
"Sebel-sebel ..." Nisa menggerutu di dalam mobil sambil mengemudi, ia kesal karena Putra tidak ada saat ia pulang. "Laki-laki tidak peka!" rutuknya.
Setelah Nisa tahu siapa yang selalu memberinya kejutan disetiap tahun ia selalu kepikiran akan lelaki itu. Bagaimana perasaannya padanya? Bagaimana dengan isi hatinya? Tapi setelah ia menemuinya ternyata seperti ini. Seakan memberi harapan palsu. Untuk apa dibuat terbang tapi akhirnya dijatuhkan seketika.
"Apa setiap lelaki seperti itu?" tanyanya sendiri.
Tanpa terasa, dengan terus mengomel selama perjalanan akhirnya ia pulang dan sampai di pesantren. Saat tiba ia melihat mobil orang tuanya terparkir di sana.
"Bunda," ucapnya. Karena ingin curhat gadis itu pun segera turun. Kedatangannya disambut oleh Wita dan ayahnya.
"Bunda kok gak bilang mau ke sini?" tanya Nisa setelah mencium tangan orang tuanya, lalu memeluknya secara bergantian.
"Iya, tadinya Bunda mau susul kamu di rumah Putra, tapi kata mamanya kamu sudah pulang, ya udah Bunda sama Ayah ke sini saja," jawab Wita.
Kejutan benar-benar di siapkan matang-matang, mobil keluarga Sarah tidak terparkir di halaman pesantren. Tidak ada yang membuat Nisa curiga.
"Bunda ..." Gadis itu yang tengah kesal akhirnya menangis.
"Loh, anak Bunda kenapa nangis. Coba cerita sama Bunda," kata Wita.
"Jangan di sini." Tangisnya seketika terhenti.
Ia nangis karena kesal bukan karena apa-apa. Tangan ibunya ia tuntun ke kamar, tiba di sana ia langsung saja menceritakan keluh kesahnya. Tidak ada yang disembunyikan dari gadis itu pada orang tuanya.
"Bunda, ternyata yang selalu memberiku hadiah itu Putra," ucap Nisa.
"Tau dari mana?" tanya Wita.
Nisa mengambil sebuah surat dan memperlihatkannya padanya ibunya, dan Wita pun mengambilnya dan membacanya. Ia hanya tersenyum karena ia sudah tahu semuanya.
"Apa tanggapan Bunda? Tapi dia cuek, katanya anggap itu angin lalu 'kan sebel."
"Apa kamu membalas perasaannya?" tanya Wita.
"Perasaan siapa, Bun? Orang dia bilang jangan dianggap serius soal surat ini."
__ADS_1
"Emang sudah tanya?"
"Sudah."
"Berarti kedatanganmu ke rumahnya kemarin bahkan sampai nginap karena masalah surat ini?" tanya Wita.
Nisa mengangguk. "Aku tidak ada maksud apa-apa, Bun. Sumpah. Aku juga tidak sengaja bermalam di sana, cuaca buruk dan mmanya Putra tidak mengizinkanku pulang."
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri? Aku suka sama Putra?" tanya Wita.
"Gak tau, Bun."
"Kok gak tau sih."
Nisa masih kesal pada laki-laki PHP itu, ia hanya ingin menceritakan apa yang mengganjal di hatinya.
"Ya sudah, kamu istirahat saja, Bunda mau keluar." Tanpa menunggu jawaban Wita keluar karena ingin menyiapkan semuanya. Kejutan akan dimulai saat Nisa keluar nanti dari dalam kamar.
***
"Mama kok tidak bilang mau ke sini, tau gitu 'kan tadi bisa bareng," ucap Nisa. Yang ada di sana hanya ada Sarah dan Wita karena yang lainnya tengah mengobrol di ruangan sebelah.
Farhan dan ayahnya Nisa juga uwa-nya tengah membicarakan soal lamaran yang dilakukan Putra. Putra banyak ditanya oleh ayah Nisa juga uwa-nya. Mereka ingin memastikan apa niatnya serius untuk melamar Nisa? Bagi uwa, siapa pun laki-laki yang berani datang dengan serius ia dan ayah Nisa akan menerimanya.
Obrolan akhirnya selesai, kini uwa Nisa memanggil gadis itu.
"Nisa, bisa tolong ke sini sebentar?" Uwa Nisa sedikit berteriak. Karena dari dulu tinggal di pesantren, uwa Nisa cukup ikut bertanggung jawab dengan gadis itu. Bahkan lebih dekat dari ayahnya sendiri.
"Iya, Uwa. Sebentar." Nisa langsung pergi menuju ruangan sebelah, saat tiba di sana ia terkejut dengan keberadaan Putra. Sedang apa mereka? Apa yang mereka bicarakan? Karena masih kesal pada Putra, Nisa sedikit pun tidak menoleh pada lelaki itu.
"Duduk sini." Ayah Nisa menepuk kursi menyuruh anaknya duduk di sampingnya.
Nisa pun akhirnya malah deg-degan, ia semakin penasaran dengan keberadaan Putra di sini.
"Ada yang melamarmu, apa kamu menerima lamaran itu?" tanya Uwa.
__ADS_1
Nisa langsung menatap wajah uwanya, "Melamar?" ulang Nisa.
"Iya, lagian usiamu sudah cukup untuk menikah, jika kamu setuju lamaran ini malam ini juga kamu akan Ayah nikahkan dengannya." Tutur ayah Wita sambil mengusap bahu gadis itu.
Memangnya siapa pemuda yang melamarnya? Kenapa mengambil keputusan secepat ini? Pikir Nisa. Lalu ia menoleh ke arah Putra, pria itu tersenyum manis padanya. Tapi Nisa langsung memalingkan wajah.
"Jangan-jangan dia yang melamarku," batin Nisa. Rasanya tidak percaya, tapi kenyataannya cuma lelaki itu yang ada di sini, lagian apa niat mereka datang kemari? Nisa malah melamun, sampai-sampai ayahnya membuyarkan lamunannya.
"Kamu terima lamarannya tidak?" tanya ayah.
Nisa langsung mengangguk, tapi sejurus kemudian menggelengkan kepala. Itu membuat uwa Nisa menjadi bingung dengan sikapnya.
"Diterima atau tidak lamarannya?" tanya uwa. "Putra, coba kamu jelaskan denga kedatanganmu kemari," titah uwa pada laki-laki itu.
Sebelum Putra mengutarakan niatnya, Sarah dan Wita akhirnya menghampiri. Nisa menoleh kepada ibunya setelah wanita itu duduk di sampingnya.
"Bagaimana menurut Bunda?" tanya Nisa.
"Kok tanya Bunda, yang mau negjalanin 'kan kamu. Kalau kamu yakin, kamu terima saja, lagian kami semua sudah setuju. Putra laki-laki yang baik," jawab ibunya.
Akhirnya, Nisa pun menganggukkan kepala sebagai jawaban. Putra yang tahu lamarannya di terima langsung mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru dongker yang di mana di dalamnya ada sebuah cincin yang disiapkan jauh-jauh hari untuk gadis itu, bahkan cincin itu diukir namanya juga nama dirinya.
Sarah mengambil kotak berwarna biru itu lalu mengambil cincinnya dan Wita meraih tangan Nisa untuk mengulurkan tangan Sarah menyematkan cincin permata itu di jari manis Nisa. Nisa tersenyum melihat cincin itu begitu cantik dan sangat pas di jarinya. Tanpa ia tahu ternyata namanya sudah terukir di cincinnya.
"Lamaran kami terima," ucap ayah Nisa. "Dan ijab qobul di lakukan malam ini, untuk surat-surat dan resepsi bisa diurus belakangan yang terpenting mereka halal dulu," terangnya lagi.
Nisa dan Putra saling tatap. Keduanya memang menyimpan perasaan, apa lagi Putra sejak kecil sudah menyukai gadis itu. Sedangkan Nisa perasaannya mulai tumbuh saat ia tahu siapa yang menjadi pengagum rahasianya itu.
***
Dan tibalah waktunya Putra untuk mengucapkan ijab qobul. Sebentar lagi ia akan menikahi gadis yang selama ini membuat hidupnya gelisah. Kini ia sudah duduk di meja bersama penghulu juga ayah Nisa. Mereka tengah menunggu calon mempelai wanita datang, hingga nampaklah sosok gadis bercadar itu.
Dari matanya, Nisa sudah terlihat begitu cantik dengan cadar berwarna putih yang dikenakannya. Gadis itu duduk di sebrang meja sana. Sampai pada akhirnya, ijab qobul dan janji dari laki-laki bernama Putra Farhan Permana itu terdengar begitu lantang setelah ayah Nisa mengguncangkan tangannya.
Tanpa hambatan Putra begitu lancar hingga kata 'SAH' itu terucap oleh saksi di sana. Bagaimana tidak lancar, Putra sering menghafalkan ijab qobul itu sejak dulu. Ia sudah merasa yakin bahwa ia akan menikahi gadis yang bernama Khairu Nisa itu.
__ADS_1
Nisa pun akhirnya mendekat dan mencium tangan lelaki yang kini menjadi suaminya. Dengan malu-malu, Putra mencium kening istrinya itu.