
Akhirnya, setelah satu minggu berada di rumah sakit, Morin dan ketiga bayinya diizinkan pulang. Diam-diam, Ramdan menyiapkan kamar istimewa untuk ketiga anaknya. Sang istri nampak begitu bahagia dengan kejutan itu, ia semakin sayang dan cinta pada suaminya yang begitu perhatian.
Kebahagiaan mereka tak luput dari pandangan Sarah, ia yang berada di sana pun menyandarkan kepala di bahu suaminya, bibirnya terus tersenyum betapa serasinya pasangan itu. Morin yang bar-bar kian berubah menjadi istri yang penurut pada suami, begitu pun lelaki itu. Kesabarannya menjadikan sang istri bahagia.
Karena Morin dan ketiga bayinya sudah beristirahat, Sarah dan suaminya pun undur diri.
"Ram, saya pamit pulang," kata Farhan.
"Tidak ngopi santai dulu, Pak?" tawar Ramdan.
"Lain kali saja," jawab Farhan.
"Iya, kalian istirahat saja," timpal Sarah.
Mereka pun pamit pada keluarga yang lainnya, termasuk pada tante Siska.
"Tante, kami pamit ya?" kata Sarah.
"Iya, nanti main kemari ajak si kembar," jawab tante Siska.
Sarah hanya tersenyum manis sambil mengangguk.
***
Dan mereka pum sampai di rumah.
Kala itu Putra tidak ikut karena anak itu sedikit kurang enak badan, kepulangan mereka disambut si kembar yang begitu antusias. Mereka berlari-lari menghamburkan tubuhnya di pangkuan Sarah karena wanita itu merentangkan tangan menyambut kedua anaknya, yang terkadang sering berebut dan berakhir dengan tangisan.
Sarah tidak bisa membayangkan menjadi Morin, anaknya kembar 3. Ia pun sebenarnya hampir persis dengan wanita itu, meski Putra sudah besar terkadang suka cemberut karena merasa diabaikan. Padahal, Sarah dan Farhan sama menyayangi anak sulungnya itu.
"Ma-ma-ma ..." Si kembar tengah pintar mengoceh karena usianya kini satu tahun lebih.
"Iya, sayang. Mau mimi cucu ya?" tanya Sarah.
Farhan yang mengerti pun membawa salah satu anaknya agar Sarah bisa bergantian menyusui si kembar. Ini yang membuatnya semakin salut pada sang istri, Sarah begitu sabar menghadapi ketiga anaknya yang terkadang ada maunya. Apa lagi jika si kembar sudah rewel, ia tak bisa membayangkan.
Sarah tidak pernah mengeluh dengan sikap-sikap anaknya yang berbeda-beda apa lagi pada saat ada maunya. Setelah Fathan selesai menyusui, kini giliran Farah. Menyusui anak dua membuat Sarah sering lapar, Farhan yang mengerti langsung mengambilkan makanan untuk istrinya. Ia menyuapi istrinya makan sementara Sarah tengah menyusui Farah.
__ADS_1
Akhirnya kedua anaknya tertidur setelah menyusui, mereka tidur ruang keluarga yang terdapat televisi besar di sana. Si kembar tergeletak di lantai yang beralaskan kain lembut dan tebal seperti bulu-bulu, kini giliran Putra yang ia perhatikan karena anak sulungnya tengah sakit. Putra tiduran di sofa empuk sambil menonton tv.
Sarah membelai dan mencium anak sulungnya.
"Makan dulu ya, terus minum obat biar cepet sembuh besokkan sekolah," bujuk Sarah.
Putra bukannya mengiyakan, bocah itu malah duduk di pangkuan sang mama. Sebenarnya anak itu ingin mengeluh dengan rasa sakit yang dialami, kepalanya sedikit cenut-cenut akibat kurang sehat.
"Jagoan Mama kenapa hmm? Apanya yang sakit biar Mama obati?" Meski sudah sibuk mengurus si kembar tak membuat Sarah acuh pada anak yang satu ini, ia tak membeda-bedakan anak-anaknya.
Tak lama, Farhan pun datang sambil membawa sebuah mangkuk yang berisikan bubur. Bubur yang telah dibuat oleh bi Ami.
"Sayang, mending kamu mandi dulu, biar alu yang suapi jagoan Papa yang satu ini," kata Farhan. Ia meletakkan bubur di atas meja lalu meraih tubuh si sulung.
"Jagoan Papa makan dulu ya, biar cepet sembuh," bujuk Farhan.
"Gak enak, Pa. Pahit," keluh Putra.
Fisik Putra memang sedikit lemah, ia gampang sakit karena sejak kecil pun sudah sering sakit. Apa lagi itu yang selalu dikhawatirkan Sarah karena kejadian di mana anaknya itu dirawat cukup lama di rumah sakit.
"Sama Papa saja," jawab Putra. Anak itu cukup pengertian karena ia tahu mamanya pasti cape mengurus si kembar di tambah lagi harus mengurusnya.
"Bener mau sama Papa aja?" tanya Sarah kembali meyakinkan, ia tahu bagaimana anaknya itu. Putra jarang mengeluarkan apa yang diinginkannya, itu yang membuat Sarah bangga pada Putra. Hidup dalam masa sulit sewaktu dulu membuat anak sulungnya tidak manja meski tengah sakit seperti ini. Putra selalu memendam apa yang diinginkannya.
"Mas, aku mandi dulu kalau begitu. Suapi Putra sampai dia mau minum obat," kata Sarah.
"Iya, sayang," jawab Farhan.
***
Farhan berhasil menyuapi Putra makan, bahkan makanannya sampai habis dan sudah minum obat juga. Kini, Putra tengah tidur di sofa. Karena ketiga anaknya tidur ia menyusul istrinya ke kamar. Di dalam kamar, Sarah baru selesai mandi dan tengah menyisir rambut sambil duduk menghadapat cermin.
Farhan menghampiri dan mengambil alih sisir itu, ia membantu istrinya menyisir rambut istrinya.
"Kok rontok sih, Yang?" tanya Farhan.
"Kemana saja selama ini? Aku sering bilang rambutku rontok, apa lagi setelah melahirkan begini. Makanya aku kemarin minta izin potong rambut tapi kata kamu gak boleh."
__ADS_1
"Emang harus dipotong gitu? Gak ada obatnya emang?"
"Ada, tapi gak ampuh. Potong rambut boleh ya?" tanya Sarah.
"Tapi jangan dibuat pendek, segini saja." Farhan meletakkan tangannya pas tali bra di belakang.
"Oke, aku potong segitu. Sekalian, besok ada Wita yang mau kesini. Aku mau suruh bi Nani menyiapkan makanan, terus aku minta uang lebih buat belanja sapur," pintanya kemudian Sarah.
"Oke, aku kirim sekarang juga." Setelah itu Farhan mencium bahu istrinya sebelum pergi.
"Oh iya, anak-anak masih tidur 'kan?" tanya Sarah.
"Iya, Putra juga tengah tidur," jawab Farhan di ambang pintu.
***
Keesokan paginya.
Tamu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Wita datang bersama kedua anaknya. Anaknya perempuan semua. Yang besar berusia 6 tahun, beda 2 tahun dengan Putra. Dan yang kecil kini beruisa tak jauh dari anak Sarah yang kembar.
Cukup lama mereka tidak bertemu, terakhir bertemu pas Sarah melahirkan. Mereka sibuk dengan mengurus keluarga masing-masing, meski begitu tak membuat mereka jauh. Mereka sering vidio call.
Saat tiba di sana, anak gadis Wita menanyakan Putra.
"Mama kembar, di mana Putra?" tanya Nisa. Gadis kecil itu memanggil Sarah dengan sebutan mama kembar karena adanya Farah dan Fathan.
"Jagoan Mama lagi sakit, temani Putra di dalam gih," jawab Sarah sambil menyurih Nisa masuk.
Gadis kecil itu pun masuk dan menemui Putra yang masih tiduran di kamarnya. Kedatangan Nisa membuat Putra terbangun. Bocah berusia 8 tahun itu tak menunjukkan sakitnya. Ia malah senang dengan kedatangan gadis kecil nan cantik itu.
"Katanya kamu sakit, kamu gak sakit juga?" kata Nisa.
Gadis kecil itu menyentuh kening Putra dan Putra hanya tersenyum.
"Kata siapa aku sakit? Aku sehat begini kok," jawab Putra.
Dan kejadian itu dilihat oleh Farhan, pria itu sampai geleng-geleng kepala. Gengsi anaknya persis dirinya.
__ADS_1