meringis. Sampai pada akhirnya, suaminya mengerang mencapai puncak.


"Terima kasih sudah menjaganya," katanya sembari mencium keningnya.


Karena hari masih sore, tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuknya dan itu membuat Ramdan kalang kabut dan mencabut kapal selamnya.

__ADS_1


__ADS_2