Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 57


__ADS_3

"Apa sih ini, Bu?" tanya Ramdan sambil membuka paketnya.


Setelah terbuka, Ramdan menelisiknya.


"Ini 'kan ..." Ramdan menoleh ke arah istrinya dan Morin mengusap perutnya yang masih rata. Tahu akan reaksi itu, Ramdan langsung saja menghampiri istrinya, menggendongnya lalu memutarnya.


"Mas, turunin. Kepalaku lagi pusing," protes Morin.


Ramdan pun berhenti, tapi ia tak melepaskan istrinya. Ramdan menciumi wajah Morin sampai wanita itu kewalahan.


"Mas, malu ih ada Ibu juga," kata Morin.


"Biarin, Ibu pasti ngerti betapa bahagianya aku sekarang." Lalu kembali memeluknya dengan sangat erat.


Ibu Ramdan hanya geleng-geleng kepala saat menyaksikan adegan itu.


"Rukun-rukun ya kalian, Ibu seneng lihatnya." Hanya Ramdan harapannya, jika dibandingkan kakaknya. Mereka sering buat dirinya pusing. Ramdan anak bontot yang menjadi kebangaan, tak hanya baik dia juga pekerja keras hingga bisa sesukses sekarang.


"Bu, kita rayakan ini ya. Aku mau undang keluarga pak Farhan," kata Ramdan.


"Iya, besok malam saja ya. Besok Ibu ke pasar belanja semua kebutuhan."


"Ibuku memang yang terbaik." Ramdan mencium ibunya juga.


Morin semakin bangga memiliki suami sepertinya, ia tak salah pilih pendamping. Jika suaminya menyayangi ibunya maka akan menyayanginya juga.

__ADS_1


Setelah itu, Morin menghubungi sepupunya untuk datang besok malam ke rumah. Ia tak memberitahukan apa yang membuatnya menyuruhnya datang, yang jelas ia ingin berbagi kebahagiaan. Tak lupa ia juga menghubungi mamanya, ini kesempatan baginya untuk lebih mengenal sosok siapa suaminya.


Mamanya pasti bahagia karena ibu mertua cukup menyayanginya. Meski jauh dari mamanya, Morin tak kurang kasih sayang, malah ibu mertua jauh lebih baik dan tidak suka mengomel seperti mamanya.


***


Di kediaman Farhan.


Farhan baru saja menyelesaikan shalat isya setelah itu istrinya menghampiri dan memberitahukan bahwa sepupunya barusan menelepon.


"Mau apa Morin menyuruh kita datang?" tanya Farhan.


"Gak tau, dia tidak bilang. Katanya mau makan malam bersama," jawab Sarah. "Oh iya, kita makan dulu yuk, aku sudah laper nih," ajak Sarah kemudian.


"Farah dan Fathan lagi apa?" tanya Farhan lagi.


"Dengan senang hati Tuan Putri," jawab Farhan.


"Lebay, Tuan Putri dari kayangan mana?"


Farhan hanya tertawa saat ia menggoda istrinya dengan kata-kata yang buat istrinya tidak suka. Sarah malah tidak suka digombalin karena sejak awal menikah tidak pernah suaminya memberikan gombalan, dan rasanya bagi Sarah itu malah terlihat lebih aneh. Yang ia inginkan cukup dengan kasih sayang yang tulus.


"Ya udah, ayo," ajak Farhan sambil menggandeng istrinya.


Di ruang makan ternyata sudah ada Putra, anak sulungnya sudah sangat mandiri. Apa-apa tidak pernah merepotkan termasuk sekarang. Saat orang tuanya sampai, Putra sudah selesai makan, dan anak itu langsung pergi ke kamar karena akan menyelesaikan PR sekolah.

__ADS_1


Farhan mengusap lembut kepala anaknya saat berpapasan. "Belajar yang bener ya, buat Papa bangga," ujar Farhan.


"Dia pintar, Mas. Di sekolah dia yang paling rajin, aku yakin Putra akan menjadi anak kebanggaanku," kata Sarah.


"Anak kebanggaanku juga."


***


Keesokan paginya.


Ibu Ramdan baru saja pulang dari pasar bersama anak perempuannya.


"Ibu ngapain sih repot-repot ke pasar? Gak cape apa? Dari pasar langsung sibuk di dapur, Morin 'kan kaya, Bu. Dia bisa nyuruh orang buat masak, tidak harus Ibu," kata kakak Ramdan.


"Ish, kalau mulut tu ya di jaga, Rani. Ibu senang melakukan ini, Ibu juga tidak cape. Ini 'kan penyambutan kebahagiaan Ramdan," jawab ibunya.


"Iya, Ramdan 'kan anak kebanggaan Ibu. Ibu juga lebih perhatian pada menantumu ketibang sama aku," kata Rani yang sepertinya cemburu sisial.


"Sudahlah, kalau kamu tidak mau bantu mending kamu pulang, urus tuh suamimu yang sering mabuk itu. Ibu jadi tidak betah di rumah karena suamimu!"


Berhubung Rani pun jengkel dengan suaminya, dengan berat hati ini ikut ibunya di rumah adiknya untuk membantu. Dan perbincangan itu di dengar oleh Morin. Ia jadi merasa tidak enak dengan kebaikan ibu mertuanya, takut dibilang memanfaatkan kebaikan wanita paruh baya itu. Padahal, ini bukan keinginannya melainkan keinginan suaminya.


"Kamu kenapa?" tanya Ramdan saat melihat istrinya melamun di ambang pintu. "Jangan diam di pintu, kata Ibu itu pamali." Ramdan langsung saja mengajak istrinya ke dapur.


Ramdan tidak tahu penyebab istrinya melamun, padahal itu karena ucapan kakaknya yang sepertinya tidak suka kalau ibunya lebih perhatian padanya juga pada istrinya.

__ADS_1


Rani terkejut, ia takut adik iparnya mendengar pembicaraannya dengan ibunya. Ia hanya bernai bicara di belakang saja. Saat Morin tiba di dapur, Rani tersenyum ramah.


Morin sendiri tersenyum tipis karena ia tahu bagaimana hati kakak iparnya itu.


__ADS_2