Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 58


__ADS_3

Akhirnya, Morin tidak mempermasalahkan hati kakak iparnya. Yang terpenting, suami dan ibu mertua baik dan sayang padanya itu sudah lebih cukup. Biar hati yang bersih menjadi cermin bagi kakak iparnya itu.


"Kak, kalau Kakak cape mending istirahat. Aku bisa bantu Ibu," kata Morin. "Belajar masak sama Ibu aku pasti cepet bisa karena Ibu hatinya tulus saat membantu," sindir Morin.


Kakak iparnya terdiam sesaat, sepertinya adik iparnya memang menyindirnya. Sampai pada akhirnya, Rani tak lagi mampu berucap.


"Nanti saja belajarnya, ini lagi kejar waktu," kata ibu mertua.


"Ah, Ibu. Kejar waktu kayak lagi ikut lomba masak aja, aku bantu iris-iris ya, Bu," kata Morin.


Menantu sama mertua pun akhirnya kerja sama untuk menyelesaikan hidangan untuk menyambut keluarga besar. Dan tibalah waktu yang ditunggu-tunggu.


Keluarga Farhan akhirnya sampai bersama ibu Morin, karena wanita itu mampir terlebih dulu pada keponakan karena ketiga anaknya ingin bertemu Putra. Saat tiba di rumah Morin, mereka disambut hangat oleh keluarga Ramdan.


Morin dan suaminya mencium tangan mama Siska. Mama Siska menelisik tubuh anaknya yang sedikit berisi. Itu menandakan bahwa Morin betah tinggal bersama suaminya, mungkin Ramdan selalu memanjakan lidah anaknya hasil masakan suaminya karena Ramdan pintar memasak. Padahal, itu kelakuan ibunya Ramdan.


Mereka semua masuk ke dalam, di dalam mereka menemukan kenyamanan. Dekoran rumahnya membuat siapa pun betah, termasuk mama Siska. Dalam hati ia mengakui kepandaian menantunya, bisa merubah gaya hidup anak gadisnya. Selama menikah, tak pernah ia mendapat kabar buruk apa pun dari Morin.


"Apa kamu bahagia?" tanya mama Siska dengan bisikan di telinga Morin.


"Sangat, Ma. Aku nyaman tinggal sama mereka, hari-hariku lebih menyenangkan," jawab Morin dengan wajah sumringah.


Mama Siska pun tersenyum, ia ikut bahagia jika putrinya bahagia. Pertemuan itu langsung dilanjut makan malam.


"Rumahnya nyaman ya, Mas?" kata Sarah.


"Lebih nyaman rumah kita kok," jawab Farhan.


"Ya jangan bandingkan sama itu dong, Mas."


Jelas lebih nyaman rumah suaminya, tapi bagi Sarah rumah ini cukup nyaman bagi seorang Ramdan, ia tahu laki-laki dari awal berkakier. Karena semasa dulu disaat Ramdan mengejarnya lelaki itu belum punya apa-apa.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih selalu cemburu pada Ramdan? Dia tidak mungkin menaruh hati padaku lagi, Mas!" Akhirnya Sarah sedikit kesal pada suaminya itu.


"Siapa yang cemburu? Kamu lebih pilih aku kok," jawabnya tidak mau kalah.


"Ah, terserah kamu deh."


Jamuan makan malam begitu dinikmati oleh mereka, lagi-lagi Sarah memuji tanpa ada maksud apa-apa.


"Kamu beruntung, Morin. Punya mertua sebaik Ibunya Ramdan," kata Sarah.


Lelaki yang ada di sampingnya yang tak lain adalah suaminya pun melirik ke arah Sarah sekilas. Sarah tahu apa maksud lirikan itu.


"Kita sama-sama punya ibu mertua yang baik, semoga suamimu seperti Mas Farhan ya? Dia jagonya mengurus anak-anak, sepertinya suamimu harus belajar itu darinya," jelas Sarah. Ia terpaksa menyelipkan kata pujian untuk suaminya agar lelaki itu tidak salah tanggap lagi.


"Wah, perlu dicoba tuh," timpal Ramdan.


"Ngomong-ngomong, dalam rangka apa kalian mengajak kami makan malam?" Akhirnya Farhan bersuara bahkan tanpa basa-basi dengan tujuan Ramdan yang menyuruh mereka datang ke rumahnya.


"Sebentar lagi malaikat kecil hadir melengkapi kabehagiaanku," jawab Morin.


"Iya, Mbak. Aku sedang isi," kata Morin.


"Wah ... Selamat ya, Mbak ikut seneng deh. Farah dan Fathan ada teman nih, jadi usia mereka tidak jauh," ujar Sarah.


Mama Siska langsung memeluk putrinya, tidak menyangka ia akan segera memiliki cucu. "Mama ikut seneng ya, sayang. Semoga keluarga kakian selalu diberkahi," kata mama Siska.


Tidak ada lagi keraguannya pada menantunya itu, selama dua bulan ini Ramdan cukup membahagiakan putrinya. Semoga ini tidak hanya sesaat. Ia ingin kebahagiaan itu terus terjaga hingga ajal yang memisahkan seperti dirinya dengan suaminya.


***


Kebahadiaan memang menyelimuti sampai waktu tidak terasa cepat berlalu. Kehamilan Morin pun sudah membesar, hingga hasil USG menyatakan akan kehamilan Morin yang katanya kembar tiga seperti adik-adiknya.

__ADS_1


Kandungan Morin memang cukup besar sehingga ia tidak bisa berkativitas seperti biasa. Dari usia kandungan menginjak lima bulan, perutnya sudah sangat besar seperti sembilan bulan. Dan sekarang persalinan tinggal menghitung hari.


Saat ini, Morin tengah rebahan. Saat menginjak usia kehamilan di sembilan bulan ini ia benar-benar tidak bisa beraktivitas sama sekali. Untuk bangun dari tempat tidur pun dibantu oleh suaminya, sampai ibu mertua dan mama Siska berada di rumah mereka untuk membantu apa pun yang dibutuhkan calon ibu itu.


Terlebih untuk mama Siska yang tahu bagaimana rasanya mengandung anak kembar tiga.


"Ma," lirih Morin yang tak berdaya di tempat tidur.


"Ya, apa sayang?" jawab mama Siska.


"Perutku kok gak enak ya, kaya mau pup. Mules banget," terang Morin.


"Mau ke kamar mandi?" tanya mama Siska.


Morin menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Lalu apa dong?" tanya mama Siska lagi. Soalnya, menuju lahiran masih tunggu satu minggu dari prediksi dokter.


"Kalau pup tadi udah diantar ibu," jawab Morin. "Ma, ini berasa basah di paha, coba Mama lihat," pinta Morin.


Mama Siska pun melihatnya, dan benar saja paha wanita itu sudah basah disertai lendir kemerahan yang seperti darah. Mama Siska tidak menunggu lama lagi, ia langsung menghubungi Ramdan untuk segera pulang.


Sampai pada akhirnya, Morin dilarikan ke rumah sakit terbesar di kota Bandung.


_


_


Mampir di sini juga yuk, aku bawa karya teman.


Napen : Violla

__ADS_1


Judul : Membalas Pengkhianatan



__ADS_2