Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 90


__ADS_3

Sarah menangis setelah Farah resmi dipersunting tuan Akio. Rasanya baru kemarin ia melahirkan anak-anaknya, dalam jangka waktu yang berdekatan anak-anaknya kini telah menikah. Memiliki cerita hidup masing-masing hingga sampai di pernikahan mereka.


Pernikahan yang terbilang cukup mendadak bagi ketiganya, meski begitu Sarah bahagia karena merasa lega. Tanggung jawab sebagai orang terlepas karena anak-anaknya telah mendapatkan kehidupan baru yang akan dijalaninya kelak.


Farah tengah mencium punggung tangan sang suami. Setelah itu mereka menyematkan cincin di jari masing-masing. Setelahnya mereka sungkeman kepada orang tua. Tak ada satu pun yang tidak menangis. Putra yang tak pernah menangis pun kini menitikkan air mata. Putri bungsunya telah termiliki oleh lelaki seorang duda beranak satu. Meski begitu ia menerima apa adanya menantunya itu.


Kedua kakak Farah ikut bahagia, si bontot telah melepas masa lajangnya. Mereka berharap adik rusuhnya itu mengarungi bahtera rumah tangga sakinah dan warahmah. Dapat menjadi istri yang baik, dapat merubah sikap bar-bar dan nurut apa kata suami.


Setelah sungkeman kepada orang tua, Farah mencium tangan kedua kakaknya.


"Ternyata kamu sudah besar, Kakak ikut bahagia. Jadilah istri yang baik, kamu bisa cari pengalaman sama Kak Nisa," tutur Putra.


Percakapan itu diakhiri oleh sebuah pelukkan. Lain halnya dengan Fathan, lelaki itu malah menepuk kening adiknya. Tidak menyangka bahwa adiknya cepat menyusul menikah.


"Jadi istri yang baik, jangan berulah karena statusmu sekarang beda," pesan Fathan.


"Ish... Kayak yang udah bener aja," cetus Farah.


Terakhir, Farah menghampiri gadis kecil yang menjadi anak sambungnya. Ia berjanji akan menjadi ibu yang baik, meski tidak ada pengalaman. Namun, ia akan tetap belajar dari sang mama. Patut menjadi contoh saat mamanya mendidik dan mengasuhnya.

__ADS_1


***


Setelah resmi menjadinya, tuan Akio langsung membawa Farah ke kediamannya yang ternyata sudah selesai dironavasi. Tidak ada satu pun yang tahu bahwa rumah itu ternyata bersebelahan dengan rumah Putra. Saat mengantar Farah ke rumah suaminya. Putra dan Nisa merasa tidak asing saat dalam perjalanan.


Tak lama, mereka pun tertawa saat sampai di rumah tuan Akio. Lelaki itu sampai bingung karena tidak ada yang lucu. Tuan Akio mengira mereka menertawakannya karena cara berjalannya mengangkang menahan sesuatu yang tergesek di bawah sana. Meski sudah mengering tapi lelaki itu masih merasa takut juniornya kenapa-kenapa.


Beharapnya saat hari H itu sudah sembuh total, nyatanya belum. Terpaksa harus menunda malam keramat nya. Padahal, ia sudah lama berpuasa. Setahun lebih ia tak menyentuh seorang wanita.


"Dunia sempit ya," ucap Putra. Lelaki itu menyeringai ke arah adiknya.


Sedangkan Farah mengerucutkan bibir karena yang menjadi tetangganya adalah kakaknya sendiri. Emang sudah dasarnya menjadi pantauan keluarga, Farah tidak bisa berjauhan dari saudara-saudaranya itu.


***


Akhirnya, keluarga besar pamit. Hanya meninggalkan Nisa dan Putra di sana. Mereka masih melihat-lihat rumah tuan Akio. Lalu melihat ke arah rumahnya yang ada di samping.


Nisa melihat bocah berusia 3 tahun itu. Rumah sebesar ini akan terasa hangat adanya seorang anak. Sampai-sampai ia larut dalam lamunan. Kapan bisa hamil? pikirnya. Sementara sekarang saja lagi datang bulan.


"Jangan melamun, apa mau pulang sekarang?" tanya suaminya. "Perutmu masih sakit?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Tidak, 'kan sudah minum obat yang kamu berikan tadi pagi." Disaat datang bulan Nisa pasti kesakitan, beruntung, setelah menikah rasa nyeri saat hed berkurang karena suaminya adalah seorang dokter.


"Ya udah, kita pulang sekarang," ajak Putra.


***


Malam pun tiba.


Farah tengah menyisir rambut, ia baru saja selesai mandi. Sementara suaminya tengah menidurkan anaknya yang bernama Shensen di kamar sebelah.


Tak lama, Akio muncul di saat Farah tengah bersandar di sandaran ranjang sambil memainkan ponselnya. Ia membaca deretan banyaknya pesan yang masuk, mengucapkan kata selamat atas pernikahannya. Kedatangan sang suami membuat Farah meletakkan ponsel di atas meja lampu kamar.


Jantungnya sudah berpacu, karena Farah sendiri belum siap jika suaminya meminta haknya malam ini, setidak tunggu hari esok.


"Sudah malam, tidur yuk," ajak Akio.


"Gak itu 'kan?" tanya Farah.


"Gak, belum sembuh," bisik Akio disertai rasa malu.

__ADS_1


__ADS_2