
Setelah resmi menikah, saat itu juga Nisa dibawa pulang oleh suaminya. Karena ingin menjadi istri yang berbakti Nisa pun ikut, hingga sedikit terjadi drama, yang di mana Alifa menangis karena ditinggal kakaknya. Alifa tak menyangka bahwa kakaknya menikah begitu cepat.
"Kak, aku pasti merindukanmu." Alifa menangis karena tidak ada teman seumurnya di sana.
"Lebay," kata Nisa.
Alifa malah mengerucutkan bibir karena merasa diledek oleh kakaknya. Padahal ia serius meski pun sering bertengkar mereka saling sayang. Pada akhirnya, Nisa dan adiknya pun berpisah.
"Sudah, jangan nangis. Aku 'kan pergi tidak untuk selamanya, kita masih bisa bertemu kok." Nisa mencubit pipi Alifa sebelum masuk ke dalam mobil.
Putra yang melihat keakraban kakak adik itu pun tersenyum. Tidak seperti dirinya dengan adik-adiknya. Farah sedikit bar-bar dan suka membangkang kalau dikasih tahu.
"Ayok," ajak Putra.
Nisa pun naik ke dalam mobil, sedangkan Sarah dan Farhan sudah lebih dulu berangkat.
Saat diperjalanan, Putra terus menggenggam tangan istrinya. Nisa sedikit canggung karena takut supir melihat. Karena malu, Nisa menyembunyikan tangan mereka di balik kerudungnya yang panjang.
Sampai Putra pun jahil, ia menggelitik tangan istrinya sampai Nisa terkejut.
"Geli," ucap Nisa.
Sang supir pun akhirnya menoleh dari kaca spion yang ada di tengah. Bibirnya tersenyum dengan tingkah pengantin baru itu.
"Ih ... Malu 'kan jadinya," ucap Nisa
"Kenapa mesti malu, siapa yang berani pada kita?" tanya suaminya.
Sampai tak terasa Nisa pun tertidur selama di perjalanan. Saat tiba pun gadis itu masih terlelap. Supir lebih dulu turun, sementara sepasang pengantin itu masih di dalam sana. Putra melepas cadar istrinya, lalu mengusap bibir gadis itu. Nisa yang merasakan sentuhan itu pun mengusap bibirnya sendiri, tapi ia malah mendapati sebuah tangan di sana.
Putra tersenyum saat istrinya mencekal lengannya.
"Kita sudah sampai, apa masih mau di sini?" tanya Putra.
Nisa pun menarik diri karena posisinya tengah bersandar di bahu suaminya.
__ADS_1
"Kenapa tidak membangunkan ku?" tanya Nisa. "Jam berapa ini?" tanyanya kemudian.
"Jam sembilan," jawab Putra.
"Aduh-aduh ... Ini pengantin baru kenapa masih belum turun? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Farah tiba-tiba. Bahkan gadis itu sambil mengetuk pintu mobil.
Putra membuka kaca, sambil mendengus kesal. Ganggu saja, pikirnya. Saat ia menoleh ke arah istrinya, Nisa malah sudah menghilang. Lalu kembali melihat adiknya yang ternyata istrinya sudah diajak masuk ke dalam, Farah menuntun Nisa seperti bocah berusia lima tahun.
Akhirnya, ia pun turun ikut menyusul. Kedatangan Nisa disambut oleh kakek neneknya. Nisa diciumi oleh Amel neneknya Putra. Nisa sampai kewalahan karena Amel begitu gemas pada Nisa. Gemas karena kecantikannya.
"Nek, udah dong lepasin istriku," kata Putra.
Neneknya itu malah tersenyum tanpa dosa.
"Kenapa malam sekali sampainya? Makanan sudah dingin, tapi Nenek sudah suruh Bibi menghangatkannya. Kita makan dulu ya, kalian pasti belum makan," ujar Amel.
Perbedaan sampai setengah jam lebih dengan Sarah, itu membuat Amel merasa lama menunggu. Karena adanya drama di antara Nisa dengan adiknya tadi.
***
Putra tidak melihat adik laki-lakinya, biasanya Fathan tidak pernah absen, tapi kali ini tidak ada. Kemana adik kesayangannya itu? Sikap Farah dan Fathan jauh berbeda sehingga Putra lebih sayang pada adik laki-lakinya ketibang adik perempuannya. Fathan terbilang penurut, tidak seperti Farah yang terkadang membuat orang tuanya jengkel karena sering mendapat panggilan dari kampus.
"Ma, aku tidak liat Fathan, kemana dia?" tanya Putra pada mamanya.
"Aku gak ditanyain?" tanya Farah. Tapi diabaikan oleh Putra karena gadis itu hanya bisa merecokinya.
"Kata Nenek ada tugas dari kampus bareng teman-temannya Fathan nginap di rumah Reza," jawab Sarah.
Putra hanya manggut-manggut, lalu ia memberikan perhatian kecil pada istrinya.
"Makan yang banyak." Putra meletakkan lauk di piring istrinya.
"Ini juga masih ada, nanti malah gak abis," kata Nisa. Lalu ia mengambil lauk itu dan meletakkannya di piring suaminya. "Harusnya kamu yang makan lebih banyak," bisik Nisa.
Ucapan Nisa seakan memberinya kode, tanpa menolak Putra langsung melahap ikan dari istrinya. Sampai pada akhirnya makan pun selesai.
__ADS_1
Sesudah makan, mereka berbincang lebih dulu. Membicarakan Soal resepsi yang akan digelar nanti. Yang antusias itu malah sang nenek, karena ia bangga mempunyai menantu seperti Nisa. Sudah cantik, Soleha, pintar berdakwah pula.
"Jangan buru-buru lah, Nek. Lagian aku masih sibuk di rumah sakit," kata Putra.
"Loh kok sibuk? Kalau sibuk gimana dengan bulan madunya? Nenek pengen punya cicit, mumpung Nenek masih bugar cepat-cepatlah punya momongan, jangan ditunda-tunda. Sukur-sukur kembar lagi," kata Amel.
Kebahagiaan akan semakin bertambah dengan adanya cicit. Amel berpikirnya tidak apa punya satu anak, tapi keturunannya harus banyak. Cucu sudah tiga, cicit harus lebih dari itu, pikirnya.
"Putra, ajaklah istrimu istirahat," titah Sarah.
"Iya, Ma. Ayok," ajak Putra kemudian.
***
Nisa melihat seisi kamar laki-laki yang kini sudah resmi menjadi suaminya beberapa jam yang lalu. Nampak nyaman, nuansa kamar klasik. Meski mereka dekat, Nisa tidak begitu hafal apa saja yang disukai lelaki itu. Karena yang lebih banyak bertanya itu Putra tentangnya, Nisa tidak begitu menanyakan warna apa saja yang disukai lelaki itu.
Kamar itu berwarna gold, dipadu dengan warna putih sehingga menjadi lebih bagus. Karisma seorang laki-laki itu begitu tergambar.
Nisa mendudukkan diri di tepi ranjang, ekor matanya terus berkeliaran melihat-lihat hiasan di dinding. Sampai di mana, ia melihat sebuah foto usang, seorang gadis kecil tengah duduk sambil memakan ice krem. Bibirnya melengkung tersenyum saat ia menyadari bahwa itu adalah gambar dirinya.
"Aku sendiri tidak punya loh foto itu, kamu dapat dari mana?" tanya Nisa.
"Panggilnya jangan kamu-kamu dong, gak enak didengarnya. Itu mama yang ambil gambar."
Nisa terdiam sambil berpikir, sebutan seperti apa yang diinginkan suaminya itu? Tanpa sadar, suaminya kini sudah duduk di sampingnya. Jantung Nisa langsung berdebar tak menentu, ini pertama kali duduk sedekat ini. Ia sampai lupa bahwa ia sendiri pernah duduk di pangkuan suaminya waktu kemarin.
Putra melepas cadar istrinya, Nisa langsung tertunduk malu. wajahnya merona merah seperti tomat yang sudah matang. Lalu, Putra pun meraih dagu wanita itu. Menatap wajahnya lekat-lekat.
"Jangan memandangku seperti itu, aku 'kan jadi malu," ucap Nisa.
"Kenapa mesti malu? Kita 'kan sudah resmi jadi pasangan halal. Aku berhak menatapmu, bahkan lebih." Putra memajukan wajahnya, sampai berjarak satu inci saja.
Napas wanita itu begitu memburu, entah apa yang dirasakan, antara gugup atau malah siap menerima apa yang dilakukan suaminya karena matanya terpejam.
Putra mengusap bibir istrinya dengan ibu jari, bibir itu nampak mungil dan merah alami. Tidak ada sisa make-up di sana, karena setelah ijab qobul gadis itu langsung membersihkan wajahnya. Nisa tidak biasa menggunakan make-up, karena tanpa bedak pun sudah sangat cantik.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya, Putra meberanikan diri mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir ranum istrinya.