Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 49


__ADS_3

Setelah akad selesai, pesta langsung digelar hari itu juga. Tamu undangan cukup banyak memadati area ruangan. Pesta begitu meriah, sepasang pengantin itu tak memudarkan senyum kebahagiaannya. Sesekali mereka saling memandang, terutama bagi seorang Ramdan. Ia tak menyangka akan menikah secepat ini. Baru saja menjalin hubungan sekitar satu bulan lalu.


Tak terasa hari sudah mulai sore, sebentar lagi pesta akan usai. Morin dan Ramdan sudah cukup lelah hari ini. Bibirnya terasa pegal karena sejak tadi terus memperlihatkan senyum bahagianya. Kaki juga sudah tidak mampu untuk menopang tubuh. Akhirnya, Morin menjatuhkan tubuhnya begitu saja di kursi pengantinnya setelah dirasa para sudah mulai undur diri.


Tak lama, Ramdan pun menyusul mendaratkan tubuhnya. Lagi-lagi mereka saling memandang. Morin menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


"Malu, masih banyak orang," bisik Ramdan.


Apa lagi saudara-saudaranya masih berada di ruangan itu. Tak lama, keempat bocah menghampirinya. Keadaan langsung ricuh karena ketiga adik Morin menganggu ditambah lagi dengan Putra.


"Ish, sana kalian jangan ganggu!" kata Morin. "Kakak lelah, mainnya di sana ya," usirnya kemudian.


Ketiga adiknya itu tak langsung pergi, kebaikan kakak iparnya membuat mereka cukup dekat dengan Ramdan. Satu bulan terakhir Ramdan sering berkunjung ke rumah Sarah dan Farhan. Selama satu bulan menuju hari pernikahan Ramdan dan Morin, mama Siska menginap di rumah keponakannya karena acara pernikahan digelar di kota kembang.


Akhirnya, pesta benar-benar usai. Para tamu sudah undur diri dari ruangan itu, hanya menyisakan para pegawai dan kerabat dekat termasuk Sarah dan Farhan. Namun, mereka pun akhirnya berpamitan.


"Morin, Mas dan Mbak Sarah pulang ya," pamit Farhan pada pengantin itu.


"Iya, Mas. Makasih ya," ucapnya.


Farhan hanya tersenyum, lalu mendekat dan menjabat tangan pengantin pria. Ia mengucapkan kata selamat dan itu pertama kali ia ucapkan dengan tulus dari lubuk hati yang paling dalam. Jujur, ia tidak begitu nyaman saat Ramdan belum memiliki pasangan. Karena ia tahu lelaki itu sangat mencintai istrinya.


Ia juga sering melihat saat di pabrik, terkadang lelaki itu sering memperhatikan istrinya diam-diam saat berkunjung ke perusahaan. Dan sekarang ia benar-benar lega.


Setelah mengucapkan kata selamat, Sarah dan Farhan benar-benar pulang. Si kembar sudah menanti kepulangan mereka.


***

__ADS_1


Ruangan benar-benar kosong, hanya menyisakan sepasang pengantin di sana.


"Mas, aku lelah," ujar Morin. Untuk yang pertama kalinya wanita itu memanggil 'mas'


Ramdan pun tersenyum, lalu mengajak sang istri untuk istirahat di kamar hotel karena mereka akan bermalam di sana. Farhan sudah menyiapkan kamar khusus untuk pengantin itu.


"Ya udah, kita istirahat," ajak Ramdan.


Gaun yang dikenakan Morin cukup menganggu, apa lagi dibagian bawah yang kainnya sangat panjang dan menjuntai. Menyapu lantai saat berjalan.


Melihat itu, Ramdan tidak tega. Ia pun membantu mengangkat baju panjang itu dari belakang ia mengekor. Dan akhirnya mereka sampai di kamar yang disiapkan Farhan. Morin sangat terkejut karena kamar didekor sangat indah.


"Waw, bagus sekali kamarnya," batin Morin.


Ratusan kelopak bunga mawar menghiasi ruangan, aroma wanginya begitu menyeruak. Ramdan sendiri pun terpukai. Saat tiba di kamar, pengantin wanita itu langsung melepas baju yang sangat menganggunya.


Keadaan Morin setelah melepas baju yang beratnya hampir 5 kilo itu membuat tubuhnya sangat enteng. Ia memakai hanya pakaian dalaam. Celana strit pendek berwarna hitam serta bra. Mungkin, baginya sudah terbiasa menggunakan pakaian seperti itu selagi masih tinggal di luar negri.


Namun, tidak bagi Ramdan. Ini pemandangan pertama yang dilihatnya. Pria itu mendadak kaku karena ia bukan pria yang haus akan pemandangan seperti itu. Justru ia malah merasa malu sendiri.


"Kamu mau kemana, Mas?" tanya Morin saat melihat suaminya melenggang pergi.


"Mas mau mandi dulu, kamu istirahat saja," jawab Ramdan.


Morin membiarkan suaminya pergi, ia malah memejamkan mata karena hari ini sangat lelah. Tanpa terasa gadis yang sudah menyandang istri dari seorang Ramdan itu pun akhirnya terlelap dengan sangat cepat. Beberapa menit kemudian, Ramdan keluar dari kamar mandi. Ia mencari sebuah koper miliknya di ruangan itu.


Setelah menemukannya ia memakai pakainya. Dan sesudah itu ia menghampiri istrinya yang kini terlelap dengan nyenyak. Ramdan memandang wajah ayu istrinya. Karena ia merasa istrinya tidur, ia pun berani menyentuh wajah cantik itu.

__ADS_1


Pemandangan yang sangat indah, apa lagi melihat daging yang tak bertulang menyembul dari tempatnya yang hampir tumpah. Ramdan menelan salivanya. Bagi pria normal cukup membangkitkan gairahnya. Namun, ia belum ada keberanian untuk menyentuhnya, apa lagi yang keadaan istrinya tengah tertidur. Ia takut istrinya marah karena sudah tidak sopan.


Meski itu haknya, tapi Ramdan ingin sama-sama menginginkannya. Lama ia memandang wajah istrinya. Sampai akhirnya, Morin menggeliat karena cukup lama ia tertidur. Tak berselang lama, matanya terbuka lebar.


Pertama yang dilihatnya adalah wajah suaminya. Ramdan yang merasa terciduk memalingkan wajah. Tapi sayang, itu tidak dibiarkan begitu saja. Morin langsung memindahkan kepala dari bantal ke paha suaminya.


Keadaan itu semakin kedua buah gunung Morin sangat teelihat jelas di mata suaminya. Belahan dada itu sangat menggoda iman seorang Ramdan.


"Sebaiknya kamu mandi," kata Ramdan kemudian.


Ucapan lelaki itu disalah artikan oleh istrinya. Morin tersenyum karena ia merasa suaminya sudah tidak sabar ingin tidur bersama. Wanita itu pun beranjak dan mendudukkan diri di hadapan suaminya. Lalu mengalungkan tangan di leher suaminya. Wajah mereka saling beradu karena Morin yang melakukannya.


"Baiklah, aku akan mandi," kata wanita itu.


Morin pun melenggang ke arah kamar mandi. Ramdan melihat punggung mulus itu tanpa berkedip. Jantungnya semakin berdebar tidak karuan. Selama Morin di kamar mandi, Ramdan memesan makanan karena ia cukup lapar.


Morin keluar dari kamar mandi, dan saat itu juga makanan datang. Ramdan membuka pintu, tapi tak membiarkan pegawai masuk karena ia tak ingin istrinya dilihat oleh pegawai itu yang seorang pria. Troli makanan pun di dorong masuk oleh pegawai sampai pintu, dan Ramdan yang mendorongnya masuk ke kamar.


Lagi-lagi jantung berdebar melihat Morin yang hanya menggunakan handuk membelit sebatas dada dan bawahnya memperlihatkan paha mulus istrinya. Dengan santai, Morin mendekat dan mencicipi makanan tersebut.


"Aku mau makan sekarang deh, laper banget soalnya," ucap Morin santai. "Tapi aku mau kamu suapin aku," pintanya.


Ramdan pun menyuapi istrinya makan, sesekali ia melihat belahan dada yang terekspose. Morin tidak sadar dengan keadaannya membangkitkan gairah suaminya.


Makan pun selesai.


Ramdan mendorong troli ke sudut dinding. Namun, tiba-tiba sebuah tangan melingakar dari belakang dan itu membuat Ramdan terkejut.

__ADS_1


__ADS_2