Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 37


__ADS_3

Entah apa yang mereka bicarakan, waktu beberapa menit pun terasa berjam-jam. Farhan bersandar di mobil dan pandangannya tak terlepas sedetik pun dari mereka. Putra pun terlihat begitu akrab.


Tak lama, mereka kembali.


"Mas, aku titip Putra sebentar. Aku mau masuk ke dalam kalian tunggu saja aku tidak akan lama," pamit Sarah sebelum masuk area pabrik.


Berita tentang Sarah pun mulai beredar, wanita yang kini menjadi salah satu karyawannya adalah manran istri dari pemilik perusahaan garment tersebut. Yang biasanya tak pernah menyapa kini sok dekat pada Sarah. Nanum, Sarah tetaplah Sarah. Wanita ramah dan bersuara lembut, Soal karyawan yang tahu akan dirinya tak membuatnya menjadi angkuh.


Ia terus mengumbar senyum setiap kali ada yang menyapanya. Dan tibalah ia di area kawasan pegangan line-nya.


"Pagi, Bu," sapa salah satu anak line-nya.


"Pagi," jawab Sarah. Karena ini jadwal meeting sehingga semua anak-anak di line peganggannya mulai berkumpul untuk mengadakan meeting, sekalian Sarah berpamitan karena ini hari terakhir Sarah bekerja. Karena suaminya tidak akan membiarkannya bekerja.


Ada yang terharu dengan pembahasaan Sarah karena selama bekerja hanya Sarah supervisior yang baik dan jarang marah-marah meski sedang ada masalah. Hingga akhirnya perpisahan itu membuat karyawan sampai ada yang menitikkan air mata.


"Terima kasih selama ini sudah menjadi tim yang baik, untuk kalian semangat berjuang ya, saya minta maaf kalau ada kata-kata yang menyinggung. Sekali lagi terima kasih sudah membantu saya selama bekerja dan menjadi pengawas kalian," tutur Sarah diakhir meeting.


Seusai meeting, kini Sarah pergi ke ruang HRD, ia memberikan surat pengundaran diri dan ID card serta seragam untuk syarat pengunduran dirinya. Tak lama dari situ ia keluar dan melihat anaknya yang tengah bersama Farhan hendak ke ruangannya.


"Mama," panggil Putra saat melihatnya.


Sarah pun menghampiri, dan Farhan pun tidak jadi ke ruangan karena mereka memang berniat ke Jakarta untuk mengantar Sarah menemui Wita. Ditambah lagi orang tuanya yang menghubunginya yang katanya pernikahan itu lebih baik dilakasanakan di kediaman orang tuanya.


Dan berangkatlah mereka ke Jakarta saat itu juga. Mereka pergi menemui Wita terlebih dulu karena Sarah memang ada urusan, ia berniat memakai kebaya dari butik sahabatnya itu untuk hari bahagianya.


Wita sendiri sampai terkejut saat mendengar kabar bahwa calon pengantin yang tengah memesan baju padanya dinyatakan meninggal dunia. Siapa lagi kalau bukan Celine, dan yang bikin Wita terkejut saat Sarah mengatakan bahwa ia yang akan menikah dengan Farhan.


Namun, Wita ikut bahagia dengan kabar itu. Karena acara pernikahannya dadakan, Wita tak sempat membuatkan kebaya, untungnya ada beberapa kebaya yang baru jadi dan Sarah melihat dan mencoba kebaya itu satu persatu.


Wita juga membantu memilihkan kebaya itu untuk Sarah, tubuhnya yang ramping membuat Sarah memakai kebaya yang mana pun terlihat sangat cantik. Pas Sarah mencobanya, Farhan dan Putra pun menemuinya. Mantan suaminya itu sangat tercengang. Diusianya yang matang membuat Sarah semakin cantik dengan kebaya putih yang dikenakannya.


"Aku suka yang itu," ucap Farhan.


"Mama cantik, tapi kenapa pakai baju pengantin? Mama 'kan sudah menikah, Mama mau nikah sama siapa? Kasian Papa, Ma," ujar Putra.


"Sama Papa dong," jawab Farhan.

__ADS_1


"Kok nikah lagi sih?" tanya Putra dengan polos.


"Iya, dulu 'kan pas nikah belum ada kamu. Sekarang sudah ada Putra jadi Papa dan Mama mau nikah lagi, kita foto bersama," jelas Farhan.


Putra yang tidak begitu mengerti pun hanya manggut-manggut. Ia senang-senang saja dengan kabar itu. Lalu, Farhan menghampiri Sarah yang sedang berdiri di depan cermin. Melingkarkan tangan di pinggang ramping wanita itu.


Sarah nampak malu dan mencoba menghindar. "Biarkan seperti beberapa detik saja, lihatlah kamu sangat cantik," tutur Farhan melihat pantulannya di cermin besar.


"Malu, Mas. Ada Putra," bisik Sarah.


"Kenapa mesti malu? Aku 'kan cuma peluk," kata Farhan yang tak melepaskan pelukkannya.


Putra pun berlari kecil menghampiri orang tuanya, ia ikut memeluk dari depan tubuh Sarah.


"Aku juga mau peluk, Mama," ucap Putra.


"Iya, sayang. Kamu boleh peluk Mama."


***


"Wita besok kamu harus hadir ya, aku gak mau tau," ujar Sarah.


"Iya, Mbak. Insyallah, Mbak tunggu saja. Nanti kabarin aku lagi ya soal tempat ijab qobulnya."


"Iya." Sarah dan Farhan memang belum memutuskan di mana mereka akan melaksanakan hari sakralnya meski keinginan orang tuanya yang ingin di rumah, tapi semua tergantung Sarah.


"Mbak pamit ya," kata Sarah.


"Ya, Mbak. Hati-hati."


Farhan menuntun Putra menuju mobil, tak lupa tangan yang satunya lagi menenteng sebuah paper-bag yang berisikan baju kebaya Sarah untuk hari pernikahannya. Sarah sendiri mengekor dari belakang.


"Kita ke rumah Mama ya," ucap Farhan setibanya di dalam mobil.


Sarah mengangguk dan tersenyum, lalu menoleh ke belakang untuk melihat Putra. "Pakai sabuk pengamannya sayang," kata Sarah pada anaknya.


***

__ADS_1


Tibalah mereka di kediaman orang tua Farhan. Dan ternyata, di sana tengah menyiapkan persiapan untuk hari di mana Farhan akan melakukan ijab qobul. Ini kejutan dari sang mama. Wanita itu ingin anaknya menikah di rumahnya.


Tapi, Farhan sama sekali tidak tahu kalau orang tuanya mempersiapkan ini. Sudah ada meja untuknya ijab qobul nanti. Bahkan sudah di rias sangat cangit. Sarah pun bahagia dengan kejutan ini.


"Mas, aku tidak mimpi 'kan?" Sarah masih tak percaya bahwa ia akan kembali menjadi seorang pengantin.


Putra yang ada di sana mengedarkan pandangan, rumah yang baru saja ia masuki itu sangat besar melebihi rumah yang ia tempati semalam.


"Kakek ....," teriak Putra saat melihat Permana.


"Jagoan Kakek sudah sampai." Lelaki tua itu menggendong Putra.


Tak lama mama Amel muncul. Melihat siapa yang datang akhirnya ia menyapa Sarah.


"Gimana? Kamu suka?" tanya mama Amel.


"Suka, Ma. Terima kasih sudah membantu menyiapkannya," kata Sarah.


***


Hingga akhirnya, tibalah waktunya. Farhan sudah terlihat tampan dengan setelan jasnya. Bahkan ia sudah duduk di kursi bersama penghulu, dan kini tengah menunggu mempelai wanita muncul. Semua kerabat terdekat sudah hadir termasuk bi Ami dan Pandi yang semalam dijemput oleh supir.


Wita pun sudah duduk manis bersama suaminya, tak lupa membawa anaknya yang kini berusia 2 tahun, yang benama Khairu Nisa yang kerap dipanggil Nisa. Yang saat ini tengah bermain bersama Putra.


Tak lama, muncul-lah sosok yang ditunggu-tunggu. Sarah datang dengan sejuta pesona, berjalan dengan sangat anggun di apit oleh kedua mertuanya dan mengantarkannya ke meja ijab qobul akan dilaksanakan.


Farhan sampai tak berkedip saat melihatnya, sungguh cantik wanita itu. Mereka sudah duduk berdampingan. Farhan seratus persen sudah siap.


Dan kini tangannya sudah saling menjabat dengan wali yang akan menikahkannya dengan Sarah Amalia.


"Saudara Farhan, apa Anda sudah siap?" tanya pak penghulu.


"Siap," jawab Farhan lantang.


Akhirnya, dengan satu tarikan napas Farhan berhasil memperistri Sarah Amalia. Sehingga kata SAH itu terdengar oleh mereka.


"Sah ...," ucap yang menjadi saksi di sana.

__ADS_1


__ADS_2