
Tiba di kawasan puncak tepat azdan berkumandang ba'da dzuhur. Mereka pun akhirnya melakukan ibadah shalat berjamaah. Tapi tidak dengan Miko, pria itu malah menyalakan sebatang rokok dan duduk di mobil dengan membuka pintunya.
"Ayok," ajak Putra pada Miko.
Miko hanya tersenyum tipis sambil mengangguk. Putra pun akhirnya pergi lebih dulu.
"Wa, Miko gak ikut shalat berjamaah? Sebentar lagi mulai," kata Putra pada uwa Nisa.
"Dia non muslim, tapi dia peduli sekali sama anak-anak yayasan," jawab uwa.
Seketika, Putra terdiam. Ia teringat Nisa. Jadi ini arti lagu yang disukainya. Hati Putra merasa tercabik, Nisa ternyata menyukai lelaki non muslim itu. Cinta yang memang tak akan dimiliki.
"Nisa memendam perasaan pada lelaki itu," batin Putra.
"Ayo, kenapa diam saja?" tanya uwa karena Putra tak kunjung membaca niat.
Putra pun akhirnya terkesiap, dan ikut shalat berjamaah. Setelah selesai shalat, acara dimulai. Putra lebih banyak diam, sesekali ia memperhatikan Nisa yang sedang bersama Miko. Keduanya nampak saling suka. Pandangan yang memang tidak bisa dipungkiri. Miko laki-laki yang sangat baik, tak heran jika Nisa menyukai pemuda itu. Namun, ada yang membuat mereka tidak bisa bersama. Miko yang begitu kukuh dengan agamanya.
Karena menurutnya, cinta tak meski saling memiliki. Hanya batas rasa kagum dari keduanya akan sifat masing-masing. Nisa senang bisa berteman dengan Miko, meski beda agama tak membuat mereka berbeda pendapat soal pesantren. Miko begitu menghargai, dengan begini ia bisa menyumbangkan rezekinya bagi yang membutuhkan.
"Kak Putra kenapa tidak ikut bergabung?" tanya Alifa.
"Ada Miko, biarkan saja dia yang membantu," ucap Putra.
Ia rasa cinta Nisa begitu besar pada lelaki itu, Putra hanya bisa pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa, apa lagi melarang kedekatan mereka.
Dan disebrang sana, Nisa nampak melihat ke arah Putra dan Alifa. Ia pun tersenyum di balik cadarnya saat pandangan Putra terarah kepadanya. Namun, Putra langsung memalingkan wajah. Cintanya ternyata bertepuk sebelah tangan, terasa sangat sakit.
"Ayok kesana." Alifa mendorong tubuh Putra dari belakang agar lelaki itu bersama kakaknya. Karena ia tahu bahwa kakaknya itu tidak mungkin memiliki perasaan pada Miko. Karena sampai kapan pun mereka tidak akan bisa bersama. Hanya persahabatan yang terjalin.
Miko yang sadar akan hal itu, ia membiarkan Putra bersama Nisa.
"Nisa, aku ke sana dulu ya," pamit Miko.
__ADS_1
Nisa pun hanya bisa melihat kepergian lelaki itu. Putra yakin bahwa Nisa merasa berat untuk melepas lelaki itu dari sisinya.
"Aku ganggu ya?" tanya Putra.
Nisa tak kunjung menjawab karena masih menatap Miko.
"Kak, diajak ngobrol tuh," ucap Alifa.
"Ah, iya. Ada apa?" tanya Nisa. "Ada apa Put?" tanyanya.
"Tidak ada apa-apa, lupakan saja," jawab Putra. Ia merasa dengan keberadaannya membuat mereka jauh, akhirnya Putra membantu aktivitas Nisa yang tengah terhenti sampai selesai.
***
Acara akhirnya selesai pada jam 5 sore. Putra, sejak tadi tidak bisa konsen. Ia malah memikirkan perasaan Nisa kepada Miko. Kalau pun ia menyatakan cintanya, belum tentu Nisa menerimanya. Ia belum siap patah hati untuk yang kedua kalinya.
Dan sekarang, mereka siap kembali untuk pulang. Nisa ikut pulang bersama Putra. Saat dalam perjalanan pulang, Putra tak banyak bicara seperti tadi. Nisa pun sampai heran. Tapi ia tak berani bertanya mengenai hal itu.
Nisa dan Alifa tertidur, bahkan setelah sampai pun mereka masih tidur. Putra tak berani membangunkan sehingga uwa Nisa menghampiri karena ketiga penumpang itu tak kunjung turun. Uwa mengetuk pintu mobil, dan Putra membukanya.
Uwa Nisa langsung membangunkan keponakannya itu. "Nisa, Alifa. Ayo bangun."
Nisa lebih dulu terbangun, lalu disusul oleh Alifa. Kedua gadis itu pun akhirnya turun dari mobil. Namun, Putra tak ikut turun karena ia akan langsung pulang. Terlebih dengan hatinya yang masih tak menentu. Hati Nisa sudah tertutup sebelum ia menyatakan cintanya.
***
Putra sudah sampai di rumah. Lelaki itu langsung mengurung diri di kamar, sambil mendengarkan lagi yang tengah ia alami sekarang. Sebuah lagu yang dilantunkan oleh musisi dengan lagu-lagunya yang begitu menjiwai. Sebuah lagu dari Iwan Fals yang berjudul 'izinkan aku menyayangimu.'
"Bila cinta tak menyatukan kita, bila tak mungkin bersama, izinkan aku tetap menyayangimu ..."
Putra ikut bernyanyi sampai adik perempaunnya menggedor pintu. Sontak, membuat Putra langsung terbangun.
"Apa sih, ganggu aja?!" kata Putra.
__ADS_1
"Berisik, gak tau kalau aku lagi belajar?!" cetus Farah. Gadis itu mengerucutkan bibir. "Lagian nyetel musik kenceng-kenceng amat sih, lagi galau ya?" duga Farah.
"Dasar bocil, udah sana belajar yang bener," usir Putra.
"Awas kalau ganggu lagi!" ancam gadis itu.
"Iya." Putra langsung menutup pintu dan mematikan musik itu.
Drrtt, drrtt ...
Ponsel Putra bergetar.
Lalu ia mengambilnya karena ada pesan masuk, saat dilihat ternyata dari Nisa.
"Maaf, tadi langsung masuk. Aku kira kamu mau mampir dulu, oh iya kamu kenapa kok tadi aku perhatiin diam terus?" chat Nisa.
Putra berpikir jawaban apa yang akan ia balas. Ia tak mungkin mengatakan bahwa ia kecewa pada Nisa karena ternyata lelaki itu yang disukainya. Ia kira Nisa akan mengagumi sosok pengagum rahasianya itu.
Saking lamanya berpikir, pesan kembali masuk dari Nisa.
"Kamu marah padaku? Aku minta maaf kalau aku ada salah."
Akhirnya Putra tak membalas, ia malah mematikan ponsel dan memilih tidur.
***
Satu minggu berlalu.
Putra akhirnya resmi menjadi dokter, hari-harinya mulai sibuk di rumah sakit. Bahkan pesan Nisa tak kunjung ia balas. Ia tengah menyiapkan diri untuk menerima kenyataan bahwa yang dicintai Nisa adalah laki-laki lain.
Karena Putra berpikir, cinta tidak akan memandang kepada siapa kita mencintai. Sekali pun berbeda agama.
Dan kini, Nisa tahu siapa pengagum rahasianya itu. Kado yang diberikan Putra tempo lalu baru sempat ia buka tadi malam. Hati Nisa tersentuh dengan kata-kata mutiara yang ditulis Putra untuknya, itu mengapa ia terus menghubungi Putra.
__ADS_1
"Ayolah angkat, Putra. Aku ingin tahu yang sebenarnya." Bukan tak percaya, Nisa akan lebih yakin kalau kata-kata itu keluar dari mulut Putra sendiri.
"Kenapa tidak bilang semuanya padaku secara langsung?" gerutu Nisa.