
Di kediaman Farhan sudah mulai ricuh pagi ini, karena mereka tengah menyiapkan keberangkatan untuk mengantar Putra dan Nisa pindahan. Semua keluarga sudah berkumpul, begitu pun dengan orang tua Nisa.
Mereka tiba saat subuh tadi. Rumah yang akan di tempati Putra dan Nisa memang sudah siap huni sehingga tidak perlu repot-repot untuk membawa barang-barang. Hanya membawa pakaian. Tapi, Farah yang begitu antusias karena memang hatinya yang tengah berbunga-bunga begitu semangat.
Gadis itu begitu lincah saat disuruh-suruh. Dan mereka semua sudah siap untuk segera berangkat. Terdiri dari tiga mobil yang ikut mengantar. Mobil Farhan dan Wita, tak lupa dengan si kembar 3C yang ikut serta.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya mereka sampai di kediaman Putra Farhan Permana. Rumah itu tidak begitu besar, tapi cukup bagus. Dan di sebelah rumah Putra tengah ada perbaikan rumah sehingga terdengar begitu berisik.
Mereka semua pun masuk ke dalam untuk melihat-lihat. Nisa sendiri langsung melihat kamar utama.
"Gimana, kamu suka tidak?" tanya Putra sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Nisa malah celingak-celinguk karena takut ada yang melihat, tentu ia akan merasa malu dengan keadaan suaminya yang memeluknya.
"Malu, Mas. Kalau ada yang lihat bagaimana?" tanya Nisa sambil melepas pelukkan suaminya.
Putra langsung saja menutup pintu dengan kaki tanpa melepaskan pelukkan nya.
"Sekarang tidak akan ada yang melihat." Tanpa diduga, Putra langsung saja membopong tubuh istrinya ke tempat tidur dan merebahkan tubuh itu dengan pelan.
Ruangan itu nantinya akan menjadi saksi bisu, berusaha mendapatkan kebahagiaan. Menantikan buah cinta yang akan hadir melengkapi hidupnya. Putra melepas cadar istrinya lalu mencium bibir ranum itu dengan sangat lembut.
"Mas," ucap Nisa setelah suaminya melepas kecupan.
__ADS_1
"Apa?" tanya Putra sambil terus mengusap bibir istrinya dengan ibu jari.
"Kamu bahagia menikah denganku?" Pertanyaan yang memang seharusnya tidak keluar dari mulut mungil Nisa, karena ia sendiri pasti sudah tahu jawabannya. Nisa hanya ingin mastikan bahwa ini bukan mimpi.
Menikah dengan Putra tak pernah ada dalam benaknya selama ini, ia malah menganggap Putra itu adalah kakaknya karena selalu membuatnya tersenyum meski dari jarak jauh.
"Tentu aku bahagia, sangat bahagia. Aku mencintaimu dari dulu. Aku pendam itu sampai bertahun-tahun. Dan rasa takut kehilanganmu selalu terbayang, apa lagi dengan kedekatanmu dengan Miko waktu itu."
Nisa langsung mengerutkan kening.
"Kamu cemburu pada laki-laki itu? Aku hanya mengagumi karena kebaikkannya," jelas Nisa.
"Iya, aku tau itu. Tapi tetap saja aku tidak suka kalian begitu dekat. Apa selagi aku di kuliah kamu dengannya sering menghabiskan waktu bersama?"
Wanita itu akhirnya beranjak karena tidak enak jika terus berada di kamar, sementara yang lain berada di luar. Putra pun menyusul istrinya.
Semua keluarga tengah melihat ke arah samping rumah yang tengah di renovasi. Suara-suara berisik begitu menganggu di telinga.
"Kak, kenapa beli rumah di sini sih? Nanti kalian terganggu dengan suara-suara itu," ucap Farah sambil menunjuk rumah di samping rumah kakaknya.
"Itu kan hanya renovasi, bukan membangun rumah. Tidak akan lama lagi selesai," jawab Putra.
Farah terus melihat rumah besar yang tengah direnovasi itu, rumah yang sangat bagus memang. Rumah itu adalah salah satu rumah impiannya kelak bersama pasangannya.
__ADS_1
melihat saudara-saudaranya menikah, ia jadi ingin menikah. Tapi dengan siapa Farah menikah? Pacaran saja tidak punya, padahal ia berkeinginan nikah muda. Diusianya yang sekarang sudah 20 tahun merasa siap untuk menjalani rumah tangga.
Membayangkan menikah, kenapa yang muncul malah tuan Akio? Farah sampai memukul kepalanya sendiri.
"Kenapa terus membayangkannya?" Farah jadi berharap lelaki itu menghubunginya karena jasanya, karena ia juga masih punya hutang pada lelaki itu.
"Kamu kenapa Farah? Apa kepalamu sakit sampai dipukul-pukul begitu?" tanya Farhan.
"Tidak apa-apa, Pa. Kalau aku nikah Papa setuju tidak?" tanya Farah.
"Nikah sama siapa? Punya pacar memangnya?" tanya Farhan lagi.
Farah menggelengkan kepala karena memang tidak mempunyai kekasih.
"Kamu ini, tidak punya pacar malah mau menikah. Maksudmu minta tolong ke Papa untuk mencarikan jodoh untukmu begitu?"
"Bukan, aku tidak mau dijodohin. Emangnya jaman Siti Nurbaya. Aku mau cari calon sendiri."
Lagi-lagi yang muncul wajah tuan Akio.
Bagaimana reaksi Papa ya kalau aku suka sama laki-laki tua itu?
Farah jadi membayangkan pertentangan cinta beda usia. Jangan sampai orang tuanya tidak setuju, pikirnya.
__ADS_1