Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 44


__ADS_3

Tanpa terasa bulan berganti, kehamilan Sarah kini menginjak 4 bulan itu artinya hari yang ditunggu-tunggu Farhan tiba. Ia sudah tidak sabar dengan hasil USG bulan ini. Yang di mana kata dokter akan terlihat janin si jabang bayi.


Tubuh Sarah pun sudah mulai berisi, ia lahap meski tengah ngidam. Karena yang ngidam kali ini adalah suaminya. Beberapa bulan, Farhan sering mual bahkan sering tidak ke kantor karena pusing melanda dan hari ini ia menguatkan diri untuk ikut ke rumah sakit.


Terpaksa ia juga meminta bantuan tante Siska untuk menggantikan posisi Farhan di pabrik. Anak tante Siska yang bernama Morin berkecimpung di pabrik garment karena ia memang mengambil jurusan desainer. Tentu, itu membuat Farhan yakin bahwa Morin bisa memimpin perusahaannya.


Dan hari ini, Sarah membantu suaminya memakai masker. Pria itu tidak suka dengan wewangian. Jika mencium aroma parfum pasti langsung muntah.


"Berat juga ya jadi wanita," ucap Farhan.


"Tidak juga, dulu juga aku ngidam. Tapi gak separah ini sih, Mas. Kasian banget kamu," ledek Sarah.


"Terus aja ledek sampai puas," kesal Farhan.


Sarah tergelak karena keadaan suaminya yang memprihatinkan. Namun, ia tak tega saat melihatnya. Ia tetap bersama suaminya dalam keadaan susah mau pun senang.


"Kamu serius mau ikut, Mas?" tanya Sarah.


"Ikut dong, Mas sudah baikkan kok. Kata dokter masa ngidam akan berangsur membaik setelah usia kandunganmu 12 minggu," jawab Farhan. "Tapi aku masih belum bisa menerima aroma parfum," katanya lagi.


"Sabar ya, nanti juga sembuh."


***


Dan mereka pun berangkat ke rumah sakit selagi Putra sekolah yang diantar oleh bi Ami. Setibanya di rumah sakit, Sarah langsung masuk ke ruangan dokter karena ia memang sudah membuat janji terlebih dulu jadi ia tak ikut mengantri dengan ibu hamil yang lainnya.


Farhan sudah tidak sabar sampai-sampai ia duduk paling depan dekat layar monitor. Sarah sampai geleng-geleng kepala saat melihatnya.


"Maafkan suami saya, Dok. Dia pengen sekali anaknya kembar," ujar Sarah.


"Iya, gak apa-apa. Itu artinya Pak Farhan sangat mengharapkan kehadiran anak keduanya," jawab dokter.


Sarah mulai merebahkan tubuhnya dan dibantu oleh suster, memberikan gel di perut dan alat USG mulai mengitari perut yang sudah mulai membuncit itu.


"Pak Farhan bisa liat?" tanya dokter sambil mengarahkan tangannya ke layar. "Sepertinya doa kalian terkabul, di sini ada dua janin yang terlihat. Sepertinya calon anaknya memang kembar, wah ... Selamat ya, bu Sarah," ucap dokter.

__ADS_1


Farhan yang bahagia dengan kabar ini langsung menghampiri istrinya, masker yang tengah dikenakannya pun dibuka. Ia memeluk dan mencium istrinya di hadapan dokter tanpa ada rasa malu sama sekali. Sarah sendiri sampai merasa risih.


"Mas, malu dilihat dokter," kata Sarah sambil tersenyum miris memperlihatkan gigi putihnya pada dokter kandungan itu.


"Biarin, kita suami istri Dokter pasti memakluminya ya 'kan, Dok? Dokter juga pasti begini sama pasangannya 'kan?"


"Mas, Dokternya belum menikah," bisik Sarah.


Farhan langsung menarik diri dan melepaskan pelukkannya. Ia menjadi canggung karena ia mengira dokter itu sudah menikah karena melihat wanita itu cukup dewasa dan sudah pantas untuk memiliki momongan. Bahkan dari istrinya pun lebih tua dokter itu.


"Selamat ya," ucap dokter sekali lagi.


Akhirnya, Farhan dan Sarah pamit karena tidak ingin terlalu lama membuat ibu-ibu hamil mengantri di luar sana.


Hoeeekkkk ...


Farhan kembali mual saat mencium aroma parfum. Ia tengah melintasi seorang wanita yang baru saja berpapasan dengannya. Sarah pun melihat siapa wanita itu.


"Itu 'kan, Nadia," batin Sarah. "Kenapa dia tidak menyapa? Apa dia tidak melihatku juga mas Farhan?" Tapi, ia tak mempermasalahkan itu, syukur-syukur wanita itu tak lagi menganggu. Sarah pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju mobil. Ia akan segera pulang sambil menjemput Putra di sekolah dengan bi Ami.


***


"Nek, itu mobil papa," kata Putra.


Wanita tua itu beranjak dari tempat duduknya menuntun Putra menghampiri mobil. Tiba di dalam, Putra memeluk dan mencium ibunya, tak lupa mencium sang papa.


"Putra, keinginanmu terwujud," ucap sang papa.


"Apa itu, Pa?" tanya Putra.


Farhan memperagakan perut membuncit. Putra mengernyitkan keningnya. Anak itu tahu kalau ibunya tengah hamil, tapi apa maksud papanya itu?


"Ngerti gak apa maksud Papa?" tanya Farhan lagi pada anaknya.


"Iya, aku tau Mama lagi hamil," jawab Putra.

__ADS_1


"Kembar," kata Farhan.


Putra yang mengerti langsung menoleh ke arah sang mama, dan Sarah mengangguk mengiyakan. Putra langsung memeluk wanita itu dan memindahkan diri yang awalnya duduk di depan bersama bi Ami langsung menerobos meloncat sandaran.


"Ya Allah, hati-hati Putra. Nanti kenapa perut Mama bagaimana?" kata Sarah.


"Maaf, Ma," jawab Putra sambil tersenyum tanpa dosa. "Oh adikku, kalian sehat-sehat ya. Kakak menunggu kalian lahir." Putra mengusap perut ibunya lalu menciumnya.


Sarah pun mengusap kepala anaknya. "Kalian rukun-rukun ya, Putra selagi menjadi Kakak harus bisa jaga adik-adik," terang Sarah.


"Siap, Ma." Putra menjawab sambil hormat.


***


Kabar berita ini langsung terdengar oleh mama Amel juga papa Permana. Orang tua Farhan langsung berkunjung sambil mengadakan acara empat bulanan.


Sarah sangat terharu, andai ia tak lari saat kehamilan pertama mungkin kehadiran Putra pun pasti disambut oleh kakek dan neneknya. Tak terasa, Sarah menitikkan air mata. Karena saat hamil Putra tak sekali pun mengadakan acara 4 bulanan atau 7 bulanan. Tak ada uang untuk mengadakan acara tersebut.


"Kok Mama nangis?" tanya Putra yang kini tengah berada di rumah.


"Tidak apa-apa, sayang," jawabnya. Lalu ia menarik tubuh anaknya itu, dalam hati ia meminta maaf karena tak mengadakan acara seperti sekarang.


"Putra nakal ya buat Mama nangis?" tanya Farhan yang baru saja tiba.


"Tidak, Mas. Aku terharu dengan acara yang dibuat Mama. Dulu aku tidak begini saat hamil Putra," terang Sarah.


Hati Farhan terasa tercubit, ia pun ikut merasa bersalah karena yang paling bersalah adalah dirinya.


"Tidak apa-apa, tidak ada kata terlambat untuk menebus kesalahan dimasa lalu. Aku akan membahagiakan kalian," kata Farhan. Lelaki itu memeluk orang tersayangnya.


"Mama cari-cari ternyata kalian ada di sini, tamu menunggu acaranya. Pengajian akan segera dimulai," kata mama Amel.


"Iya, Ma." Sarah beranjak sambil menghapus air matanya.


Tak hanya mama Amel yang datang, saudara-saudara Farhan hampir semua berkunjung. Termasuk tante Siska, sekalian wanita itu menjenguk keadaan putrinya yang kini tinggal di Bandung membantu Farhan di pabrik.

__ADS_1


Para pekerja dipabrik pun ada sebagian yang datang, termasuk Ramdan. Tak ada kebencian dari lelaki itu pada Sarah. Malah ia ikut bahagia. Saat Ramdan ikut pengajian, ada seorang wanita yang tengah memperhatikannya. Ramdan paling menonjol dibanding yang lain, tak hanya tampan ia paling muda di antara para pegawai saudaranya itu.


Wanita itu tersenyum dari kejauhan.


__ADS_2