Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Bab 79


__ADS_3

Malam pun tiba.


Keluarga besar Farhan kini tengah makan malam. Putra dan Nisa pun sudah pulang dari panti, dan rencananya besok mereka akan pindah dari rumah kedua orang tuanya. Pasalnya, Putra bekerja di rumah sakit dan ia akan tinggal yang letaknya tak jauh dari sana.


"Fathan, suruh istrimu nambah," kata Sarah.


"Aku juga mau nambah, Ma," sahut Farah. Gadis itu menyodorkan piring ke arah mamanya karena nasi terletak tak jauh dari wanita itu.


Sarah cuek pada anak bungsunya itu, Sarah dan Farhan sudah sepakat menghukum anaknya, biarkan anak itu tidak manja dan berpikir kalau selama ini Farah sering menjengkelkan.


"Ma," panggil Sarah.


Wanita paruh baya itu malah melayani suaminya.


Nisa menyenggol tubuh Putra seakan bertanya ada dengan sikapa mertua, kenapa cuek kepada putrinya karena setahunya Farah begitu diperhatikan karena gadis itu memang spesial alias harus benar-benar diperhatikan karena sikapnya berbeda dengan yang lain.


Putra menggerakkan bahu sebagai jawaban karena ia memang tidak tahu.


"Mungkin buat ulah lagi," jawab Putra berbisik.


Nisa merasa kasihan karena ia melihat genangan air mata tertahan dari pelupuk mata adik iparnya itu.


"Sini piringnya, biar Kakak ambilkan," kata Nisa.


"Makasih, Kak," ucap Farah. Ia melanjutkan aktivitasnya, sesekali ia menoleh ke arah orang tuanya tapi mereka tak sedikit pun melihat ke arahnya.


Farah tahu kalau orang tuanya tengah marah dan kecewa, kelakuannya hari ini memang membuat Sarah dan Farhan merasa malu. Terlebih pada tuan Akio, apa tanggapannya jika tuan Akio tahu kalau ternyata yang menabraknya adalah teman kerjanya.


Farah buru-buru menyelesaikan makannya, lalu ia segera ke dapur membawa piring kotor dan mencucinya. Setelah itu selesai ia kembali ke kamar. Gadis itu merenung sambil menatap kartu nama tuan Akio bahkan menangis karena ini pertama kalinya orang tuanya bersikap acuh padanya.


"Aku harus minta maaf padanya." Farah menyeka air mata yang sudah tumpah, ini juga ia pertama kali menangis dengan ulahnya sendiri


Tapi sebelum itu, ia kembali keluar kamar berniat menemui papanya. Pria itu tengah berada di ruang kerja.


"Pa, boleh aku masuk?" kata Farah sambil mengetuk pintu.


Tapi tidak ada jawaban dari dalam sana, akhirnya Farah pun masuk secara perlahan. Ia tidak ingin kembali membuat kesalahan apa lagi sampai membuat orang tuanya marah.


"Pa, aku ganggu tidak?" tanya Farah.

__ADS_1


Farhan pun sama seperti istrinya, ia malah tidak menganggap ada orang. Farhan terus saja sibuk dengan laptopnya.


"Pa, aku minta maaf," ucap Farah. Ia memijat bahu papanya perlahan tengah merayu agar lelaki paruh baya itu luluh.


Farhan menyingkirkan tangan Farah dari bahunya, ia tidak ingin diganggu apa lagi ia masih kesal pada putri bungsunya itu. Mungkin dengan begini anak itu akan nurut.


"Papa," lirih Farah. Akhirnya gadis itu menangis dan berlutut di depan papanya, lalu mendaratkan wajah dan menelusupkannya di paha papanya.


Farhan pun tidak tega jika sudah melihat seperti ini, ia mengusap pucuk kepala anaknya. Farah mendongakkan wajah dengan air mata berlinang membanjiri kedua pipinya yang mulus.


"Janji mulai saat ini jadilah anak yang baik, jangan buat Papa sama Mama kesal," ucap Farhan.


Farah mengangguk mengerti, lalu ia menghamburkan tubuh di pelukan papanya itu. Tak lama, Sarah datang membawa kopi untuk suaminya dan ia melihat adegan ayah dan anak itu tengah berpelukkan. Mendengar pintu terbuka Farah melepaskan diri, lalu ia melihat kedatangan mamanya.


Farah menghampiri mamanya dan langsung memeluknya, tapi sayang, kopi yang dibawa Sarah malah tumpah karena Farah menyenggolnya.


"Maaf, Ma. Aku bereskan dan buat kopi yang baru." Farah segera keluar membawa alat pel untuk membersihkan tumpahan kopi dan setelah itu kembali membawa kopi untuk menggantikan kopi yang tumpah.


Tadinya Sarah akan marah, tapi melihat Farah begitu cekatan ia mengurungkan niatnya. Sarah melihat itu malah aneh.


"Farah kenapa?" tanya Sarah berbisik di telinga suaminya.


"Lagi merayu," jawab Farhan.


"Kasihan, Papa tidak tega."


Karena Farhan yakin putrinya tidak akan nakal lagi. Terus, Farah menghadap kedua orang tuanya. Gadis itu kembali meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Akhirnya, kata maaf itu ia dapatkan. Tentu Farah senang dan ia memeluk orang tuanya secara bersamaan. Malam ini ia bisa tidur dengan tenang.


"Selamat malam, Farah kembali ke kamar ya," ucap gadis itu pamit.


"Iya, tidur sana. Jangan lupa temui tuan Akio besok, jangan buat Papa malu," ujar Farhan.


"Oke, Pa."


***


Keesokkan paginya.


Farah membuktikan ucapannya, bahkan pagi-pagi buta ia sudah berangkat ke kantor tuan Akio. Kini, Farah tengah berada di lobi menunggu kedatangan pemilik perusahaan itu. Kantornya cukup besar dan tak kalah seperti kantor orang tuanya.

__ADS_1


Cukup lama Farah berada di sana karena tuan Akio tak kunjung datang. Lalu, Farah melihat ajudan tuan Akio baru saja tiba.


"Pak," panggil Farah.


Pria paruh baya itu pun menoleh dan memicingkan pandangannya. Jelas orang itu kenal siapa yang memanggilnya. Farah langsung saja menghampirinya dan meminta maaf soal kemarin.


"Bapak ingat saya 'kan?" tanya Farah.


"Ingat, kamu gadis kemarin yang nabrak mobil tuan saya 'kan?"


Farah tersenyum memperlihatkan gigi putihnya. "Iya, Pak. Boleh saya bertemu dengan tuan Akio, saya mau minta maaf," ucap Farah.


"Tuan Akio belum datang, mungkin agak siang, kalau mau tunggu saja," jawabnya. "Tapi saya tidak bisa menemani karena banyak urusan. "


"Iya, Pak. Tidak apa-apa, sayang akan menunggunya."


***


Akhirnya, yang ditunggu-tunggu pun datang. Tapi tuan Akio tidak melihat keberadaan Farah, pria itu berjalan dengan tergesa-gesa. Sampai-sampai Farah tidak bisa mengejar karena keburu naik lift.


Farah kembali menemui staff resepsionis menanyakan lantai berapa ruangan tuan Akio, setelah tahun ia segera menyusul. Dan tiba di sana, Lagi-lagi ia bertemu dengan ajudan tuan Akio yang biasa sendiri tidak tahu siapa namanya.


"Pak, tuan Akio sudah datang boleh 'kan saya menemuinya?"


"Boleh."


Yang menjawab ternyata bukan ajudan tuan Akio melainkan orang yang ada di belakang Farah. Farah membalikkan tubuh dan ternyata tuan Akio sendiri yang menjawab.


Hanya sepatah dua patah tuan Akio bisa berbahasa Indonesia. Tapi, Farah mengira pria itu sudah lancar.


Ia langsung saja nyerocos minta maaf sampai-sampai tuan Akio hanya diam tidak bisa menjawab. Gadis itu benar-benar aneh, kemarin marah-marah sekarang minta maaf pun memaksa.


"Non, Taun Akio tidak bisa lama-lama karena ada urusan, tapi dia sudah memaafkanmu. Jangan terlalu cepat jika bicara dengannya beliau belum lancar bahasa Indonesia," kata ajudan tuan Akio.


Farah kembali menatap wajah tuan Akio. Memang tampan, tapi sudah terlalu dewasa. Farah cukup lama memandang wajah tuan Akio.


Farah sendiri langsung menggelengkan kepala untuk menepisnya. Tapi tetap saja ia tidak bisa membohongi diri kalau lelaki dewasa itu ternyata begitu menawan.


...****************...

__ADS_1


Aku ada karya baru nih dari teman, jangan lupa mampir ya.



__ADS_2