
Rambut basah menjadi saksi akan percintaan yang baru saja terjadi. Kini, Sarah nampak berdiri di depan cermin. Melihat wajahnya yang begitu berseri, betapa bahagianya ia hari ini. Lalu, ia pun duduk di meja rias. Membuka laci hendak mencari pengering rambut.
"Kok gak ada sih," ucapnya.
"Cari apa?" tanya Farhan.
"Hairdrayer, Mas. Harusnya 'kan ada di laci meja rias," jawab Sarah yang masih sibuk membuka laci satu persatu.
"Berapa tahun kita berpisah? Mama pasti sudah melenyapkan benda itu, lagian mana mungkin aku menggunakan begituan," jawab Farhan.
"Terus gimana dong? Gak mungkin aku keluar dengan rambut basah begini, nanti mereka mengira kita ...," ucap Sarah menggantung.
"Memangnya kenapa kalau mereka berpikir kalau kita sudah begitu? 'kan kita sudah suami istri," jawab Farhan dengan enteng.
"Malu lah, Mas. Baru juga ijab qobul sudah begitu," tutur Sarah dengan wajah cemberut.
"Ya udah, Mas pinjam punya Mama." Farhan hendak keluar, tapi dengan cepat Sarah menghentikannya.
"Jangan, Mas. Tidak usah, aku coba keringkan pake kipas angin aja," cegah Sarah.
"Kan lama kalau pakai itu."
Pinjam mama mertua akan lebih malu, dan wanita itu pasti tahu, pikir Sarah. Terpaksa mengeringkannya dengan kipas angin sambil duduk di meja rias.
Masih mengenakan jubah handuk, tak lama pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
"Ma, Mama ...," teriak Putra.
"Biar aku yang buka," ucap Farhan sambil mengenakan kaos oblong.
Bocah itu baru saja pulang sambil membawa mainan yang dibelikan oleh sang kakek. Dan pintu pun terbuka, Putra berlari menghampiri sang mama.
"Mama ngapain?" tanya Putra. "Abis mandi kok nyalain kipas angin, nanti Mama masuk angin." Tanpa permisi, anak itu mematikan kipas anginnya. "Oh iya, kakek dan nenek nyuruh Mama untuk menemui mereka. Ayo, Ma. cepat pakai baju, Mama."
Sarah menghela napas, rambut saja belum kering tapi udah keduluan sama Putra diajak menemui kedua mertuanya.
__ADS_1
"Hmm, baiklah. Tunggu sebentar, Mama pakai baju dulu."
Untungnya bocah itu tidak banyak bertanya mengenai dirinya yang baru selesai mandi, apa lagi rambut suaminya pun masih nampak basah.
Rambut Sarah panjang dan tebal membuatnya lama untuk kering.
"Lagian, Mama aneh. Biasanya tidak pernah mengeringkan rambut pake kipas biasanya juga nunggu kering sendiri," kata Putra apa adanya karena tadi ia melihat sang mama tengah mengibas-ngibaskan rambut di depan kipas angin.
Bocah itu nampak cerewet, entah turunan dari siapa, pikir Sarah sambil menoleh pada anaknya. Ia sendiri sampai geleng-geleng kepala dan menepuk jidat.
***
Pasrah menemui kedua mertua dengan keadaan rambut basah, pasti mereka berpikir yang tidak-tidak. Apa lagi yang dipikirkan? Setelah resmi menikah lalu mandi dengan rambut basah? Oh, ya Tuhan ...
Mama Amel dan suaminya tersenyum, Sarah dapat melihat walau masih dari kejauhan. Ia dan suaminya menuruni anak tangga bersama dengan Putra.
Sarah dan Farhan ikut mendudukkan diri Mama Amel memberikan sebuah kado pada Sarah, juga dengan papa Permana.
"Ini untukmu," kata mama Amel.
Mama Amel memberikan kado dengan berbentuk sebuah kotak berwarna cokelat berbungkus kertas kado, dan papa Permana dengan bentuk sebuah kertas persegi panjang. Sebuah tiket pesawat untuk mereka pergi bulan madu.
"Tiket," ucap Sarah setelah melihat pemberian dari papa mertua.
"Iya, pergilah bulan madu. Beri kami cucu yang banyak," kata Permana.
Sarah menoleh kepada Farhan, dan lelaki itu mengangguk sambil tersenyum. Pria itu mau-mau saja pergi bulan madu, karena itu yang diharapkan. Pergi berdua tanpa ada yang menganggu, karena ia memang ingin menambah momongan. Teringat dengan pernikahannya yang pertama.
Dua tahun mereka menjalani rumah tangga, Sarah tak kunjung hamil. Dan setelah berpisah baru dinyatakan hamil. Farhan tak akan kendor untuk terus membuahi sel telur istrinya. Karena ia ingin menikmati masa tua dengan banyak anak.
"Bulan madu itu apa, Kek? Apa di sana ada adik?" tanya Putra.
"Iya, nanti Putra tunggu sama Kakek dan Nenek ya kalau Papa sama Mama pergi," jawab Permana.
"Iya, Kek. Asal Mama pulangnya bawa adik, aku mau adik seperti Nisa cantik dan lucu," jawab Putra yang mengingat kecantikkan gadis kecil itu.
__ADS_1
Sarah dan Farhan hanya tersenyum malu, secara tidak langsung kedua mertuanya menyuruhnya untuk melakukannya lagi, padahal baru saja sudah menikmati surga dunia. Tanpa diberi tiket pun Farhan pasti menengok rahim setiap hari untuk ia pupuk.
"Kapan berangkat?" tanya Sarah.
"Besok juga tidak apa-apa," jawab mama Amel. "Kamu tidak usah mikirin Putra dia akan baik-baik saja sama Mama. Tambah momongan sebanyak-banyaknya, punya anak satu itu tidak ada pilihan. Setelah menikah ditinggal pergi terus kesepian." Mama Amel merasakan itu karena ia sendiri memiliki anak satu.
"Kalau gak mau kesepian Mama ajak aja keponakan Mama tinggal di sini, tante Siska anaknya banyak tuh bisa temani masa tua Mama," sahut Farhan.
"Gak ah, anak tante Siska itu pada bar-bar. Pada kuliah juga di luar negri," tolak mama Amel. Keponakannya itu memang susah diatur meski anak perempuan beda dengan didikkannya. Didikkan mama Amel berbeda dengan didikkan Siska. Siska membebaskan anak-anaknya sehingga susah diatur. Dan mama Amel tidak menyukai anak yang pembangkang.
***
Hari sudah mulai larut.
Sarah dan Farhan sudah ada di kamar, juga dengan Putra. Mereka tidur bersama. Sarah pun sudah memejamkan mata dan hampir terlelap ke alam mimpi.
Lain halnya dengan Farhan, ia malah tidak bisa tidur karena gelisah. Ia malah teringat di kamar mandi tadi, dan itu membuat kepemilikkannya menegang sendiri. Lalu menoleh ke arah istrinya, wanita itu malah sudah tertidur. Namun, sepertinya ia tidak bisa menahan keinginannya, bisa sakit kepala kalau tidak tersalurkan.
Tapi ada Putra di sini, bagaimana kalau bocah itu terbangun. Hingga akhirnya ia mendapatkan ide. Di rumah orang tuanya terdapat kamar yang kosong, hingga ia tak menunggu lama. Akhirnya dengan idenya ia membopong tubuh Sarah membawanya ke kamar lain.
Sontak, membuat Sarah terbangun.
"Mas, mau bawa aku ke mana?" tanya Sarah saat Farhan sudah membuka pintu.
"Ke kamar sebelah sebentar doang kok, ada yang ingin aku lakukan di sana," jawabnya terkekeh sendiri.
"Ih, apa yang tadi siang masih kurang?" tanya Sarah.
"Kurang, sayang. Itu kurang lama," jawab Farhan.
Sarah pasrah saja, karena menolak keinginan suami itu dosa besar. Malam ini ia pasrah, terserah apa yang akan dilakukan pria itu.
Tiba di dalam kamar, Farhan melucuti pakaiannya sendiri. Lalu membuka baju istrinya. Ia tak akan mengulur waktu karena takut anaknya terbangun dan mencari keberadaannya.
Dan terjadilah sesuatu di antara mereka malam itu. Saat lagi asyiknya, benar saja anaknya memanggilnya. Sarah dan Farhan cepat-cepat menyelesaikan ritual malamnya meski tidak tahu apa mereka menikmati pelepasannya.
__ADS_1