
Disaat Putra dan Nisa di dalam kamar, Farah pun beranda di dalam kamarnya. Gadis itu tengah menempelkan sebuah gelas di dinding, telinganya menempel di gelas tersebut.
"Kenapa tidak mendengar apa-apa, mereka lagi pada ngapain sih? Masa iya langsung tidur."
Farah terus mencari cela untuk dapat mendengar aktivitas di ruangan sebelah. Kejahilannya diketahui oleh mamanya. Sarah berkacak pinggang sambil menghembuskan napas dengan kasar.
Sarah mencolek bahu anaknya itu. Tapi Farah tidak mengedahkan, ia malah mengedikkan bahu.
"Diamlah jangan ganggu." Farah kira itu kakaknya Fathan, karena hanya laki-laki yang sering masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terdahulu.
Saking seriusnya menguping aktivitas di kamar sebelah Farah sampai tidak sadar bahwa mamanya memanggil dan mengetuk pintunya. Sampai Sarah tahu kenapa putrinya tidak menjawab panggilannya.
"Farah, apa yang kamu lakukan?" tanya Sarah.
"Mau dengar malam pertama mereka." Sejurus kemudian, ia membalikkan tubuh. Melihat dari ujung kakinya, Farah memejamkan mata. "Asuh, gawat. Bisa kena hukuman nih," batinnya.
Farah tersenyum sampai memperlihatkan gigi putihnya. "Emm ... Anu, Ma." Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sarah langsung saja menjewer anak gadisny itu. "Tidak sopan, ayo tidur sama Mama saja." Sarah menarik lengan gadis itu.
"Janji, Ma. Gak gitu lagi, aku gak dengar apa-apa kok." Farah berontak tidak mau dibawa ke kamar mamanya.
Jelas, Farah tidak akan mendengar apa-apa karena rumah itu di dindingnya dilapisi kedap suara. Mau berteriak sekencang apa pun tidak akan ada yang mendengarnya dalam keadaan pintu tertutup bahkan terkunci.
Farhan mengerutkan kening saat istrinya mengajak anaknya masuk ke dalam kamar.
"Loh-loh ... Kenapa dibawa ke sini?" tanya Farhan. "Kita 'kan mau ...," ucap Farhan menggantung karena Sarah bersuara.
__ADS_1
"Kelakuan putrimu ini ampun deh, bisa-bisanya dia menguping kamar sebelah," pungkas Sarah.
"Farah, apa yang kamu lakukan, hah? Tidur sana," usir Farhan.
Farhan pun tidak terima putrinya di sini, karena ia sudah siap bertempur dengan istrinya. Bahkan ia sudah minum obat kuat, mana mungkin dibatalkan begitu saja. Kepalanya bisa pusing tujuh hari tujuh malam.
"Kok di suruh keluar sih, Pa. Biarkan Farah tidur di sini, dari pada ganggu kakaknya," kata Sarah.
"Di sini lebih menganggu, sayang." Farhan tetap menyeret putrinya itu keluar.
Farah merasa lebih aman di kamarnya ketibang harus tidur bersama mamanya, ia bisa kena omel papanya kalau sampai tidur di sana. Karena dulu pun pernah terjadi seperti itu, dan Farah kapok.
***
Sedangkan di kamar lain, Nisa tengah berada di dalam kamar mandi. Sudah hampir setengah jam ia berada di sana, Putra sendiri masih menunggunya. Sampai-sampai laki-laki itu ketiduran saking kesalnya.
Sampai akhirnya, ia pun keluar dengan cara pelan saat membuka pintu. Dan dilihatnya, suaminya sudah tidur.
"Ya ampun, apa aku terlalu lama di kamar mandi sampai suamiku ketiduran. Maafkan aku," lirih Nisa penuh penyesalan.
Tidak seharusnya ia seperti ini, cepat atau lambat kesuciannya akan terrenggut. Suaminya berhak atas dirinya. Nisa merasa berdosa sampai-sampai ia pun membangunkan suaminya.
"Mas, sudah tidur ya?" tanya Nisa.
Putra tak bergeming, laki-laki itu memang sudah tidur.
Akhirnya, Nisa pun melepas kerudungnya dan ikut merebahkan tubuhnya di samping suaminya. Ia menatap wajah lelaki itu, karena posisi Putra tidur dalam keadaan meringkuk ke arahnya. Bukan hanya ditatap, Nisa pun berani menyentuh wajah bagian alis. Alisnya begitu besar dan ditumbuhi bulu yang sangat lebat. Hidungnya begitu mancung seperti perosotan, bibirnya tebal dan berwarna merah.
__ADS_1
Ia juga berani menyentuh bibir suaminya itu, sampai-sampai si empu-nya terbangun. Nisa merasa terciduk dengan aksinya. Wajahnya langsung merah. Tadi saja ia tidak keluar-keluar dari kamar mandi, tapi saat suaminya tidur ia malah berani.
Putra yang awalnya kesal kini tersenyum, ia suka dengan sikap istrinya yang malu-malu tapi mau.
"Kamu cantik sekali," puji Putra saat melihat istrinya tanpa kerudung. Rambutnya begitu panjang dan tebal, ia sampai memainkan rambutnya lebih dulu.
Lalu menyelipkan tangan di tengkuk leher istrinya. Sampai Nisa bergidik, bulu kuduknya berdiri karena merasa geli dengan sentuhan suaminya. Putra menariknya agar lebih dekat, yang awalnya mengantuk kini rasa kantuk itu benar-benar hilang. Matanya memancarkan cahaya hawa gairah.
Hingga akhirnya, Putra mendaratkan sebuah ciuman di bibir istrinya. Ini pengalaman pertama bagi mereka berdua. Meski begitu, Putra tahu apa yang harus dilakukan olehnya. Ia menggigit bibir Nisa agar wanita itu membuka mulutnya.
"Ah." Nisa mengaduh, tapi ia menikmati apa yang dilakukan suaminya. Perlahan, ia pun ikut dalam permainan itu. Nisa membalas ciuman suaminya, menjulurkan lidah sampai kedua lidah itu terpaut begitu nikmat.
Tak hanya di situ, Putra menarik res sleting baju istrinya bagian depan. Hingga nampak gunung kembar yang terbungkus bra berwarna hitam. Karena pakaiannya yang tertutup sempurna hingga Putra tidak tahu bagaimana lekuk tubuh istrinya.
Putra melepaskan ciumannya, ia tercengang saat melihat dua buah kenyal itu yang nampak besar dan berisi, bahkan hampir tumpah dari tempatnya.
Putra menelah Saliva susah payah, tenggorokannya terasa tercekat dan tidak bisa mengeluarkan suara.
"Jangan memandang tubuhku seperti itu." Nisa menyilangkan kedua tangan tepat di dada.
"Kenapa ditutup? Bukankah semaunya milikku?" tanya Putra.
Nisa mengangguk karena suaminya memang berhak atas dirinya. Lalu, Putra pun menarik tangan istrinya agar terlepas. Ia meyilangkan tangan itu di pinggangnya.
"Bahkan kamu memelukku," bisik Putra.
"Ih, bukan aku yang memelukmu. Kamu sendiri yang melakukannya." Nisa tidak terima akan hal itu hingga ia melepaskan tangannya.
__ADS_1
Berniat melepaskan diri tapi Putra tidak membiarkan itu. Ia malah merapatkan tubuh mereka. Nisa sangat terkejut saat ia merasakan sesuatu di paha. Ada benda yang tergesek dibawah sana. Bukan tongkat tapi terasa keras.