
Karena hari sudah mulai sore, Ramdan dan Morin akhirnya pamit pulang. Ramdan mengajak istrinya pulang ke rumahnya, karena ia sendiri tinggal sendiri.
"Om, lain kali main lagi ke sini ya," kata Putra pada Ramdan.
"Iya, nanti Om main lagi ke sini," jawab lelaki itu.
"Tunggu sampai Tante punya dede bayi ya," timpal Morin.
Farhan yang mendengar itu langsung menjitak kepala wanita itu.
"Ih, sakit Mas!" cetus Morin.
Mereka sudah seperti kakak adik jika sudah bertemu. Namun, meski seperti itu mereka sangat dekat walau jarang bertemu dan mereka juga saling menyayangi.
"Mas, kok kamu gitu sih. Kasian 'kan Morin," kata Sarah.
"Mas Farhan emang nyebelin, awas aja nanti kalau menghubungiku aku tidak akan mengangkatnya. Aku juga tidak akan kerja seminggu ini," kata Morin.
"Iya karena kalian ambil cuti 'kan? Kamu pikir Mas tidak tau, hah?" ujar Farhan.
Farhan dan Morin sering berlaku seperti ini. Kekonyolan dari keduanya membuat yang melihat ikut jengkel.
"Sudah sana pulang, dan beri kami kabar bahagia secepatnya," kata Farhan kemudian.
"Iya, sekalinya punya momongan langsung tiga," ujar Morin, karena memang ada keturunan membuat Morin ada harapan.
"Ish, kalau ngomong itu dijaga," kata Ramdan. Bukannya tidak ingin punya anak kembar, pria itu gimana sedikasihnya saja oleh maha sang pencipta.
__ADS_1
Akhirnya perdebatan itu berakhir. Morin dan Ramdan sudah undur diri, begitu pun dengan mama Amel dan papa Permana. Mereka putuskan untuk pulang juga karena mereka cukup lama bermalam di rumah anaknya. Apa lagi Permana pun punya kesibukan dengan bisnisnya.
Sarah dan Farhan pun mengizinkan orang tuanya pulang ke Jakarta. Kini, rumah sedikit tenang setelah kepergian si kembar adik-adiknya Morin. Putra tidak ada teman sehingga anak itu menghabiskan masa liburnya dengan menonton tv, kedua adiknya masih bayi dan belum bisa diajak bermain. Bahkan si kembar tengah tidur di kamar ditemani oleh baby sitter.
Sarah dan suaminya menemani anak sulungnya. Tak lama, bi Ami datang membawakan cemilan kesukaan Farhan dan Putra. Pisang goreng hangat lebih enek disantap dalam keadaan cuaca seperti ini, sore-sore dan di luar pun gerimis.
"Ma, Mama mau tidak?" tawar Putra.
Sarah menggelengkan kepala sebagai jawaban karena ia tidak terlalu suka yang manis-manis.
"Mama gak doyan manis," sahut Farhan. "Karena Mama sudah manis," sambungnya kemudian.
"Gombal, sejak kapan kamu pintar ngegombal Mas?" tanya Sarah.
"Sejak hari ini," jawab suaminya.
Bi Ami yang ikut bergabung pun tertawa. Bocah itu mulai cerewet persis papanya sewaktu kecil. Bi Ami ikut bahagia karena keluarga kecil mereka kembali bersatu, dan sepertinya bukan keluarga kecil lagi. Tidak lama lagi akan menjadi sebuah keluarga besar karena adanya si kembar.
Semoga, bi Ami bisa ikut berkumpul sampai ketiga anak itu dewasa. Sarah menyandarkan kepala di bahu wanita tua itu, bi Ami pengganti orang tuanya. Sarah sudah tidak segan lagi kepada wanita itu. Ia beruntung bisa mengenal sosok bi Ami.
Farhan pun tersenyum saat melihat keakraban kedua wanita itu. Ia juga sangat berterima kasih karena bi Ami sudah membimbing Sarah menjadi wanita mandiri. Lagi-lagi ia teringat dengan perbuatannya. Farhan beranjak dan mendudukkan diri di samping istrinya, ia memeluk kedua wanita itu dengan sayang.
"Kok aku gak diajak?" kata Putra yang masih duduk di bawah lantai beralaskan bahan bulu-bulu.
"Sini, Nenek aja yang peluk," sahut bi Ami.
Begitu lengkap kebahagiaan Sarah, perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Kehadiran Putra menyatukan hati yang dulu sempat terpisah.
__ADS_1
Tak terasa waktu terus berputar, sudah waktunya mereka beristirahat. Sarah pun sudah mengantuk apa lagi si kembar cukup anteng hari ini. Putra sendiri sudah ke kamar diantar oleh bi Ami.
Dan Sarah pun sudah berada di kamar bersama suaminya. Si kembar berada di ranjangnya tengah tertidur dengan lelap. Itu membuat Sarah bisa tidur dengan cepat. Namun, disaat Sarah tidur dengan lelap tapi pria di sampingnya malah tidak bisa tidur. Ia menahan gejolak yang entah kenapa tiba-tiba saja rindu dengan tubuh istrinya. Tapi sayangnya ia masih harus berpuasa, istrinya baru selesai masa nipas. Apa lagi dengan sesar seperti ini membuatnya tidak mungkin langsung melakukannya meski sudah melewati empat puluh hari.
Sebagai suami yang baik, ia juga harus menjaga tubuh istrinya agar selalu vit dan beristirahat yang cukup. Terkadang ia sering terbangun di malam hari karena membuatkan susu tambahan untuk si kembar. Dan malam ini Farhan harus menahan kesabaran itu. Sabar menunggu sampai istrinya siap dijamah kembali. Tidak ingin pikirannya ke mana-mana, ia pun beranjak untuk melihat anak-anaknya di tempat tidurnya.
Sedangkan di tempat lain.
Pengantin baru itu tengah menghabiskan malam-malam indah bersama. Entah sejak kapan pertempuran itu terjadi, Morin tidak menyangka bahwa suaminya begitu pandai membuatnya merasakan nikmat surga dunia.
Karena tidak ada yang mengganggu, mereka pun bercinta di ruang tamu sambil menonton tv. Sofa yang ditempatinya menjadi saksi bisu percintaan mereka. Tidak ada lagi rasa nyeri, Morin malah ketagihan begitu pun dengan Ramdan.
Mereka ingin segera memiliki momongan seperti Sarah dan Farhan. Setelah hadirnya buah cinta mereka mungkin rumah yang di tempatinya akan terasa hangat.
Ramdan menjeda aktivitasnya, ia dan istrinya sudah merasa lelah. Bahkan seluruh tubuh sudah basah karena keringat.
"Mas, aku cape ah. Kita tidur ya, besok pagi aja lanjutnya," kata Morin.
"Yakin mau lanjut? Sepertinya kaki ku terasa mau copot, lutut sudah gemetar," ujar Ramdan.
"Baru juga berapa ronde sudah loyo," ledek istrinya.
"Kamu enak, aku yang cape. Kalau mau giliran dong, kamu yang memimpin permainan jangan cuma melebarkan paha doang," kata Ramdan.
Morin tertawa, karena sedari tadi suaminya yang bekerja. Ia sendiri hanya menikmati permainan suaminya.
"Oke deh, besok aku yang main. Sekarang aku ngantuk mau tidur." Tanpa menunggu jawaban Morin memejamkan mata dan menarik selimut.
__ADS_1
Ramdan pun ikut tidur, ia tidur dalam keadaan memeluk istrinya sambil memainkan ujung dada istrinya sampai tertidur dengan sendirinya. Ia juga akan menagih janji istrinya nanti pagi.