Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 55


__ADS_3

Pagi-pagi buta, Ramdan sudah terbangun. Pria itu sudah berkecimpung di dapur, entah apa yang dilakukan laki-laki itu di sana. Pada saat ia di dapur istrinya pun datang dan langsung memeluknya dari belakang. Ramdan terkejut, bahkan ia tersedak saat minum. Ia langsung meletakkan gelas di meja kompor.


"Hati-hati dong, Mas," ujar Morin, ia melepaskan pelukan lalu melihat sebuah gelas yang airnya terlihat keruh. Bukan teh, bukan juga kopi. Airnya terlihat seperti air comberan.


"Apa yang kamu minum?" tanya Morin penasaran akan cairan itu. Wanita itu meraih gelas, tapi dengan cepat suaminya mengambilnya dan meletakkan di pencucian piring.


"Apa itu?" tanya Morin lagi.


"Bukan apa-apa, oh iya kamu punya janji loh, mumpung masih pagi kita ke kamar ya?" ajak Ramdan.


Apa lagi pagi ini kota Bandung sudah diguyur hujan. Menambah kenikmatan saat bercinta. Ramdan sudah siap, kali ini ia tak boleh kalah oleh istrinya. Pria itu langsung membopong tubuh mungil istrinya ala bridal style. Setibanya di di depan pintu kamar, Ramdan mendorong pintu menggunakan kaki. Lalu menghempaskan tubuh Morin begitu saja, ia siap melepaskan kecebong pagi ini.


Morin sampai beringsut mundur melihat mata suaminya yang penuh dibakar api gejolak.


"Tunggu!" Morin menyetop tubuh suaminya dengan tangan.


"Kenapa? Aku mau nagih janjimu semalam, jangam pura-pura lupa."


"Iya aku ingat, aku akan menepati janjimu. Tapi aku curiga, yang kamu minum tadi pasti ...." Mulut Morin langsung tersumpal oleh mulut suaminya.


Rasanya Ramdan sudah cukup punya tenaga pagi ini. Cuaca di luar semakin berkabut disertai gerimis. Tanpa berlama-lama lagi mereka langsung bercinta untuk kesekian kalinya. Erangan dan suara khas istrinya menggema di ruangan itu, sungguh kenikmatan yang hakiki pagi ini bagi mereka. Sampai pada akhirnya pelepasan dari keduanya tercapai.


Kemerahan di leher masing-masing nampak terlihat, itu saksi betapa ganasnya gaya percintaan mereka. Tanpa sadar itu akan menjadi pusat perhatian bagi siapa pun yang melihat. Namun, kemerahan itu tanpa mereka sadari.


Akhirnya percintaan benar-benar selesai, mereka pun terlelap beberap saat. Karena merasa lapar akhirnya mereka terbangun dan langsung membersihkan diri secara bergantian. Karena jika mandi bersama ujung-ujungnya akan bercinta.


***


"Mas Ramdan ...," teriak Morin.

__ADS_1


Wanita itu terkejut saat mendapati tubuhnya banyak cap kemerahan apa lagi di bagian leher dan buah dadanya. Bahkan ujung dadanya terasa sakit karena suaminya bak bayi yang baru lahir yang kelaparan.


Sontak, Ramdan yang mendengar pun menghampiri. Ia melihat tubuh istrinya yang polos tengah berdiri di depan cermin. Lalu melihat banyak kemerahan di tubuh istrinya itu. Ia juga melihat pantulannya di cermin karena Ramdan pun bertelanjang dada.


Dan mereka saling menatap, Morin melihat tubuh suaminya yang ternyata sama seperti dirinya.


"Apa gaya percintaan kita sebrutal ini?" tanya Morin yang baru sadar. "Gimana kalau ada yang melihat leherku?"


Padahal hari ini ibu mertuanya akan datang bahkan mengajak kakak iparnya. Karena pernikahan mereka mendadak sehingga keluarga Ramdan belum cukup kenal dengan keluarga baru itu.


"Mas, kayaknya aku belum siap bertemu dengan keluargamu dengan keadaanku yang seperti ini." Morin mendekatkan tubuhnya ke cermin melihat bagian leher, tubuhnya yang polos membuat Ramdan menelan saliva.


"Cepatlah mandi jika tidak aku akan melahapmu lagi pagi ini," kata Ramdan. Lagian, keluarganya tidak mungkin berani meledek apa lagi pada istrinya yang ketahui atasannya di kantor.


Morin langsung mendelikkan mata, tubuhnya sudah remuk redam apa lagi dengan percintaannya yang terjadi barusan. Cepat-cepat, Morin berlari ke arah shower. Ia langsung saja mandi di hadapan suaminya tanpa rasa malu.


Tidak ingin terpancing, Ramdan pun keluar. Dan saat itu juga ibu dan kakak-kakaknya datang bahkan mereka sudah ada di dalam karena ibunya memiliki kunci cadangan.


Ramdan pun sama terkejutnya, untung ibunya belum melihat keadaannya, ia langsung kembali ke kamar untuk memakai kaos. Lalu ia kembali.


"Kalian kenapa tidak bilang mau ke sini sekarang?" tanya Ramdan dengan raut wajah merah menahan malu pada kakaknya yang melihat keadaannya.


Sang kakak sendiri malah senyum-senyum sambil geleng-geleng kepala. Adik kecilnya kini sudah dewasa, dan sebentar lagi pasti memiliki momongan.


"Bu, sini deh," panggil kakak perempuan Ramdan.


"Kakak!" protes Ramdan, pria itu tahu apa yang akan dilakukan kakaknya. "Awas saja kalau berani," kata Ramdan lagi yang menduga kakaknya itu akan melapor pada ibunya.


"Apaan sih kamu, orang Kakak panggil ibu karena dia bawa makanan untuk kalian sarapan. Kalian pasti belum makan 'kan? Kalian sibuk di kamar terus sih," kata kakaknya.

__ADS_1


"Ada apa sih, Mas ribut sekali." Morin muncul dalam keadaan memakai handuk, wanita itu pun merasa malu dan kembali ke kamar.


"Ish, kalian ini bener-bener ya," kata kakaknya lagi karena keadaan Morin barusan, kulitnya yang begitu putih sehingga kemerahan itu begitu kontras.


"Jangan berisik deh Kak, kaya yang pernah ngalamin aja." Akhirnya Ramdan masuk ke kamar.


Dan kakaknya menemui ibunya yang ada di dapur tengah menata makanan bawaannya di atas meja.


***


"Mas, kok gak bilang sih kalau kekuargamu sudah datang," kata Morin.


Wanita itu sibuk mencari baju yang sekiranya menutup sampai leher.


"Kamu cari apa sih? Kok diacak-acak gitu kopernya?" tanya Ramdan.


Baju istrinya memang masih ada di dalam koper karena belum sempat menyimpan di lemari.


"Bantu aku cari baju yang bagian lehernya tertutup," kata Morin.


"Punya emang baju model begitu?" Setahu Ramdan model pakaian istrinya tidak ada yang model begitu karena ia tahu cara berpakaian istrinya.


"Harusnya ada, Mas. Aku punya kok baju model begitu." Morin masih sibuk mencari dan akhirnya ketemu, wanita itu langsung saja memakainya dan menyuruh suaminya juga untuk segera mandi.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Ramdan membersihkan diri cukup lima belas menit untuk menyelesaikannya. Dan mereka pun akhirnya menemui ibu dan kakaknya yang sudah ada di dapur. Ramdan dan Morin mencium punggung tangan ibunya.


Ibunya Ramdan tersenyum melihat sang menantu, ia juga menawarkan makanan yang dibawa olehnya. Berbagai macam makanan ditawarkan sampai-sampai Morin bingung mau makan yang mana dulu.


"Bu, istriku tidak makan sebanyak itu," protes Ramdan saat ibunya meletakan beberapa makanan dalam satu piring.

__ADS_1


Bagi ibunya, Morin terbilang kurus. Dan menjadi menantunya harus terlihat sehat dan tidak boleh kurus, pikirnya.


"Mas, tolong aku," batin Morin. Selama ini ia menjaga tubuhnya agar tetap ideal, tapi jika seperti ini bisa-bisa tubuhnya mengembang dengan pesat, batinnya menangis karena takut suaminya nanti berpaling dikarenakan dirinya gendut.


__ADS_2