Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 78


__ADS_3

"Farah...," teriak Farhan kembali.


Sedangkan yang dipanggil tengah asyik mendengarkan musik, menggunakan earphone di telinga sambil manggut-manggut. Gadis itu mengelabui orang tuanya karena tidak ingin kena marah orang tuanya karena telah bolos kuliah. padahal itu mata pelajaran penting hari ini.


Sayang seribu sayang, orang tuanya memang tidak pernah mengajarkan keburukan sehingga sepintar apa pun gadis itu mengelabui orang tuanya maka akan tetap ketahuan.


"Panggil Farah kemari," titah Farhan.


"Kita temui saja, kasian kakinya sakit," kata Sarah. Akhirnya, Farhan dan Sarah pergi menemui anaknya yang katanya tengah sakit pasca kejadian tadi pagi.


Braakk...


Pintu kamar terbuka lebar. Farah asyik-asyik saja berjoget ria.


"Lihatlah putrimu, dia sudah membohongimu," kata Farhan.


Sarah menarik napas dalam-dalam, ia sudah tidak tahu harus mendidik anak gadisnya itu seperti apa. Gadis itu selalu saja membuat masalah. Sarah menarik earphone di telinga anaknya. Farah yang asyik berjoget langsung berhenti, ia kira kakaknya yang jahil ternyata ...


"Mama," tapi detik kemudian. "Aduh-aduh ...," keluh nya.


"Sudah tidak usah berakting, Mama mau kamu jujur. Mama janji tidak akan marah kalau kamu jujur," kata Sarah.

__ADS_1


Farah pun langsung terdiam karena melihat papanya di belakang dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak. Tak lama, ponsel milik Farhan berdering. Panggilan yang ia Terima sudah tidak asing lagi. Yang menghubunginya adalah dosen.


"Apa ulahmu kali ini?" tanya Farhan saat melihat ID pemanggil.


"Aku gak berulah, Pa," jawab Farah.


"Punya anak gadis satu saja susahnya minta ampun, kenapa sering buat Papa dan Mama malu? Apa yang kamu lakukan tadi pagi?" Farhan sampai tidak menjawab panggilan dari dosen itu karena sudah terlalu sering, ia yakin kalau anaknya memang berulah lagi.


Farhan menyodorkan sebuah kartu nama pada anaknya dan Farah langsung saja menjelaskan tragedi tadi pagi. Tentu ia masih berakting, karena niatnya untuk membela diri. Tapi sayang caranya saja yang salah.


"Karena ini, Pa." Farah mengambil kartu nama itu. "Ini masalahnya, tadi pagi mobil Naomi ketabrak karena kejadian itu aku jadi terlambat masuk kampus." Farah begitu meyakinkan papanya.


"Bukannya kamu yang nabrak tuan Akio?" tanya Farhan. "Mau jujur sendiri apa Papa yang buat kamu jujur?"


Jika Farhan sudah berkata demikian itu artinya pria itu dalam mode marah.


"Apa kurangnya didikan kami? Kami tidak pernah mengajarkanmu seperti ini, ayolah Farah jangan selalu buat Papa Mama kesal dengan sikapmu yang konyol ini, tuan Akio itu klien Papa. Tadi Papa sampai cemas takut dia tidak datang, dan ternyata kamu bilang masalahnya."


Sudah tidak ada cela untuk mengelak, karena papanya pasti lebih percaya pada orang itu ketimbang dirinya. Akhirnya, Farah pun meminta maaf. Ia janji tidak akan membohongi orang tuanya.


"Maaf Pa, Ma. Aku janji tidak akan melakukannya lagi," ucap Farah.

__ADS_1


"Minta maaf sama tuan Akio, untung dia baik tidak mempermasalahkan masalah ini. Buat malu saja, Papa tidak mau lagi mendengar kamu ada masalah apa lagi di kampus," kata Farhan. Setelah itu ia langsung pergi meninggalkan putrinya, begitu pun dengan mamanya.


Tinggal lah Farah seorang diri, ia menatap kartu nama itu. Lalu ia mengambil sebuah kamus yang di mana ia akan meminta maaf pada tuan Akio dengan bahasa asing, mungkin dengan begitu masalah akan selesai, pikirnya.


Kata demi kata sudah dirangkai, ia harap ini sudah benar. Farah pun memberikan pesan pada tuan Akio dengan bahasa yang dimengerti lelaki itu. Tuan Akio mengerti bahasa Indonesia, hanya saja ia tidak bisa dalam pengucapan yang benar. Tapi jika dalam tulisan ia mengerti.


***


Di tempat lain.


Seorang pria tengah duduk di kursi, sambil menatap layar laptopnya. Pria itu memang berniat bermalam di Indonesia beberapa hari. Banyak urusan yang harus diurus di sana, siapa lagi kalau bukan tuan Akio.


Ting ...


Satu notif masuk ke ponsel. Tuan Akio langsung membuka dan membacanya. Pesan itu masuk dari nomor yang tidak dikenal, lalu ia teringat kejadian tadi pagi karena isi pesan itu adalah sebuah permintaan maaf.


Tuan Akio tersenyum karena ia pikir gadis seusianya memang banyak yang seperti itu. Dia yang salah dia yang marah-marah. Tuan Akio membalasnya dengan bahasa Indonesia.


Farah sendiri terkejut saat membacanya, ia kira lelaki itu tidak mengerti bahasanya.


"Tau gini gak susah-susah buka kamus, lagian kalau bisa bahasa Indonesia kenapa tadi tidak ngomong, sok pakai ajudan segala," rutuk Farah kesal.

__ADS_1


__ADS_2