
"Mamaku, sayang. Apa urusannya dengan keahlian Ramdan soal restu?" tanya Morin dengan nada selembut mungkin, karena ia ingin menjinakkan ular betina yang ada dihadapannya.
"Kamu diam saja, ini urusan Mama sama kekasihmu itu," jawab sang mama.
Dan kebetulan, saat mama Siska mengucapkan itu Farhan melintas. Saking tidak percaya dengan pendengarannya ia langsung menghampiri ketiga orang itu.
"Apa, Tante?" tanya Farhan. "Tante bilang kekasih?" Farhan melihat ke arah Morin dan Ramdan secara bergantian. Ia sampai mengira mereka sudah lama pacaran karena terlihat cukup dekat. "Pantas saja kalian sering menghabiskan waktu berdua di ruangan, ternyata kalian pacaran," kata Farhan sambil menyentuh dagu dan manggut-manggut.
"Apa? Kalian sering berduaan di ruangan? Kalian tidak melakukan yang macam-macam 'kan? Kamu masih perawan 'kan, Morin?" tanya mamanya.
"Ih, Mama. Pertanyaan model apa kayak gitu? Ramdan pemuda baik-baik, Ma. Dia sangat sopan dan menjagaku dengan baik selama ini, jangan dengar Mas Farhan ngomongnya itu ngaur," katanya lagi. "Mas Farhan jangan bikin suasana memanas deh!" cetus Morin.
Padahal, justru Farhan tengah membantunya agar mamanya Morin segera memberikan restunya dengan cara instan. Orang tua mana pun pasti merasa khawatir jika mendengar anaknya sering berduaan dengan lawan jenis.
Mama Morin langsung terkejut saat mendengarnya, ia takut menjadi orang tua yang gagal dalam mendidik anak gadis satu-satunya itu.
"Farhan, coba panggil orang tuamu," titah sang tante pada keponakannya.
"Siap, Tante." Farhan melenggang pergi sambil melantunkan sebuah lagu. "Kawin, kawin ... Statusku di KTP-ku nanti jadi KAWIN ... Ma, pa ... Dipanggil Tante Siska tuh?!" teriak Farhan.
Tak lama, Amel dan Permana muncul. Mereka menemui Siska yang masih duduk di ruang tamu bersama Ramdan juga Morin. Amel dan suaminya duduk di hadapan pemuda itu.
"Bantu aku tentukan hari pernikahan untuk mereka," ucap Siska tiba-tiba. Tidak ada penilaian lagi kalau begini caranya ia harus segera menikahkan putrinya sebelum terlambat. Bahkan ia sudah membayangkan perut anaknya besar sebelum ada hari pernikahan. "Jangan sampai itu terjadi, amit-amit," ucapnya sambil mengetok meja lalu di kepala.
"Apa maksud Mama kayak gitu? Amit-amit kenapa? Kaya orang lagi ngidam aja," kata Morin yang tidak tahu artinya.
"Kenapa harus buru-buru?" tanya Permana soal pernikahan Morin, ia memang tahu kalau Morin dan Ramdan menjalin hubungan, dan ia tahu dari istrinya. Permana menyikapi ini dengan santai karena ia tahu siapa Ramdan. Diam-diam, Bayu sering memantau para pekerja di perusahaan. Dan Ramdan termasuk orang yang dipantaunya, apa lagi setelah menjadi asisten keponakannya itu.
"Jangan terlalu santai gitu dong, Mas. Kayak gak tau aja gimana gaya pacaran anak-anak jaman sekarang, aku tidak mau terlambat. Amanah papanya Morin cukup berat bagiku," tutur Siska.
"Emang kalian sudah siap menikah? Terutama kamu, Ramdan?" tanya Permana.
"Aku siap, Om," jawab Morin.
"Om tanya Ramdan, bukan tanya kamu," ucap Permana.
__ADS_1
"Siap, Pak," jawab Ramdan. Lagi pun, umurnya sudah cukup matang untuk membina sebuah keluarga, ia juga selalu dituntut oleh orang tuanya agar cepat menikah.
"Baiklah, sepertinya restu sudah didapat ya? Kita cari tanggal baik bulan depan," kata Permana.
Siska pun akhirnya pasrah dari pada terlambat dan menyesal dikemudian hari. Ia ikut apa kata kakak iparnya. Setelah suaminya meninggal, ia selalu meminta pendapat dari kakaknya.
***
Di ruangan lain.
Farhan tengah gembira karena pria yang menyukai istrinya sebentar lagi akan menikah. Hilang rasa cemas itu, meski tidak mungkin Ramdan merebut istrinya, tapi tetap saja rasa takut itu ada. Farhan tengah bersama anak kembarnya di kamar, bibirnya terus melengkung mengumbar senyuman.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Sarah. "Aku perhatikan kamu senyum-senyum terus, aku jadi khawatir," ucap Sarah lagi.
"Sebentar lagi ada yang mau nikah," jawabnya.
"Siapa?" Sarah penasaran.
"Tante Siska memberikan restu dengan gampang pada Ramdan karena terhasut omonganku," jawabnya.
"Ramdan dan Morin akan menikah karena aku bilang mereka sering menghabiskan waktu berdua di ruangan dan itu buat tante Siska khawatir takut terjadi yang tidak-tidak di antara mereka," kata Farhan.
"Mas, kamu ini ada-ada saja." Sarah sampai menggelengkan kepala.
Farhan berpikir kalau tidak dengan cara seperti itu pasti susah mendapatkan restu dari tantenya. Apa lagi dengan keadaan Ramdan yang lemah lembut begitu. Ramdan bukan tipe menantu yang diinginkan tante Siska. Justru dengan perbuatannya yang seperti ini membuat Morin mendapatkan restu dengan sangat gampang.
Harusnya mereka berterima kasih padanya karena sudah membantunya.
***
Tibalah waktu yang ditunggu-tunggu.
Permana dan yang lainnya datang ke rumah Ramdan untuk mencari tanggal baik untuk pernikahan keponakannya itu. Keadaan rumah Ramdan cukup rapi dan bagus. Rumah yang ia dirikan dari hasil kerja kerasnya selama ini.
Diam-diam, pemuda itu idaman para wanita. Apa lagi di kampungnya. Ramdan terbilang mapan untuk dijadikan suami. Dan sekarang, mereka sudah berkumpul. Orang tua Ramdan menyambut kedatangan calon besan.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya berbincang dan tanggal sudah ditentukan. Sebagai putra bungsu, Ramdan sudah siap menikah karena tidak ada penghalang untuk menikahi sang pujaan hati.
Ibunya Ramdan setuju, apa lagi calon menantunya itu sangat cantik. Ia malah membayangkan punya cucu dari gadis itu, pasti sangat lucu dan menggemaskan.
Tak ada pacaran lama-lama, Ramdan dan Morin langsung menikah setelah orang tuanya tahu soal hubungan mereka. Tak menunggu lama lagi, pernikahan langsung disiapkan sebaik mungkin. Dari gedung sampai baju pengantin, Farhan yang menyiapkan itu sebagai kado pernikahan.
Morin bahagia memiliki saudara seperti Farhan, terlihat cuek tapi sangat perhatian. Permana juga ikut membantu, dan itu membuat Morin tak kehilangan sosok ayah. Gedung sudah siap dan baju pengantin tengah dipesan. Baju pengantin diserahkan kepada Wita, mereka sudah percaya hasil rancangan baju-bajunya. Apa lagi Sarah ikut membantu merancangnya.
"Istriku sangat hebat," puji Farhan saat melihat rancangan baju pengantin untuk Morin dari layar laptop yang dilihatnya.
"Aku gak nyangka kalau Ramdan dan Morin akan menikah secepat ini," ucap Sarah.
"Itu karena aku yang buat tante Siska takut." Ucap Farhan sambil tertawa puas.
***
Hari pernikahan itu pun tiba.
Ramdan sudah siap untuk mengucapkan ijab qobul. Disaksikan beberapa pasang mata. Pria itu sangat ded-degan, menanti kehadiran calon mempelai. Perlahan tapi pasti, Morin berjalan dengan sangat anggun ke arah calon suaminya yang sudah duduk di kursi bersama bapak penghulu. Farhan sendiri yang menjadi saksi di pernikahan keponakannya itu.
Farhan tidak menyangka bakal menjadi saksi orang yang dulu sempat mencintai istrinya. Namun, ia cukup senang dan bahagia. Setelah Morin duduk di samping calon suaminya, Morin juga terlihat begitu bahagia dengan pernikahan ini.
Sampai pada akhirnya, Ramdan berhasil mengucapkan ikrar cinta pada wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya beberapa detik lalu. Namun, perjuangan Ramdan belum cukup sampai di sini. Mama Siska terpaksa menerima Ramdan sebagai menantu karena ia belum tahu bagaimana kelakuan pria itu, apa dia layak menjadi menantu?
Morin mencium tangan suaminya lalu membisikkan sesuatu. "Kamu pasti bisa buat mamaku luluh, jangan khawatir ya. Aku ada di sampingmu."
_
_
Selagi nunggu aku up lagi kalian bisa mampir di sini.
__ADS_1