
Judul : KATANYA TULANG RUSUK PADAHAL TULANG PUNGGUNG
Karya ini tayang di lapak oren ya, kalian pasti tau di mana lagi bisa baca gratis. Yuk mampir di sana.
_______
Bab 1
"Bangun, Mas. Sudah siang nih, aku sudah siap."
Aku menghela napas panjang saat melihat suamiku masih bergulung di tempat tidur. Sedangkan aku sudah bangun sejak subuh tadi. Rutinitas seperti ini sudah kugeluti selama satu tahun. Dan aku bekerja semenjak anak kedua ku berusia satu tahun.
Kebutuhan yang mengharuskan aku membantu perekonomian keluarga. Anak sulung ku sudah mulai masuk SMA, jarak anak pertama dan kedua cukup jauh karena setelah melahirkan anak pertama aku pasang implan.
Gaji suamiku hanya cukup untuk makan, karena kebutuhan si teteh sudah mulai banyak karena sekolah aku harus bekerja. Aku dan Mas Heru satu kerjaan, hanya saja suamiku bagian satpam dan aku bagian sewing.
Gaji security itu kecil, belum lagi potong yayasan setiap bulannya. Aku sudah was-was karena akan ada pengurangan karyawan. Mudah-mudahan Mas Heru tidak kena PHK.
"Bangun, Mas. Nanti kesiangan, kamu tau sendiri supervisiorku itu galaknya minta ampun," cetus ku mulai kesal karena mas Heru susah bangun.
Andai bisa motor, mungkin aku sudah berangkat duluan dan meninggalkan suamiku. Bodo amat dia kesiangan juga, satpam tidak seperti sewing yang harus tepat waktu dan kalau terlambat bisa dimarahi.
"Mas!" Ku tarik selimut yang menutup tubuh mas Heru. Dan akhirnya dia bangun. Untungnya dia kalau mandi tidak lama, dan tak berselang lama suamiku sudah siap dengan seragam putihnya.
"Nay," panggil ku pada anak perawanku.
"Ya, Bu. Aku sedang pakaikan celana si Key, nih."
Beruntung anak gadisku mau ikut membantu kalau aku sibuk pagi hari. Si Kekey sudah terlihat rapi dan cantik dengan bedak cemong di wajahnya. Itu kelakuan si Nay anak sulung ku. Nayla Putri dan Keyani Putri itulah nama kedua anakku.
Biasanya, pagi aku berangkat bareng sama si Nay. Dia sekolah dan aku bekerja.
"Nay, antarkan si Key ke rumah nenek," titah ku.
"Iya, Bu," jawab si Nay.
"Kamu udah sarapan 'kan? Telor tadi masih ada? Bapak belum sarapan katanya mau makan di tempat kerja. Sudah antar si Key kamu bungkus itu nasi buat bapakmu," suruh ku lagi.
__ADS_1
Si Nay patuh sekali, dan itu yang membuatku semangat untuk menyekolahkannya ke perguruan lebih tinggi, setidaknya jangan sepertiku yang hanya lulusan SD, masih untung bisa kerja juga. Mungkin memang sudah dari gadis aku bekerja di pabrik, dan waktu itu berhenti pas diajak nikah sama mas Heru.
Katanya dia tidak mau punya istri yang kerja, pada kenyataannya nasib tidak selalu menyertai. Buktinya aku kerja, padahal, usiaku sudah 35 tahun. Bisa kerja pun karena aku ubah tanggal lahir di ijizah. Suka pengen ketawa kalau ingat itu. Muka tua tapi umur muda. Maafkan aku yang sudah bohong, ini demi anak-anak, pikirku.
"Bu, nasinya udah nih. Taro di mana?" tanya si Nay.
"Gantungin saja di motor, coba panggil bapakmu, dia lagi apa di dapur?"
"Lagi BAB, Bu. Tunggu sebentar katanya sakit perut."
Aku mulai kesal, coba bangun sejak tadi BAB nya juga pasti tadi itu. Mas Heru kebiasaan kalau BAB setelah beres mandi. Dan akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul.
"Ayo, berangkat," ajak mas Heru.
Dan kami bertiga pun naik motor. Karena takut terlambat aku tidak sempat melihat putri kecilku di rumah mertuaku, biasanya pas aku melintas di depan rumah aku turun sebentar walau hanya untuk mencium si Key. Dan si Key pun tidak terlihat, mungkin di dalam atau diajak ke warung sama ibu mertua.
Duduk bertiga di motor sudah mulai sempit karena si Nay mulai dewasa. Ini pertama anakku masuk SMA. Sesekali aku mundur ke belakang karena mas Heru tidak kebagian duduk.
"Mundur sedikit coba," kata mas Heru.
"Ini sudah paling belakang, kalau mundur lagi aku jatoh dong," jawabku.
"Belajar yang bener, nanti kamu pulang naik angkot saja ya. Ibu sudah masukkan ongkos di tasmu."
"Ya, Bu."
Si Nay mencium kedua tanganku denganas Heru.
"Ayo cepat, katanya takut telat," kata mas Heru.
"Iya."
Kami melanjutkan perjalanan yang tidak jauh dari tempat belajar anakku. Tapi, kendala di jalan ada-ada saja. Jalanan macet parah karena aku berangkat agak siang.
"Tuh 'kan, apa kataku. Sekolah sudah mulai masuk ya gini, jalanan macet," omel ku pada suami. "Besok-besok jangan kek gini lagi, bangun lebih awal," sambung ku kemudian.
Mas Heru tidak menjawab, tetap saja santai kaya di pantai. Menyalip satu persaru kendaraan di depan, dan akhirnya aku sampai pada pukul 07.15. Aku bergegas turun, mencium tangan suami sebelum masuk ke pabrik.
Aku sedikit berlari karena memang sudah telat, untuk hanya tidak aku sendiri yang terlambat. Tapi tetap saja aku pasti kena omel karena hampir setiap hari telat karena keleletan mas Heru saat bangun tidur.
__ADS_1
"Kebiasaan, sekarang apa lagi alasannya?"
Supervisiorku mulai mengintrogasi akan keterlambatan ku. Aku hanya tersenyum tanpa dosa, mau bagaimana lagi? Dari pada tidak masuk kerja dan kerjaan tidak ada yang menggantikan. Proses pekerjaanku memang paling sulit, tidak ada yang bisa menggantikannya.
Dan supervisiorku pun akhirnya meninggalkanku, dan aku mulai bekerja. Lelah sudah pasti, tapi tidak dirasa karena aku lakukan dengan ikhlas. Ini demi anak, aku bekerja memang demi anak-anak.
Agar tidak pusing dengan kerjaan, aku bekerja sambil bersenandung saja, biar waktu tidak terasa. Dan akhirnya, jam istirahat pun tiba. Semua karyawan keluar dari pabrik secara serentak. Karena pabrik tempatku bekerja paling besar di kota Sukabumi.
Beginilah pas jam istirahat, aku makan seadanya. Berbekal dari rumah, sebungkus nasi serta lauk asin dan sayur asam. Kalau makan enak pas setelah gajian saja. Tapi aku ikhlas, karena aku sudah membagi-bagi uang hasil ku bekerja. Sebagian aku kasih pada ibu mertua karena sudah menjaga si bungsu.
Aku dan mas Heru sudah sepakat menitipkan si KeyKey pada ibu mertua, itung-itung menambah uang belanja. Lagian, si Key tidak rewel sudah bisa berjalan juga jadi tidak digendong-gendong seperti bayi.
Jam istirahat terasa cepat berlalu, satu jam hanya cukup untuk makan dan shalat saja. Karena harus antri pas ambil wudhu. Setelah menunaikan shalat dzuhur langsung masuk ke dalam pabrik dan melanjutkan pekerjaan yang melelahkan itu.
Duduk seharian dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore, itu pun kalau tidak lembur. Kalau lembur bisa sampai jam 6 sore.
Akhirnya, jam kerja selesai. Tapi, Tiba-tiba supervisiorku datang dan mengatakan aku harus lembur.
"Kenapa dadakan, Bu?" tanyaku.
"Iya, di line sebelah kan lagi sibuk, terus ada yang ijin pulang jadi kamu gantikan. Lumayan ada uang lembur buat tambahan beli susu si Key," katanya.
Aku sih senang-senang saja ada lemburan, tapi kalau mendadak seperti ini ibu mertuaku suka cemberut.
"Ya sudah, aku telepon suamiku dulu ya, Bu."
Segera ku hubungi mas Heru, tak lupa juga menghubungi si Nay. Ku suruh dia masak untuk makan suamiku.
***
Dua jam akhirnya berlalu, jam lembur sudah selesai. Aku segera pulang karena mas Heru sudah menunggu. Aku pun langsung pulang ke rumah.
"Si Key sudah di rumah, tadi ibu sudah antar pas jam setengah 5. Ibu tidak tau kamu lembur soalnya," kata suamiku.
"Oh." Hanya itu yang kujawab.
Pas kulihat si Key, terkejutnya aku.
"Mas ....," teriakku.
__ADS_1