Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 73


__ADS_3

Saat Sarah pingsan saat itu juga keluarga besar datang. Tante Siska dan yang lainnya hadir, begitu juga dengan keluarga dari orang tua Nisa. Semua panik saat melihat Putra menggendong sang mama ke kamar yang terletak di lantai bawah.


Farhan langsung ikut membantu anaknya membopong. Setelah merebahkannya di tempat tidur, baru Farhan mulai bertanya. Fathan sendiri tidak ikut karena masih takut.


"Ada apa ini, Putra? Mana Fathan?" tanya Farhan.


Lalu, Farah datang membawakan minyak angin. Mama Amel mengoleskan minyak angin itu di hidung Sarah agar cepat sadar, dan benar saja beberapa detik kemudian wanita itu siuman.


"Kepalaku pusing," ucap Sarah.


Tidak ada yang menduga semua masalah berasal dari Fathan. Farhan mengira istrinya hamil.


"Kamu lagi isi, yang?" tanya Farhan.


Bukannya menjawab Sarah malah menangis. "Mana Fathan? Suruh dia kemari," titahnya.


"Ada apa sebenarnya ini? Fathan kenapa memangnya?" tanya Farhan.


Tak lama, anaknya itu muncul. Mama Amel yang melihat wajah cucunya langsung menghampiri, ia ikut khawatir dengan luka lebam yang begitu parah. Bahkan sudut bibirnya masih meninggalkan sisa darah.


"Fathan, kamu kenapa nak?" tanya Amel.


"Siapa gadis itu?" tanya Sarah.


Saat pertanyaan Sarah terlontar, semua yang ada di sana ikut bingung.


"Maksudmu?" tanya Farhan.


"Tanya pada anakmu yang satu itu, hanya dia yang bisa menjawab," kata Sarah.


"Tenang, Ma. Mama harus tenang, ini bisa dibicarakan baik-baik 'kan. Kita dengar penjelasan Fathan, mungkin ada sesuatu yang membuatnya seperti ini," sahut Putra


Akhirnya, Fathan menceritakan semuanya. Awalnya ia juga tidak menyangka akan melakukan itu dengan seorang gadis. Berawal dari sebuah pesta yang tengah digelar, Fathan minum sebuah sirup. Karena teman-temannya semua mengejeknya karena yang ia minum hanya minuman biasa, tidak seperti teman-teman yang lainnya yang mengandung alkohol.


Dan sepertinya memang ada yang jahil, setelah minum minumannya, Fathan tidak tahu apa yang dirasakan. Hasratnya tiba-tiba menggebu, dan kebetulan ia memang datang bersama seorang gadis. Gadis yang memang ditaksirnya selama masih SMA.


Fathan tidak tahu kalau gadis itu ternyata hamil. Karena setelah kejadian itu ia tidak bisa menghubungi wanita itu, tahu-tahu semalam ia dicegat beberapa orang yang ternyata kakak dari gadis yang tidur bersamanya.


"Tapi aku tidak berniat kabur, Ma, Pa. Aku coba menghubunginya bahkan menemuinya ke rumahnya tapi tetap saja tidak ketemu. Pas sudah melakukan itu juga dia sudah tidak bersamaku," jelas Fathan.

__ADS_1


Hanya darah kering yang tersisa, dan Fathan yakin itu dari hasil perbuatannya. Dan itu terjadi satu bulan yang lalu.


"Kenapa tidak bilang sejak awal?" tanya Putra.


"Aku takut, Kak. Takut Mama sama Papa tidak percaya," jawab Fathan.


"Ujung-ujungnya buat malu 'kan?!" Sarah nampak marah dan kecewa, meski ia tahu kalau bukan sepenuhnya salah anaknya. Andai anaknya itu mengatakan semuanya sejak awal, mungkin tidak akan terjadi pemukulan terhadap Fathan.


"Kalau begini Papa juga bisa tuntut, enaknya main gebuk anak orang! Siapa suruh wanita itu menghindar? Anakku bukan laki-laki brengseknya!" Akhirnya Farhan ikut marah, tapi bukan marah pada anaknya. Ini semua sudah terjadi, percuma dimarahin. Menurutnya itu tidak menyelesaikan masalah.


"Putra, kita temui gadis itu. Gara-gara dia Fathan jadi babak belur," ajak Farhan.


Farhan langsung pergi bersama anaknya. Sebelum pergi, Putra pamit pada istrinya terlebih dulu.


"Aku pergi sebentar, tidak akan lama kok." pamit Putra sembari mengusap pipi istrinya dengan ibu jari.


"Iya, Mas. Kamu hati-hati."


***


Semua keluarga berkumpul di ruang tamu, si kembar 3C pun tidak menyangka. Apa lagi dengan Chika, gadis itu terus membicarakan Fathan dengan Farah.


"Sudahlah, lagian menurutku masalahnya sebentar lagi beres, om Farhan 'kan lagi ke sana sama kak Putra," timpal Chiko.


"Iya betul," sahut Choki.


Sementara Sarah, ia masih bersama Fathan, anak laki-lakinya itu terus bersimpuh meminta maaf. Fathan menelusupkan wajahnya di paha ibunya karena posisi Sarah tengah duduk di tepi ranjang dengan kaki menjuntai.


"Sudah jangan seperti itu terus, sini Nenek bersihkan lukanya nanti infeksi," kata Amel.


Fathan pun mengangkat wajahnya karena sang nenek menarik tubuhnya.


"Sudahlah, Sarah. Jangan kamu marahin terus anakmu ini, kita nikahkan saja dia. Masalah tidak akan selesai jika terus menangis. Semuanya sudah terjadi, Mama percaya pada cucu Mama ini." kata Amel sambil mengelap darah kering di sudut bibir cucunya itu.


***


Farhan dan Putra baru saja sampai di rumah gadis itu. Rumahnya nampak biasa saja, bahkan jauh dari kata sempurna. Lalu, Farhan dan Putra melihat seorang pria yang mereka yakini orang itu yang sudah memukuli anaknya.


"Aku sudah menghajarnya," ucap lelaki itu pada seorang gadis yang tengah duduk melamun di teras bambu.

__ADS_1


Farhan semakin yakin setelah mendengar ucapan laki-laki itu.


"Apa maksudmu?" tanya gadis itu.


"Itu akibatnya jika kamu diam saja, Kakak tidak peduli," cetus lelaki itu lagi.


Gadis itu bernama Arumi, gadis yang terlahir dari keluarga sederhana. Arumi hanya tinggal bersama kakaknya karena kedua orang tuanya sudah meninggal. Berkat kepintarannya Arumi bisa sekolah di sekolahan elit karena beasiswa.


Gadis itu bukan tidak mau minta tanggung jawab, karena keadaannya yang membuatnya seperti ini, ia merasa tidak pantas bersanding dengan seorang Fathan. Menjalin persahabatan sudah cukup baginya. Ia tidak ingin kakaknya ikut campur urusannya karena ia tahu bagaimana sikap kakaknya itu.


Arumi melihat kepergian kakaknya. Lalu, ia melihat sebuah mobil mewah dan melihat pria berdiri di depan mobil. Arumi langsung saja masuk ke dalam rumah.


Farhan dan Putra cepat-cepat menemui gadis itu.


"Tunggu," kata Putra.


Gadis itu pun berhenti dan menoleh.


"I-iya, Tuan," jawabnya.


"Apa kamu Arumi?" tanya Putra.


Gadis itu mengangguk.


Farhan melihat gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Pantas anaknya jatuh cinta pada gadis itu. Arumi sangat cantik, tubuhnya yang mungil dengan kulitnya yang putih dan rambut panjang hitam bergelombang. Jika dilihat dari fisik tidak ada yang tak menyangka bahwa gadis itu berasal dari keluarga sederhana.


Akhirnya, Putra dan Farhan mengajak gadis itu bicara. Awalnya gadis tidak mengaku, tapi gadis itu malah ...


Hoek ...


Tidak bisa mengelak lagi, Farhan langsung mengajak Arumi.


"Ikut Om ya, kita temui Fathan. Dia akan bertanggung jawab, jangan takut," kata Farhan membujuk gadis itu.


"Iya, untuk kakakmu dia akan menyusul," timpal Putra.


Dan diajak lah Arumi ke rumah Farhan.


Karena semua sudah kumpul tak menunggu lama lagi pernikahan akan digelar hari itu juga.

__ADS_1


Dan Putra mencari kakaknya Arumi karena hanya dia yang bisa menikahkan Fathan dengan gadis itu.


__ADS_2