Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 61


__ADS_3

Nisa melihat Putra dengan seksama.


"Tapi kata mamamu kamu lagi sakit," balas Nisa.


"Gak, sekarang udah sembuh. Kenapa tidak bilang padaku kalau mau kesini? Kamu juga tidak jawab panggilanku kemarin." Wajah Putra langsung masam karena sedikit kesal. Namun, rasa kesal itu sekarang hilang karena Nisa datang menemuinya.


Saat mereka berdua Sarah dan Wita datang menghampiri.


"Putra udah sembuh?" tanya Wita kemudian.


"Sudah, Tante," jawab Putra.


Dan mereka pun akhirnya keluar dari kamar, lebih tepatnya sekarang mereka sudah berada di area taman belakang.


"Mbak, rasanya aku pengen pindah dan tinggal di sini, di kota panas," ujar Wita.


"Kenapa tidak buka cabang aja di sini? Butikmu juga pasti rame di sini," kata Sarah.


Mereka berdua melepas rindu dengan saling mengungkapkan keinginan masing-masing. Wita ingin kembali ke kampung halaman, tapi ia tetap harus bersama sang suami karena suaminya bekerja di kota kedatangannya kemari pun sebenarnya ingin mempertemukan Nisa dan Putra. Rencananya, Nisa akan dipesantrenkan sejak dini. Itu keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu.


"Oh iya, Mbak. Sebenarnya aku ke sini mau bilang kalau Nisa akan pesantren," kata Wita.


"Pesantren?" tanya Sarah.


"Iya, Nisa diajak sama Uwanya. 'Kan saudara-saudara mas Rafly ikut pesantren, mau tidak mau aku melepas putriku." Wita sebenarnya sedih harus berpisah dengan anak sulungnya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Tapi itu bagus kok, demi masa depan yang jadi lebih baik lagi. Tapi Nisanya gimana? Jadi santri cilik dong," ujar Sarah.


"Iya Nisa mau karena cita-citanya mau jadi ustadzah, ngajinya juga pinter, Mbak. Aku aja kalah," jelas Wita sambil tertawa karena ia kalah sama anaknya.


"Mbak ikut ngedoain aja, semoga Nisa sehat-sehat di pesantren," kata Sarah.


Sedangkan yang dibicarakan tengah asik bermain, Putra menemani Nisa yang tengah bermain boneka dengan adik Nisa yang bernama Alifa, tak luput bersama si kembar juga yang ikut mengacau.


Entah apa saja yang mereka lakukan, isi rumah sudah seperti kapal pecah. Putra dan Nisa terkadang membereskan mainan itu kembali ke tempatnya, karena kenalakan tiga bocah membuat Putra dan Nisa kesal, akhirnya mereka berdua memilih pergi dan menonton televisi.


Putra dan Nisa begitu anteng jika sudah berdua. Terus, Nisa mengatakan bahwa ia akan pamit.


"Lusa aku pergi sama uwa, mau tinggal di pesantren," ucap Nisa.


Putra tidak begitu percaya karena Nisa sering berbohong dan menipunya.

__ADS_1


"Serius, kamu 'kan tau cita-citaku ingin jadi pendakwah," kata Nisa lagi.


"Kamu 'kan masih kecil, masa udah pesantren?"


"Kan ikut uwa, kakaknya papaku. Di sana santri-santrinya masih kecil, bahkan dari umur 4 tahun pun sudah ada," jelas Nisa.


Putra terdiam, bocah itu malah berpikir mereka tidak akan bertemu lagi karena setahunya pesantren itu tidak pulang-pulang.


Lama mereka berdua, tak lama kedua orang tuanya datang dan mengajak mereka untuk pergi jalan-jalan keluar. Sarah dan Wita pergi untuk yang pertema kalinya mengajak anak-anaknya keluar. Sarah juga mengajak baby sitter si kembar.


Putra begitu antusias saat akan pergi keluar, karena sudah lama mamanya tidak mengajak jalan-jalan.


"Ta, aku pamit sama bi Ami dulu." Sarah pergi mencari bi Ami, tapi ia malah bertemu dengan bi Nani. "Bi, Bi Ami di mana?" tanya Sarah.


"Di luar kayanya, Bu. Biasanya jam segini dia nunggu tukang sayur," jawab bi Nani selaku tukang masak.


Dan benar saja, bi Ami baru tiba membawa beberapa kantong sayuran segar yang memang dipesan dari tukang sayur langganan. Rencananya ia akan masak banyak karena Wita akan menginap di rumah Sarah.


"Bi, aku akan keluar sebentar ya. Sekalian mau makan siang, siang ini tidak usah masak. Masak untuk nanti makan malam saja," kata Sarah.


Semua tugas asisten di sana bi Ami yang urus, jadinya semuanya tergantung bi Ami.


***


Kini Sarah dan Wita sudah berada di mall, para suami tidak ikut. Malah suami Wita dan Farhan malah asik bermain catur di rumah.


Pertama yang dilakukan Sarah dan Wita adalah mengajak anak-anaknya pergi ke tempat bermain. Putra dan Nisa nampak senang. Mereka juga melihat anak-anaknya terlihat akur. Sesekali, Putra merapihkan kerudung yang dipakai Nisa.


"Jilbabnya miring," kata Putra sambil tertawa.


"Terima kasih," balas Nisa. Mereka pun kembali bermain trampolin.


Puas bermain, dilanjut makan siang. Di sini yang paling berkesan, Putra menyuapi Nisa makan. Sarah dan Wita sampai geleng-geleng kepala dengan tingkah bocah itu. Tapi mereka membiarkan itu karena Putra sangat dekat dengan Nisa sejak dulu.


Puas berada di mall dan menghabiskan waktu cukup lama, kini Sarah dan Wita pergi ke salon.


"Rambutmu masih bagus, Mbak. Gak kaya rambutku," kata Wita. Sejak menikah Wita mengenakan hijab, ditambah lagi sudah memiliki anak, membuat rambutnya rontok dan tipis.


"Ini juga rontok, tapi mas Farhan gak boleh aku potong rambut 'kan sebel. Tapi sekarang boleh jadi aku langsung saja potong rambut," jelas Sarah.


***

__ADS_1


Akhirnya, masa bermain mereka selesai. Bahkan mereka sudah berada di rumah. Waktu juga menunjukkan pukul 8 malam, semua anak-anak sudah tidur Karena kelelahan. Nisa dan Putra pun sudah tidur setelah makan malam.


Sampai keesokan paginya.


Wita dan keluarga pamit, begitu pun dengan Nisa. Gadis kecil itu pamit pada Putra. Besok gadis kecil itu akan menetap di pesantren sampai besar nanti, itu artinya mereka akan jarang bertemu, mungkin hanya lewat telepon mereka saling menyapa.


"Sampai ketemu nanti ya," kata Nisa.


"Sering-sering hubungi aku ya," ujar Putra.


Gadis kecil itu mengangguk mengiyakan permintaan Putra.


"Aku pergi ya, Mbak," pamit Wita. "Bilang sama Ramdan dan keluarganya salam dari aku," kata Wita.


"Iya."


Mereka pun akhirnya mulai menghilang dari pandangan, mobil yang ditumpangi mereka kian menjauh. Putra masih tetap berada di sana untuk melihat mobil yang ditumpangi Nisa benar-benar tidak terlihat.


"Ayo masuk," ajak Sarah pada anaknya. "Jangan sedih, Nisa pasti sering menghubungimu."


"Kalau aku kangen bagaimana, Ma? Pengen ketemu gitu," jelas Putra. Tentu ia akan merasa kehilangan gadis kecil itu. "Katanya pesantren di sana ketat," jelas Putra lagi.


"Terus? Apa kamu akan ikut pesantren seperti Nisa?" tanya Sarah.


Putra menggelengkan kepala karena cita-citanya bocah itu ingin menjadi dokter.


"Ya udah sekarang masuk ya, jangan sedih lagi," ajak Sarah.


Kesedihan Putra hilang dengan adanya si kembar, kelakuan adik-adiknya sering membuatnya tersenyum, dan perlahan Putra melupakan kesedihan itu. Mereka bermain bersama-sama.


"Ma, gimana nanti ya kalau anak om Ramdan besar? Pasti lebih seru," ujar Putra, ia sampai membayangkan adik-adiknya besar dan tumbuh sama-sama dengan ketiga anak Ramdan dan Morin nanti.


_


_


Hai pembaca yang masih setia, kita lanjut season Putra dan Nisa ya, juga kekocakkan si kembar, tunggu kelanjutan mereka ya, terima kasih sudah mendukung karyaku. Ditunggu saweran hadian dan votenya, sekali lagi terima kasih๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


Aku sengaja tidak pisah cerita mereka karena ceritanya tidak akan panjang-panjang๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Stay terus di sini ya๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—

__ADS_1


__ADS_2