Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 40


__ADS_3

Sarah buru-buru memakai pakaiannya sampai-sampai ia melupakan sesuatu yang tertinggal di sana, tapi entah apa itu, ia sendiri tidak sadar karena saking buru-burunya memakai pakaiannya.


"Mas, aku duluan ke kamar ya. Takut Putra malah semakin berisik dan membangunkan semua orang di sini." Sarah turun dari tempat tidur sambil menyisir rambutnya dengan jari dan meninggalkan suaminya yang masih terlantang di atas kasur.


"Hmm," jawab Farhan yang masih lemas.


Pada saat Sarah keluar ternyata Putra sudah berdiri di ambang pintu.


"Mama ... Kok Mama tinggalin aku sendiri sih." Suara anak kecil itu terdengar serak seperti akan menangis. Setiap malamnya tidak pernah tidur tanpa sang mama membuat anak itu merasa takut tidur sendiri apa lagi kamar itu cukup luas.


"Maafkan, Mama. Tadi Mama hanya bantu Papa," jelas Sarah sambil melongokan wajahnya ke dalam kamar.


"Bantu, papa? Emangny papa kenapa?" tanya Putra semakin ingin tahu.


"Ya udah, kita ke kamar ya. Ini masih malam," ajak Sarah sambil menuntun anaknya untuk tidur kembali agar tak lagi banyak bertanya.


Tak lama, Farhan pun menyusul anak dan istrinya. Meninggalkan kamar dalam keadaan acak-acakan.


Tiba di dalam kamar, Sarah nampak sedang menidurkan Putra menepuk-nepuk tubuh bagian belakang anaknya agar cepat tidur kembali. Melihat sang istri tengah tidur dalam posisi meringkuk, sontak membuat Farhan langsung nemplok di punggung istrinya. Memeluknya sambil meraba bagian dada.


"Istriku melupakan sesuatu," batinnya. Namun, ia tak memberitahukan masalah itu. Ia malah menikmatinya, memilin ujung dada.


Sarah pikir suaminya memasukkanya ke dalam bra. Orang setengah sadar karena mengantuk mungkin bisa terjadi, pikir Farhan yang istrinya tak mengenakan dalaman itu.


Mereka bertiga pun akhirnya terlelap bersama. Sarah dan suaminya memang tengah lelah sehingga membuat merek lebih cepat tidur.


Sampai keesokkan paginya, Sarah terbangun. Ia merasa ada yang aneh, lalu meraba dadanya sendiri. Ia sampai menepuk keningnya.


"Teledor banget sih, kenapa sampai bisa lupa?" Lalu, ia menoleh ke dingding, melihat jam yang menempel di sana. "Hah, jam 9." Sarah terkejut, bahkan anaknya pun sudah tidak ada di dalam kamar.


"Bangun, Mas. Kita kesiangan," ujar Sarah sambil menggoyangkan tubuh suaminya.


"Masih ngantuk," jawab Farhan, pria itu malah menarik selimut.


Sarah segera turun karena ia akan ke kamar sebelah untuk mengambil yang tertinggal bekas semalam. Namun, tempat tidur itu sudah rapi.


"Duh, gimana ini? Memalukan sekali kalau sampai ada yang menemukannya." Tapi ia tetap mencari sampai ke kolong tempat tidur. Dan hasilnya nihil.

__ADS_1


Pada saat Sarah menundukkan kepala ke kolong tempat tidur, si bibi datang sambil membawa ember dan alat untuk mengepel.


"Cari apa, Bu?" tanya wanita paruh baya itu.


"Eh, Bi. Aku cari anu ...," ucap Sarah menggantung.


"Oh cari itu ya, Bibi sudah bawa ke tempat cuci, Bu," jawab bibi tanpa menyebutkan barang yang dicari majikannya. Si bibi pun merasa malu sendiri karena ia tahu kamar itu yang acak-acakan pasti di tempati oleh pengantin baru itu.


"Oh gitu ya, Bi. Ya udah tidak apa-apa kalau sudah ada di tempat cuci." Sarah pun melenggang pergi. Namun, detik itu juga membalikkan tubuh tepat di ambang pintu. "Bi, jangan bilang siapa-siapa ya." Ujar Sarah sambil meletakkan jari di bibirnya.


Wanita paruh baya itu tersenyum sambil mengacungkan ibu jari sebagai jawaban bahwa ia tak akan mengatakannya kepada orang lain, termasuk sang nyonya.


Dari dulu, pembantu itu sudah bekerja di sana selagi Sarah masih menjadi istri Farhan. Keteledoran wanita itu kerap terjadi, jadi si bibi memakluminya.


***


Di area belakang rumah terdapat kolam renang. Sarah baru selesai mandi dan menjemur tubuhnya meski matahari sudah menyongsong. Lalu mendengar suara anak kecil yang tak lain adalah anaknya. Bocah itu ternyata tengah berenang bersama sang kakek. Permana begitu bahagia memiliki cucu.


Sarah pun melihat dari balkon kamar. Ia tersenyum saat melihat keakraban kakek dan cucu itu. Tak lama, sebuah tangan melingkar di area perut. Ia tahu siapa pemilik tangan itu. Siapa lagi kalau bukan Farhan. Lelaki itu mencium pipi Sarah dari samping, ia baru saja terbangun dari tidurnya.


"Oke," jawab Sarah. "Lepasin dong," pintanya lagi.


Sebelum melepaskan sang istri, Farhan menciumnya terlebih dulu. Seusai kepergian Sarah, Farhan sendiri ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


***


Sarah masih berkutat di dapur. Mama Amel nampak memperhatikan dari kejauhan. Ia tak mengganggu sama sekali bahkan melihat anaknya yang baru saja tiba. Pemandangan yang sangat membuat hatinya sejuk.


Farhan nampak menggoda istrinya itu, ini pertama kali ia melihatnya. Karena dulu, Farhan jarang terlihat bersama sang istri. Lagi pun, dulu wanita itu tak pernah turun ke dapur. Setelah bercerai dari Farhan, banyak perubaham dalam diri Sarah.


"Mungkin memang harua begini dulu," ujar mama Amel sendiri. Ia pun pergi tak lagi memperhatikan sepasang suami itu, ia menemui suaminya yang masih berenang bersama Putra.


"Udah belum? Kok lama?" tanya Farhan pada Sarah.


"Sebentar lagi selesai kok, sekalian aku buat untuk Putra juga. Dia lagi berenang sama papa," jelas Sarah.


"Ada yang perlu aku bantu gak?" tanya Farhan.

__ADS_1


"Apa ya, boleh temui Putra untuk menyudahi berenangnya? Setauku sudah dari tadi dia berenang," kata Sarah.


"Oke, kalau sudah selesai bawa saja ke kolam ya," pinta Farhan.


"Iya, Mas."


***


Di kolam, Putra memang sudah menyudahi aktivitasnya. Ia tengah memakai handuk.


"Papa baru bangun ya?" tanya Putra.


Farhan hanya mengumbar senyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Nasi goreng datang," kata Sarah kemudian.


"Asik," girang Putra. Anak itu memang tengah kelaparan.


Farhan dan anaknya menyantap nasi goreng bersama-sama.


"Kakek gak dikasih nih?" tanya Permana.


"Kakek makan berdua sama aku," ucap Putra.


Kebersamaan itu membuat mereka bahagia. Tak perlu kemewahan bagi Sarah, rasa cinta yang tulus sudah membuat begitu bahagia.


"Sayang, sudah tidak lupa lagi 'kan?" tanya Farhan berbisik.


Sarah mengerutkan kedua alis, bingung dengan pertanyaan suaminya. Lalu melihat ekor mata suaminya itu terarah pada bagian dada. Sontak, membuat Sarah memukul bagian bahu dengan pelan.


"Jadi jam berapa kalian berangkat?" tanya Permana menghentikan aktivitasnya yang tengah makan nasi goreng.


"Sore mungkin, Pa," jawab Farhan. Ia dan istrinya akan terbang ke Bali untuk berbulan madu. Tidak ada lagi gangguan saat bercinta nanti. Wajah mesum mulai terlihat, Sarah sendiri sampai bergidik. Suaminya benar-benar ingin menghabiskan waktu berdua.


Dan tibalah saatnya mereka berangkat.


"Papa sama Mama pergi dulu ya, Putra baik-baik di sini sama Kakek, Nenek ya?" pamit Farhan pada anaknya.

__ADS_1


__ADS_2