
Setelah mencabut kapal selam dari kedalaman tak seberapa itu, Ramdan langsung memakai bajunya ia takut ada yang masuk ke dalam kamar.
"Kamu kenapa, Mas? Kayak lagi ketangkap basah aja."
Krik ... Krik ...
Suasana seketika hening. Ramdan baru tersadar bahwa ia sudah menikah dan tak ada yang akan menghakiminya saat ini. Morin istrinya, apa yang perlu ditakutkan?
"Mmm, anu ..." Ramdan merasa jadi orang bodoh saja. Tak lama, ia malah tersenyum kaku.
"Pintu 'kan dikunci, Mas. Tidak ada yang bisa masuk ke sini jika kita tidak membukanya," ujar Morin. "Awww ...," pekiknya kemudian.
"Mana yang sakit?" tanya Ramdan yang begitu khawatir. Pria itu mengecek seluruh tubuh istrinya. "Apa itu sakit sekali?" Pertanyaan bodoh itu yang malah keluar dari mulutnya.
Morin pun terdiam, perlu ia menjawab dan menjelaskan keadaannya? Oh, ya Tuhan ... Polos sekali lelaki itu. Morin sampai menepuk jidatnya sendiri.
"Rasanya nikmat, Mas. Kalau bisa aku mau nambah," jawab Morin disertai candaan.
"Serius? Boleh aku melakukannya lagi?" Rasanya begitu nikmat, meski ia sendiri pun merasakan ngilu di ujung senjatanya karena milik istrinya masih ting-ting.
Ramdan kembali mendekat kearah istrinya, dan memajukkan wajah karena akan mencium bibir ranum istrinya. Mereka sampai melupakan seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
Belum bibir mereka bersentuhan, pintu kamarnya kembali diketuk.
"Morin ... Buka pintunya," teriak orang itu.
"Mama ...," ucap Morin.
Saat tahu siapa yang datang, Ramdan langsung beranjak dan memakai celana. Namun, istrinya?
"Biar aku yang temui," kata Ramdan.
__ADS_1
Saat Ramdan keluar untuk menemui ibu mertuanya, tiba-tiba di dalam kamar Morin mendadak meriang, entah kenapa wanita itu sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Yang jelas, tubuhnya mulai menghangat dan ia langsung menarik selimut untuk menutup tubuhnya yang masih polos.
Sementara Ramdan, ia membuka pintu. Nampaklah seorang wanita dengan gaya rambut pendeknya. Mama mertuanya memang terlihat seperti laki-laki jika dilihat dari belakang. Namun, wajah cantiknya tidak bisa membohongi karena dia memang perempuan.
"Di mana, Morin? Mama ingin bertemu dengannya, dia ada di dalam 'kan?" tanya ibu mertua Ramdan.
"A-ada, Ma." Ramdan takut wanita itu masuk dan melihat istrinya yang berada di tempat tidur, apa lagi dengan keadaannya tanpa pakaian. Juga di dalam sana seperti kapal pecah. "Jangan sampai masuk," batinya kemudian.
Apa lagi sampai melihat bercak darah itu, wah tamatlah sudah riwayatnya hari ini. Dan benar saja, kekhawatirannya terjadi, wanita paruh baya itu masuk begitu saja. Jantungnya berpacu sangat cepat saat melihat ibu mertua menghampiri istrinya yang ada di balik selimut itu.
"Morin," panggil ibunya.
Ramdan garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Kenapa harus kedatangan ibu mertua dalam keadaan seperti ini? Tahu gitu ia menunda surga dunia-nya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, toh ini keinginan istrinya.
"Morin tidur, Ma. Katanya dia cape." Penuturan Ramdan padahal itu hanya alasan.
Mendengar itu, mama Siska mengurungkan niatnya. Padahal, ia hanya ingin pamit. Ia akan pulang ke Jakarta malam ini juga, berhubung anaknya tidur dan ia memakluminya mungkin karena lelah. Akhirnya ia berpesan pada menantunya itu.
Wanita itu belum tahu siapa Ramdan, ia hanya bisa melihat dari luar. Itu mengapa ia tak mengizinkan anaknya bermalam di hotel, akan lebih baik tidur di rumah. Sejujurnya, ia belum bisa menerima pernikahan ini.
Tidak mudah mempercayai orang baru, apa lagi itu berhubungan dengan putrinya.
"I-iya, Ma," jawab Ramdan.
"Jangan cuma iya-iya aja." Jawaban menantunya pun tidak meyakinkan. Malah terdengar gagap, kecemasan pun bertambah dalam diri wanita itu. "Ya sudah, Mama pulang. Nanti susul Mama di rumah Farhan ya?"
"Iya, Ma," jawab Ramdan.
Wanita itu pun akhirnya keluar dan Ramdab bernapas lega sambil menutup pintu dan menyandar sejenak. Ia segera menyusul istrinya dan ikut bergulung di dalam selimut. Tapi apa yang diketahuinya? Saat itu juga Ramdan mengecek keadaan istrinya.
"Kok demam sih?" Ramdan panik karena takut terjadi sesuatu pada istrinya. "Aduh apa ini penyebab barusan? Bagaimana ini? Apa perlu aku membawanya ke rumah sakit? Tapi bagaimana kalau dokter tau soal ini?"
__ADS_1
Tak tinggal diam, ia langsung menghubungi pihak hotel, meminta obat pereda nyeri dan penurun panas. Ini pasti ulahnya, pikirnya.
Tubuh Morin bergetar, juga tubuhnya panas.
"Mas, aku gak apa-apa kok. Hanya saja tiba-tiba meriang," kata Morin. Ia mendengar kekhawatir suaminya barusan.
"Kamu kenapa? Apanya yang sakit? Aku minta maaf ya, sayang. Janji deh gak minta lagi, tunggu kamu sembuh dulu baru aku akan melakukannya lagi." Ramdan begitu khawatir, lalu mengusap kepala istrinya dengan sayang.
Tak lama, pintu kamar kembali diketuk. Ia yakin yang datang itu pasti karyawan hotel. Dan saat itu juga ibu mertuanya kembali. Ramdan buru-buru mengambil pesananya sebelum ibu mertuanya sampai ia kembali masuk dan mengunci pintu.
"Kenapa harus balik lagi sih?" gerutunya. "Kan bisa gawat kalau tau Morin sakit, duh harus jawab apa?"
Ramdan memicingkan telinga, menunggu seseorang mengetuk pintu atau memanggilnya. Tak ada ketukan pintu mau pun yang memanggilnya. "Apa mama mertua tidak jadi ke sini?" pikirnya. "Bagulah." Ia kembali menemui istrinya, memberi obat pereda nyeri dan penurun panas.
"Sayang, jangan sakit dong. Aku 'kan merasa bersalah," tutur Ramdan setelah memberi istrinya obat
"Aku tidak apa-apa, ini hanya mengigil. Mungkin terlalu lama tak mengenakan baju." Morinang cukup lama dalam keadaan polos, dari sesudah mandi sampai sekarang keadaannya masih polos.
"Pakai baju tadi ku bilang, kamu malah ngeyel dan mengajak kita ..." Rasanya malu jika harus diungkapkan ia rasa istrinya itu tahu apa maksudnya. "Oh iya, tadi mama bilang ..."
"Iya, aku tahu. Tadi aku juga denger kok, biarin deh aku mau di sini sama suamiku. Di rumah ada yang ganggu, apa lagi ditambah anaknya mas Farhan. Kamu gak tau sih aktifnya adik-adik aku."
"Aku malah seneng jadi banyak teman, adik-adikmu lucu."
"Lucu dari mana, mereka itu rese suka bikin aku kesal," gerutunya. "Kamu sini dong, kita tidur. Lagian aku tidak apa-apa, minum obat juga nanti sembuh," sambungnya.
Karena lama, Morin pun menarik tangan suaminya agar tidur di sampingnya.
"Jangan begini, nanti aku tidak bisa menahannya," kata Ramdan saat istrinya memeluknya dalam keadaan polos.
"Memangnya kenapa? Kalau aku yang menginginkannya bagaimana? Apa kamu akan menolakku, hah?"
__ADS_1
"Jangan salahkan aku ya?" Tapi, itu hanya candaan. Ramdan bukan tipe laki-laki yang tega apa lagi kepada istrinya. Mereka pun akhirnya beristirahat, menunggu hari besok untuk kembali ke rumah dan menaklukan macan betina di sana.