
Farah mematikan lampu lalu menarik selimut. Namun, Tiba-tiba...
"Aduh sakit," pekik Akio karena Farah tak sengaja menyenggol kepemilikan suaminya hingga akhirnya Farah kembali terduduk.
"Aduh, gak sengaja," kata Farah. "Sakit ya?" tanyanya. "Aku suruh kak Putra datang ya, takutnya itunya berdarah atau apa gitu."
Farah bergegas meraih ponselnya yang terletak di atas nakas. Namun, dengan cepat Akio merebutnya. Bisa salah paham kalau istrinya malah menghubungi dokter, nanti malah berpikir yang tidak-tidak karena ini malam pertama bagi mereka.
Akio langsung melepas celana.
"Mau apa?" tanya Farah.
"Ya dilihat, coba kamu liat apa dia baik-baik saja," suruh Akio.
Farah langsung bergidik, mana berani ia melakukan itu. Akio sendiri tidak malu karena Farah sekarang istrinya, lambat laun wanita itu pasti melihat semua tubuhnya.
Akhirnya, Farah melihatnya. Untuk yang pertama kalinya ia melihat benda itu, terlihat panjang dan besar. Jantung Farah seakan berdetak kencang. Tubuhnya bergetar, ia malah membayangkan saat benda itu masuk ke dalam tubuhnya.
Apa itu muat, besar sekali. Tersirat rasa takut yang menjalar.
"Gimana? Berdarah tidak?" tanya suaminya.
"Tidak, apa bentuknya memang seperti itu?" tanya Farah polos.
"Emang tidak tahu?" Akio tidak menyangka kalau Farah akan sepolos itu, setidak nya banyak film-film hot yang bisa ditonton. "Serius tidak pernah melihat?"
Farah menggelengkan kepala karena memang ia dijaga ketat dan selalu dididik menjadi gadis baik-baik. Ia juga bergaul dengan temannya Naomi yang terbilang anak rumahan.
"Sakit banget ya?" tanya Farah lagi. "Berapa lama sembuhnya? Lama ya?"
"Kenapa? Sudah mau coba ya?" Akio menatap wajah istrinya yang terlihat malu-malu tapi mau, buktinya Farah berani menyentuh miliknya.
"Ih, nyebelin." Reflek, membuat Farah tak sengaja kembali menyakiti si junior, dan kali ini Akio benar-benar kesakitan.
Mau marah pun tidak bisa karena kini gadis itu adalah istrinya.
"Ah, sudahlah. Besok aku mau ke rumah sakit, ini harus segera diperiksa agar cepat biar kamu tenang," celetuk Akio dengan ucapnya yang tidak begitu jelas sehingga membuat Farah kembali bertanya.
"Tidak apa-apa, sebaiknya tidur." Akio menahan rasa sakit, ia langsung saja merebahkan tubuhnya. Ia hanya menarik sarung sebagai pelindung pusakanya.
Farah merasa suaminya marah, ia langsung saja merayu pria matang itu. Memeluknya dari samping sambil mengusap-ngusap dada. Bukannya tenang, si junior malah berontak. Dasar polos, Farah malah tidak tahu bahwa itu bisa membangkitkan nya dalam sekejap.
__ADS_1
Akio menangkap tangan Farah agar berhenti.
"Maafkan aku, aku 'kan tidak sengaja," kata Farah dengan nada lembut. Malah terdengar seperti akan menangis.
"Aku tidak apa-apa, tidurlah dan jangan menangis." Akio mengeratkan tubuh istrinya dengan tubuhnya.
Sebagai permintaan maaf, Farah mencium bibir suaminya dengan sekilas.
Farah, kamu malah buat aku tidak bisa tidur. Kamu menyiksaku dalam keadaan aku seperti ini. Tunggu nanti jika sembuh, ku buat kamu kewalahan.
***
Tanpa terasa hari-hari berlalu. Satu minggu Farah resmi menyandang nyonya Akio. Dan hari ini mereka baru pulang dari rumah sakit. Akio meminta pada dokter berbagai macam cara agar miliknya cepat sembuh. Obat apa pun dan semahal apa obat itu akan ia bayar. Asal miliknya cepat sembuh.
Uang bisa mengubah semuanya, Akio sembuh terbilang sangat cepat. Bahkan ia sudah bisa menggunakannya, ia akan meminta haknya sebagai suami.
Akio menyeringai di tempat tidur, ia menantikan istrinya ikut bergelung dalam satu selimut bersamanya. Tanpa ada basa-basi ia langsung mengungkung tubuh mungil itu. Farah terkejut dengan perlakuan suaminya. Meski begitu ia menerimanya.
Pasrah dengan setiap perlakuan, dari sentuhan lembut hingga sedikit kasar karena lelaki itu sudah tidak tahan akan menyentuh tubuh istrinya. Pertama yang dilakukan membuat istrinya itu rileks, sentuhan lembut dan memabukkan membuat Farah meremang.
Merasakan setiap sentuhan itu di seluruh tubuh. Entah sejak kapan pakaian itu terlepas dari tubuh Farah, hingga kini gadis itu seperti bayi yang baru lahir. Tanpa sehelai benang pun. Akio menatap tubuh itu dengan nanar, gairah sudah berada di puncak. Sudah tidak bisa lagi berbasa-basi karena ia telah melakukan pemanasan, cukup baginya membuat istrinya merasakan nikmat yang baru saja dilakukan.
"Aku akan melakukannya," bisik Akio.
"Oppa ....," lirih Farah saat sesuatu mencoba untuk masuk ke dalam bawah sana. Tidak bisa menahan rasa sakit yang luar biasa sehingga ia mencakar punggung suaminya sebagai pelampiasan.
Rasa sakit di punggung seakan tak terasa akan kenikmatan di bawah sana, terjepit di lobang kenikmatan yang hakiki.
Pinggulnya mulai bergerak saat berhasil menerobosnya. Tidak menyangka bahwa Farah setangguh itu, tidak ada tangisan atau rengekan hingga Akio melanjutkan aksinya.
***
Akio mencium kening dilanjut di bibir istrinya, kepuasan telah didapat. Ia sangat bahagia karena Farah menjaga kehormatannya.
"Terima kasih, Terima kasih telah membahagiakanku malam ini," bisik tuan Akio.
___
Sesuai ucapan Farhan, resepsi akan di gelar. Bukan hanya satu pengantin, melainkan ada tiga pengantin di pelaminan. Ketiga pengantin itu memperlihatkan kebahagiaan. Termasuk Nisa, meski wajahnya bersembunyi di balik cadarnya tak meluputkan rasa bahagia yang kini menjadi bagian keluarga Farhan Permana. Senyumnya tersemat di bibir mungilnya.
Dan akhirnya mereka berenam berfoto bersama. Lalu disambung dengan pengambilan gambar keluarga besar.
__ADS_1
Semua tersenyum dalam gambar itu.
***
Dan kini, Gambar itu di pajang di kediaman tuan Akio. Tuan Akio sendiri yang memajangnya. Hampir satu bulan mereka menunggu hasil potretan pernikahan sampai akhirnya.
Hoeeekkkk .....
Farah ternyata positif, tak perlu menunggu lama untuk menjadi seorang ibu. Kenahagiaan melengkapi hidupnya.
Kabar bahagia itu langsung di terdengar di telinga Putra dan Nisa. Ponsel yang di genggam pun langsung terjatuh dari genggaman Nisa. Lagi-lagi di dahului oleh adik-adiknya.
____
____
____
Sembilan bulan kemudian.
Waktu begitu cepat berlalu, Farah kini tengah kontraksi. Wanita itu kini sudah berada di rumah sakit karena akan melahirkan. Persalinan yang diambil tentu secara normal. Akio terus mendampingi hingga akhirnya suara tangis itu terdengar.
Farah dan Akio tersenyum lebar ketika mendengar tangisan bayi mereka.
Keluarga besar pun sudah menunggu, tidak termasuk Arumi karena jarak persalinan tidak jauh dari Farah. Farhan dan Sarah begitu bahagia karena cucu kedua telah lahir ke dunia.
__
___
___
TAMAT
KARYA BARU SUDAH LUNCUR YA, TUNGGU LOLOS SAJA. KARYA BARU ITU KISAH PUTRA DAN NISA YA.
SIAPKAN TISU UNTUK MEMBACA, SEMOGA KALIAN TETAP MENGIKUTI KISAH SELANJUT YA, HAPPY ENDING.
TERIMA KASIH SUDAH MENGIKUTI KISAH FARHAN DAN SARAH SAMPAI SELESAI. TERIMA KASIH POKOKNYA.
JANGAN LUPA KASIH VOTE UNTUK KARYA BARUNYA YAπ₯°π₯°ππ
__ADS_1
Judul karya baru, MENGGAPAI SURGAMU