
Gerak-gerik sepupunya itu sangat mencurigan, Farhan pun menemui gadis itu.
"Siapa yang kamu liat? Kenapa masih di sini? Kenapa gak ikut pengajian?" tanya Farhan.
"Ish ... Ngagetin aja sih, Mas. Boleh aku tau siapa dia? Aku sering liat di pabrik, tapi tidak tau namanya. Mau tanya gengsi," kata Morin.
"Yang mana?" Farhan melihat ke mana mata Morin tertuju. "Aku kira selama kamu kuliah di luar bakal suka wajah luar negri juga."
"Gak lah, Mas. Aku masih cinta produk sendiri," jawab Morin apa adanya. "Jadi siapa laki-laki itu?" tanya Morin lagi.
"Ramdan, namanya Ramdan dia bagian offic produksi. Harusnya kamu sudah tau siapa dia, karena dia yang memberikan laporan padamu." Farhan merasa ada yang ganjal. "Jangan-jangan kamu jarang mengecek laporan ya?"
Wanita itu nyengir tanpa dosa.
"Kerja yang bener kalau kamu mau dekat dengannya." Farhan lebih setuju Morin dekat dengan Ramdan, itung-itung membantu lelaki itu melupakan istrinya. "Ya udah, Mas tinggal." Farhan pergi dan ikut bergabung dengan orang-orang di sana.
Pengajian akhirnya selesai, para tamu yang hadir mulai undur diri satu persatu.
***
Keesokkan paginya.
Farhan mulai ke kantor karena rasa mual sudah mulai menghilang. Mengingat Morin masih belum bisa diandalkan mau tak mau ia meninjau pabrik secara langsung sambil mengayomi Morin dengan pekerjaannya.
Morin sendiri yang awalnya sedikit bermalas-malasan sekarang sangat antusias pagi ini. Sang mama pun terheran-heran.
"Tumben sudah siap berangkat, biasanya juga tiap pagi telepon Mama kamu ngeluh dengan pekerjaan ini. Katanya bosan tidak betah di Bandung kehidupannya beda dengan luar negri," kata mama Siska.
"Ah, Mama. Aku 'kan mau membiasakan diri, Ma. Mau coba serius di pabrik mas Farhan," jawab Morin.
"Bohong itu, Tante. Dia lagi naksir seseorang aja," timpal Farhan yang baru saja tiba di ruang makan. Seusai pengajian semalam, semua keluarga masih berkumpul di rumahnya.
Sarah yang mendengar pun ikut menimpali. "Siapa yang ditaksir Morin?" tanya Sarah.
__ADS_1
"Lelaki yang dulu tergila-gila padamu," jawab Farhan.
"Siapa?" Sarah merasa tidak ada yang tergila-gila padanya selain suaminya sendiri. "Yang tergila-gila padaku itu cuma kamu, Mas."
"Oh ya, Ramdan tidak memangnya?"
"Itu pikiran kamu saja, buktinya dia baik-baik saja. Tidak gila juga 'kan setelah aku rujuk denganmu?"
Farhan memutar bola mata jengah, istrinya selalu menyindirnya. Tapi ya sudahlah, itu memang kenyataannya bahwa ia sendiri yang tergila-gila.
"Mas Farhan jangan ngegosip deh," sahut Morin. Ia masih punya malu untuk mengakui bahwa ia memang tengah ingin mengenal sosok Ramdan, wajah polos itu sangat terbayang-bayang dalam benaknya. Pria dalam negri tak kalah tampan, pikir Morin.
***
"Sayang, kamu baik-baik di rumah ya? Aku tidak akan lama di pabrik," kata Farhan sebelum berangkat. "Aku hanya mau ngasih tau Morin apa saja yang harus dilakukannya di pabrik."
"Iya, Mas. Kamu bimbing Morin, siapa tau keinginannya tercapai," sindir Sarah.
"Gak apa-apa kalau kamu memang naksir Ramdan, dia baik kok orangnya. Kamu pasti beruntung kalau kenal dengannya. Mbak dukung seratus persen deh," kata Sarah.
"Apaan sih Mbak Sarah ini, udah ah. Aku berangkat, ayo," ajak Morin pada Farhan.
Farhan memang berniat mendekatkan Morin pada Ramdan, ia yakin laki-laki itu bisa mengubah kebiasaan buruk Morin selama tinggal di luar negri. Kebiasaan buruk bukan berarti menjadi wanita nakal, gadis itu sedikit membangkang pada orang tuanya. Morin susah diatur, itu makanya mama Amel tidak mau mengajak keponakannya tinggal bersamanya.
Dan benar saja, ternyata Morin tertarik dengan kepolosan pemuda itu. Sejak bertemu, Morin tak melepaskan tatapannya pada Ramdan. Dan itu terlihat jelas oleh Farhan. Setelah melihat laporan dari Ramdan, Farhan menghubungi HRD. Meminta jabatan Ramdan dinaikkan.
Sampai akhirnya, Ramdan dipanggil pihak HRD. Awalnya Ramdan tidak percaya dengan kenaikan jabatannya. Tak sedikit pun curiga, ia senang-senang saja. Naik jabatan itu artinya ia ada kenaikkan gaji. Tanpa berpikir ke arah lain dengan keberadaan saudara atasannya itu.
Ramdan menemui atasannya yang tak lain adalah Farhan.
"Bapak panggil saya?" tanya Ramdan setibanya di ruangan atasannya itu.
"Iya, mulai saat ini kamu bantu Morin. Kamu jadi asisten Morin. Bantu dia soal laporan saya rasa dia belum paham soal laporan," terang Farhan.
__ADS_1
"Oh, iya, Pak. Dengan senang hati saya akan membantunya," jawab Ramdan.
"Baiklah, Morin. Mas rasa kamu bisa belajar darinya," kata Farhan. "Ramdan, saya tinggal dulu ya," pamit Farhan.
"Iya, Pak," jawab pemuda itu.
***
Farhan langsung pulang setelah menaikkan jabatan Ramdan. Mulai saat ini ia menyuruh Morin benar-benar mengurus perusahaannya dibantu oleh Ramdan.
"Kamu serius, Mas?' tanya Sarah soal kenaikan jabatan lelaki itu.
"Iya, Mas serius. Dia sudah banyak bantu kamu waktu dulu, anggap saja ini ucapan terima kasihku karena sering belikan maianan untuk Putra. Lagian, Morin memang suka pada Ramdan. Aku ingin Morin hidup lebih baik di sini, tidak lagi membangkang apa kata orang tua. Melihat kebaikan Ramdan bisa berpengaruh positif untuk Morin," jelas Farhan.
"Iya, Mas. Kamu tidak salah orang, Ramdan baik, dia pasti bisa mengayomi Morin yang agak bar-bar itu," jawab Sarah. "Semoga saja ada tumbuh cinta dari keduanya," sambungnya lagi.
"kamu benar," kata Farhan.
Seiring berjalannya waktu, Morin benar-benar terbiasa. Selama bekerja ia menghabiskan waktu bersama Ramdan, dari mulai istirahat sampai pulang bareng. Ramdan juga orangnya gampang berbaur, sehingga ia sudah bisa akrab dengan Morin.
Dan kini, perut Sarah sudah mulai membesar. Tinggal menghitung hari menuju proses persalinan. Berhubung anaknya kembar, dokter menyarankan untuk operasi. Mau tak mau Sarah pun pasrah dan ikut apa kata dokter.
Namun, keinginan Farhan kelahiran anak kembarnya ingin pas hari jadi pernikahannya yang terdahulu. Berhubung lusa, jadi Sarah akan melaksanakan operasi besok lusa.
Tubuh Sarah sudah berkeringat dingin, belum apa-apa dia sudah membayangkan bagaimana rasanya melahirkan dengan cara lain. Namun, ini yang terbaik. Ia harus menuruti apa kata dokter.
Dan hari itu akhirnya tiba. Sarah sudah masuk ruang operasi ditemani Farhan. Tak harus menunggu lama karena operasi memang sudah dipikirkan matang-matang. Membutuhkan sekitar tiga jam di dalam ruang operasi, akhirnya suara tangis bayi pun terdengar.
Sarah dan suaminya tersenyum bahagia saat tahu anak kembarnya telah lahir ke dunia. Sepasang anak kembar itu melengkapi kebahagiaan Sarah dan Farhan.
*****
Akhirnya, sampai dipenghujung cerita Sarah dan Farhan ya. Mereka sudah bahagia. Tapi tenang saja, aku ada kisah yang lain juga kok jadi ceritanya belum tamat๐๐๐
__ADS_1