Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 72


__ADS_3

Sarah ikut mendudukkan tubuh di kursi meja makan tepat di samping suaminya, sambil merangkul bahu sang suami karena wajah cemberut. Sarah takut membuat suaminya kembali merasa bersalah. Itu salah satu kesalahan terbesar dalam hidup suaminya.


Terkadang, Farhan masih sering merutuk diri karena kesalahan fatalnya itu. Menjadi suami dan ayah yang baik yang ia lakukan saat ini. Membahagiakan keluarga dan mengabulkan semua keinginan istri dan anak-anaknya.


"Aku tidak bermaksud membahas masa lalu, aku hanya tidak menyangka anak kita sudah besar dan sudah menikah," ucap Sarah.


"Iya, aku ngerti maksudmu. Aku tidak apa-apa kok, aku akan terus berusaha menjadi yang terbaik untuk kalian," jawab Farhan.


"Makin sayang." Sarah langsung saja mencium pipi suaminya, bahkan ia tidak sadar akan keberadaan bi Ami di sana.


Apa lagi kejadian itu dilihat oleh sepasang pengantin baru yang baru saja tiba di ruang makan. Sarah merasa malu hingga ia langsung menarik diri dan memposisikan duduknya hingga benar.


"Sini-sini," ucap Sarah pada sepasang pengantin itu.


Nisa berjalan cukup pelan, apa lagi saat tadi menuruni anak tangga.


"Duduk sini, duduk dekat Mama," kata Sarah. "Gimana? Tidurnya nyenyak 'kan?"


Uhuk ... uhuk ...


Putra langsung terbatuk, ia masih sensitif jika ditanyai soal semalam. Pertanyaan itu seakan mengintrogasi.


"Ya pasti nyenyak dong, Ma. Kamarku 'kan nyaman," jawab Putra.


"Papa ada hadiah untuk kalian." Farhan mengeluarkan dua lembar tiket, lalu menyodorkannya pada anaknya. "Itu untuk kalian bulan madu," sambungnya.

__ADS_1


Putra langsung melihat ke arah istrinya. Dan memberikan senyum termanisnya.


Tak lama, muncullah sosok si bungsu. Gadis itu sudah siap untuk pergi hari ini. padahal ini hari libur, tentu menjadi pertanyaan bagi orang tuanya.


"Mau kemana?" tanya Sarah.


"Pergi," jawab Farah.


"Kemana?" tanya Farhan.


"Ya kemana lagi kalau bukan ke rumah si kembar 3C," jawab Farah.


3C itu adalah singkatan anak-anak Morin dan Ramdan, yang terdiri dari 'Chiko, Chiky dan Chika', merekalah teman dekat Farah selain teman kampusnya. Dan cerianya hari ini mereka ada kejutan untuk sepasang pengantin baru itu. Farah dan 3C sudah membooking tempat yang cukup bagus untuk Putra dan Nisa. Farah rasa itu cocok untuk bulan madu, ia tidak ingin kakaknya pergi honeymoon ke luar negri seperti yang disarankan oleh orang tuanya.


Tidak usah jauh-jauh pergi, Indonesia masih dikenal dengan keindahan alamnya. Salah satunya puncak, itu tempat paling cocok untuk di jadikan honeymoon.


"Ngapain ke rumah mereka, orang mereka mau kesini kok," kata Sarah.


"Oh ya, okelah. Aku tunggu mereka datang," imbuh Farah. "Oh iya, Fathan mana?" tanya Farah kemudian.


Belum Sarah menjawab, kakaknya itu baru saja pulang. Bukannya menyapa, Fathan malah langsung pergi ke kamarnya. Laki-laki itu berjalan dengan tergesa sambil menundukkan wajahnya.


"Nah, itu dia orangnya. Fathan," panggil Farah.


Fathan tidak menggubris lelaki itu nyelonong begitu saja.

__ADS_1


Semua yang ada di ruang makan menatap kepergian Fathan. Putra pun akhirnya beranjak, ia rasa ada yang tidak beres dengan adiknya yang satu itu. Tidak biasanya Fathan seperti itu.


"Biar aku temui dia," kata Putra. "Aku tinggal sebentar ya," ucapnya pada Nisa.


Nisa pun mengangguk karena mengerti.


"Aku susulnya deh." Sarah pun akhirnya ikut tanpa diketahui oleh Putra.


Tiba di depan pintu kamar anaknya, Putra sudah lebih dulu masuk. Dan pintu tidak tertutup dengan sempurna. Tubuh Sarah terasa lemas saat tahu kondisi anaknya. Ia melihat wajah Fathan cukup lebam, tapi entah apa yang terjadi. Yang ia dengar saat itu Putra tengah mendesak Fathan kenapa wajahnya lebam.


Lebam karena diakibatkan luka tonjokkan.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Putra kembali. "Jawab, apa kamu melakukan sesuatu sampai orang-orang memukulmu, hah?"


Fathan masih tetap bungkam, ia tidak berani bersuara apa lagi menatap wajah kakaknya itu. Yang bikin penasaran bagi Putra, selama ini adiknya cukup diam dan tidak banyak tingkah. Ia juga adik satu-satunya yang paling nurut.


"Apa kamu masih tetap ingin diam, hah?!" desak Putra.


"Maafkan aku, Kak. Aku sudah buat malu keluarga," kata Fathan sambil bersujud di kaki kakaknya itu.


Sementara Sarah masih berdiri di ambang pintu, ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena kalau sampai ia masuk, ia pasti sudah tahu kalau Fathan tidak akan terbuka padanya. Anak laki-lakinya yang satu itu akan lebih terbuka pada kakaknya.


Saat itu juga, Sarah jatuh pingsan saat Fathan mengakui kesalahannya.


Brukkk ...

__ADS_1


Putra dan Fathan langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Mama ...," teriak Putra.


__ADS_2