
Seusai percintaan itu, Sarah dan Farhan menikmati malam di Bali untuk yang pertama kalinya. karena pernikahan pertama, tak sekali pun Farhan mengajak istrinya itu keluar, ia selalu sibuk dengan pekerjaan. Hanya pada waktu malam saja ia bersama istrinya. Tak ada kecurigaan dari diri Sarah akan perasaan suaminya itu.
Namun, sekarang ia sangat bahagia. Setelah membersihkan diri dan menunaikan shalat, Farhan mengajak istrinya makan malam di luar. Lagi-lagi Permana yang menyiapkan semua itu melalui orang suruhannya yang bernama Adi itu.
Kali ini, Sarah mencoba mengingat siapa orang itu.
"Kamu kenapa? Aku perhatikan dari tadi kamu melihat Adi, kamu kenal?" tanya Farhan.
"Lupa, Mas. Tapi aku merasa pernah melihatnya," jawab Sarah. "Adi? Adi siapa ya?" Sarah terus menggali memorinya beberapa tahun silam, hingga akhirnya ia ingat siapa lelaki itu.
"Adi Wijaya, ya?" ucap Sarah pada pria itu yang tengah membantu pelayan meletakkan makanan di atas meja.
Lelaki itu tersenyum, tapi tak menjawab. Takut dengan tatapan lelaki di sebelahnya.
"Bener gak sih, kamu itu Adi Wijaya? Teman sekalasku dulu waktu SMP?" tanya Sarah.
Tak lama, pria itu mengangguk.
"Kenapa diam saja? Kenapa tidak menyapa?" tanyanya sambil menepuk bahu pria itu. Karena dulu mereka satu kelas bahkan duduk satu bangku. Namun, adanya permasalahan keluarga membuat teman sekelasnya itu pindah sekolah dan tak lagi bertemu hingga sekarang.
Farhan hanya diam dan menyimak saja.
"Dia teman sekolahku dulu, Mas," jelas Sarah, ia tak ingin ada salah paham sehingga karena wajah Farhan cemberut melihat keakrabannya dengan lelaki itu.
"Oh," jawab Farhan sekilas.
"Sudah lama di sini?" tanya Sarah lagi.
"Sudah, aku tinggal bersama keluargaku," jawab Adi.
Mendengar kata keluarga membuat Farhan sedikit lega, ternyata lelaki itu sudah menikah, pikirnya.
"Selamat menikmati bulan madunya," ucap Adi. Pria itu mengira Sarah baru menikah, pada kenyataannya itu adalah pernikahan kedua mereka dengan orang yang sama.
"Salam untuk keluargamu, terutama untuk istrimu," kata Sarah sebelum Adi pergi meninggalkan tempat mereka makan malam.
"Sepertinya dulu kalian sempat dekat ya?" tanya Farhan.
"Kamu cemburu?" duga Sarah.
"Tidak, untuk apa cemburu? Cuma aku kok yang ada di hati kamu," jawab Farhan.
"Bohong banget, tadi aja mukanya jutek sebelum tau dia menikah. Tapi aku seneng kalau kamu cemburu, itu artinya kamu takut kehilangan aku."
__ADS_1
Makan malam itu berakhir cukup romantis, kejutan tak terduga diberikan oleh Farhan untuk istrinya. Lelaki itu memberikan sembuah kalung yang begitu cantik, memakaikannya di leher wanita itu. Tidak ada kecurigaan apa pun pada Sarah dengan lelaki itu. Ia ingin hidup dengan damai membesarkan anak-anaknya kelak.
***
Hari begitu terasa cepat berlalu. Akhirnya sudah selesai masa bulan madu mereka selama beberapa hari di Bali. Sarah sudah rindu akan buah cintanya yang ia titipkan pada mertuanya.
Mereka pun kembali di antar oleh Adi ke Bandara. Di situ, Adi baru tahu kalau ternyata temannya itu menikah dengan mantan suaminya yang tak lain adalah rujuk kembali.
"Adi, kapan-kapan main ke Jakarta ya, sekalian kenalkan istri dan anak-anakmu," ucap Sarah sebelum turun dari mobil.
"Iya, Insyallah, Sar. Salam untuk keluargamu juga di sana." Pria itu belum tahu akan kedua orang tua Sarah yang meninggal.
"Mereka sudah tenang di surga." Jawaban Sarah sudah cukup jelas bagi Adi. Pria itu tak lagi berkata apa-apa.
Farhan menuntun istrinya turun dari mobil dan perlahan mulai masuk ke Bandara dan mengilang dari penglihatan Adi Wijaya.
***
Setelah beberapa jam di pesawat, akhirnya mereka sampai di Jakarta. Di jemput oleh sang supir.
"Kita pulang ke rumah mama ya, besok baru pulang ke Bandung," ucap Farhan yang kini sudah berada di dalam mobil menuju rumah kedua orang tuanya.
Sarah hanya mengangguk, ia sangat lelah sehingga ia memejamkan mata untuk tidur sesampainya di rumah.
Putra menunggu di kamar sang nenek, berdiri di depan jendela tanpa sepengetahuan kakek dan neneknya. Saat mendengar suara mobil masuk ke pekarangan rumah, bocah itu langsung keluar kamar.
"Mama ...," panggil Putra dari anak tangga.
Sarah yang mendengar pun langsung melihatnya dan menghampiri bocah itu, memeluknya juga menciumnya dan langsung ia gendong dan membawanya ke kamar.
"Kenapa belum tidur?" tanya Sarah.
"Nunggu Mama sama Papa pulang, mana adiknya? Katanya mau bawa adik pulang setelah dari Bali," tagih Putra.
Sarah menoleh ke arah suaminya, meminta Farhan untuk menjelaskan. Suaminya belum tahu karakter anaknya, jika sudah berjanji maka harus ditepati. Kalau tidak akan terus menagih sebelum mendapatkannya. Itu mengapa ia tak pernah membahas soal Farhan pada anaknya.
"Baru mau otw," jawab Farhan.
"Papa bohong, bilang aja gak mau ajak aku!" Putra merajuk. "Papa gak sayang aku," sambungnya lagi.
"Sayang, gimana nih?" tanya Farhan.
"Bilang aja besok sebelum pulang ke Bandung kamu mau ajak dia ketemu Nisa, pasti gak marah lagi," teriak Sarah dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Nah, dengerkan apa kata Mama?" ujarnya pada Putra. "Besok kita ke rumah Nisa," bujuknya.
"Bener ya ke rumah Nisa," kata Putra.
"Iya, tapi sekarang tidur ya ini sudah malam, Papa sama Mama juga cape mau tidur."
Keesokan paginya.
Putra kembali menagih janji kepada orang tuanya. Ia ingin bertemu dengan Nisa. Karena gadis kecil itulah yang mau menjadi temannya. Tidak memiliki seorang ayah membuat Putra dijauhi oleh teman-temannya semasa dulu.
"Iya, kita ke rumah tante Wita," kata Farhan.
Tibalah waktunya mereka pamit pada mama Amel juga papa Permana. Namun, mereka akan berkunjung terlebih dulu ke rumah Wita sebelum pulang ke Bandung. Putra begitu antusias saat berada dalam perjalanan.
"Putra deket banget ya sama anaknya Wita?" tanya Farhan pada istriny. "Kan mereka jarang bertemu."
"Sering vidio call, Mas. Terakhir ketemu sebulan yang lalu pas Nisa ulang tahun. Waktu itu aku datang ke sana" jawab Sarah.
"Datang ke Jakarta tanpa menemuiku, bahkan kamu membawa Putra? Tidak berpikir untuk mempertemukanku dengannya? Kenapa kamu tegas sekali waktu itu padaku?"
"Masih mau bahas soal itu? Katanya mau buka lembaran baru?"
Farhan menghela napas, ia selalu dihantui rasa bersalah waktu itu.
"Maafkan aku."
Tak terasa, akhirnya mereka tiba di rumah Wita. Kedatangannya disambut si pemilik rumah. Bahkan gadis kecil itu sudah berdiri di samping ibunya. Nisa tahu akan kehadiran Putra. Dan benar saja, Putra dan Nisa langsung bermain sama-sama.
Wita dan Sarah hanya bisa tersenyum melihat persahabatan bocah kecil itu.
"Mbak, aku harap mereka akan menjadi sahabat sampai besar nanti," kata Wita. "Siapa tahu jodoh 'kan? Aku senang kalau mereka berjodoh, aku tahu bagaimana ibunya mendidiknya, tahu bagaimana latar belakang orang tuanya. Jika orang tuanya baik maka anaknya pun pasti baik," terang Wita dengan sebuah pujian.
"Amin, jodoh itu rahasia, Ta," jawab Sarah. "Biarkan anak-anak yang menentukan pilihan," kata Sarah lagi
***
Puas bermain, membuat Sarah tidak susah saat mengajak Putra untuk pulang ke rumah. Apa lagi mereka memang harus pulang karena dalam waktu dekat entah besok atau lusa Putra sudah mulai masuk sekolah.
Akhirnya, Putra dan Nisa pun berpisah.
"Lain kali kamu yang berkunjung ya," kata Sarah sebelum naik ke mobil.
Wita mengangguk dan melambaikan tangan saat mobil mulai melaju.
__ADS_1