
Farhan sampai di rumah dengan Arumi. Kedatangan mereka ditunggu-tunggu penghuni di sana.
Sedangkan Nisa, ia celingak-celinguk mencari suaminya. Tanpa ia tahu bahwa Putra pergi ke tempat di mana biasanya kakak Arumi nongkrong.
Kegelisahan Nisa terlihat dari sorot matanya, lalu Farhan mengatakan bahwa Putra pergi mencari kakaknya Arumi. Arumi sendiri merasa minder berada di tengah-tengah keluarga yang memang cukup terpandang di kota Bandung. Lalu, ia melihat ke arah Fathan. Benar apa kata kakaknya bahwa lelaki itu telah menghajarnya. Rasanya ingin sekali ia mendekat, memberikan perhatian lebih pada lelaki yang telah merenggut kesuciannya itu.
Mereka berdua memang memiliki perasaan yang sama, dan mereka ternyata saling memandang satu sama lain. Fathan melihat melihat ke arah perut Arumi yang masih datar itu, ia pun sama ingin sekali menghampiri dan memeluknya. Tapi ia tidak memiliki keberanian, karena ia mengira gadis itu sangat membencinya saat kejadian naas itu.
Sarah pun akhirnya mendekat ke arah Arumi.
"Siapa namamu?" tanya Sarah.
Gadis itu kembali menunduk, tapi masih bisa menjawab. "Arumi, Tante," jawabnya.
"Kenapa menghindar dari Fathan? Anak Tante bukan lelaki brengsek yang membiarkanmu begitu saja, kenapa membuat masalah menjadi rumit? Kamu lebih suka anak Tante digebukin begitu?" tanya Sarah.
Bukannya menjawab, Arumi malah menangis karena ketakutan. Tubuhnya pun bergetar, ini yang ia takutkan. Ia merasa tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga terpandang itu.
"Maaf, Tante. Aku tidak bermaksud begitu." Jawabnya sambil merema* ujung bajunya. "Maafkan kakak-ku," sambungnya.
"Ma, jangan begitu. Tidak kasihan kah kamu padanya?" sahut Farhan. Farhan merasa iba pada Arumi setelah tahu keadaannya. Seperti apa yang ada dalam bayangannya, tidak ada yang menyangka bahwa gadis itu orang tidak punya. Bahkan istrinya pun menilai tentang keburukan Arumi.
"Jangan begitu bagaimana, Pa. Gara-gara dia anak kita jadi babak belur, coba dia tidak menghindar mungkin kita sudah tau apa yang terjadi di antara mereka."
"Ini salah Fathan juga, kenapa tidak membicarakan ini pada kita?" ibmuh Farhan pada istrinya. "Sini kamu," panggil Farhan pada Fathan. "Kalau sudah begini kalian mau apa, hah? Kalian berdua itu sama-sama salah, kalian tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Kejadian ini ujung-ujungnya melibatkan keluarga." Akhirnya kemarahan Farhan meletup juga.
"Farah, coba telepon kakakmu. Apa dia sudah menemukan keberadaan kakaknya Arumi? Kalau sudah suruh cepat ke sini, sekalian kamu telepon pak RT ajak penghulu ke sini," titah Farhan.
"Iya, Pa," jawab Farah. "Merepotkan jadinya!" cetus Farah pada kembarannya itu. "Diam-diam menghanyutkan," sambungnya.
Fathan menerima semua kesalahannya, lelaki itu hanya diam saja. Sesekali ia mencuri pandang pada Arumi, pasalnya ia sudah lama tidak bertemu dengan gadis itu. Bahkan saat kuliah pun jarang bertemu karena memang beda jurusan.
Tak berselang lama, Putra pun akhirnya tiba. Ia datang bersama kakaknya Arumi bernama Ardi. Mereka sempat cek-cok, untung tidak terjadi perkelahian karena Putra membicarakan masalah ini baik-baik dan mampu menenangkan kakaknya Arumi yang cukup brutal.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya, pak RT dan penghulu pun datang. Tidak menunggu lama lagi, Arumi dan Fathan akhirnya menikah saat itu juga. Keluarga besar datang tadinya ingin merayakan hari bahagia Nisa dan Putra sebagai pengantin baru. Namun, mereka malah menjadi saksi pernikahan Fathan dengan Arumi.
Sarah dan Farhan pun akhirnya lega karena sudah menikahkan Fathan yang memang harus bertanggung jawab atas perbuatannya.
"Lain kali cari teman itu pilih-pilih, jangan yang menjerumuskan seperti ini," cetus Sarah saat Fathan melakukan sungkeman setelah ijab qobul terlaksana.
"Sudahlah, Ma. Masalah sudah selesai 'kan?" ucap Farhan.
"Sebentar lagi Nenek punya cicit," kata Amel.
Arumi sendiri merasa lega, ternyata keluarga Fathan semuanya baik. Mereka menerima kehadirannya.
"Aku kalah dong," timpal Putra.
"Cepatlah susul Fathan," kata Permana sang kakek.
***
Malam pun tiba, keluarga besar itu tengah berkumpul di ruang makan. Bahkan si kembar 3C pun masih ada di sana bersama orang tuanya.
"Chiko, Chiki, Chika. Kalian bisa jadikan ini sebagai pelajaran ya, boleh bergaul sama siapa saja tapi kita harus tau bagaimana sikap teman-teman kalian," ujar Farhan.
"Iya, Om," jawab si kembar secara bersamaan.
"Terutama untukmu, Farah. Papa tidak mau mendengar tentangmu, jadilah wanita yang bisa menjaga kehormatan keluarga. Kamu anak perempuan kami satu-satunya, buat kami bangga. Jangan setiap bulan kami dipanggil ke kampus," sambung Farhan.
Farah hanya tersenyum tanpa dosa. Meski begitu, ia memang tidak mudah didekati oleh lelaki, Farah cenderung paling galak di kampusnya. Bahkan tidak ada yang berani mendekatinya karena kegarangan mulutnya.
Akhirnya, masalah selesai. Di rumah Farhan kini ada dua pengantin baru.
"Fathan, ajaklah istrimu istirahat," kata Sarah.
Fathan tidak menjawab, melainkan langsung dengan sikapnya. Fathan menuntun Arumi pergi ke kamarnya karena ia tahu bagaimana pemalunya istrinya itu.
__ADS_1
Dan keluarga Tante Siska pun akhirnya pamit, begitu juga dengan orang tua Nisa.
"Nisa, baik-baik ya selama di sini. Nurut apa kata suami," pesan ayah Nisa.
"Iya, Ayah," jawab Nisa.
"Putra, Ayah titip Nisa ya. Ayah sama Bunda pamit dulu. Kalau ada apa-apa hubungi kami ya," kata ayah Nisa.
"Iya, Ayah," jawab Putra.
Mereka pun mengantar kepulangan orang tuan Nisa sampai depan rumah, sekalian dengan keluarga Tante Siska.
"Sarah, Mama istirahat dulu kalau begitu. Mata Mama sudah sepet," pamit mertua Sarah.
"Iya, Ma. Aku juga rasanya lelah," jawab Sarah, karena seharian tadi ia banyak mengeluarkan air mata akibat ulah anaknya.
Dan semua pun akhirnya pergi ke kamar masing-masing.
***
Fathan dan Arumi tidak tahu harus berbuat apa, sara canggung dikedua nya cukup melanda. Karena di antara mereka memang tidak ada hubungan spesial, hanya perasaan yang mereka pendam.
Fathan cukup pendiam, tapi kali ini tidak. Ia memberikan perhatian lebih pada Arumi, dari pertama yang ia lakukan adalah menyentuh perut istrinya. Arumi diam saja dengan sikap Fathan, lelaki itu memang berhak atas dirinya. Diusia mereka yang menginjak 20 tahun cukup tahu apa yang harus dilakukan setelah resmi menjadi suami istri.
"Maafkan aku, Arum. Maafkan Papa juga," tutur Fathan mengusap perut istrinya dengan lembut.
"Maafkan aku juga," sahut Arumi. "Wajahmu," ucap Arumi kemudian. "Pasti itu sakit ya?" tanya Arumi polos.
"Iya, ini sakit sekali dan kamu harus tanggung jawab," jawab Fathan.
"Aku harus apa? Aku tidak punya uang untuk membawamu ke rumah sakit." Mata Arumi sudah berkaca-kaca, untuk sekali berkedip saja air matanya pasti tumpah ruah.
Fathan yang tidak tega pun menarik tubuh Arumi ke dalam dekapan.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Arumi. Rasa cinta ini sudah lama aku pendam," bisik Fathan.
Bibir Arumi melengkung, karena ia pun memiliki perasaan yang sama.