Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 46


__ADS_3

Kini, Sarah sudah dibawa ke ruang rawat. Banyak yang menjenguknya termasuk Ramdan. Pria itu datang bersama Morin. Setelah naik jabatan, Ramdan dan Morin menjadi akrab. Meski belum ada hubungan di antara mereka. Namun, sikap Morin sudah menunjukkan bahwa gadis itu memang menyukai pria yang sempat menaruh hati pada istri sepupunya itu.


Seusai menjenguk, rencananya Morin akan mengungkapkan perasaannya. Ia rasa Ramdan pemalu dan tak berani mengungkapkan perasaannya padanya. Entah apa penyebabnya. Kemungkinan karena ia atasannya sehingga taknada keberanian dari lelaki itu.


Ya, memang. Ramdan cukup tahu diri, ia membatasi perasaanya. Ia tak ingin sakit hati untuk kesekian kalinya. Melihat status pun sudah berbeda. Morin lulusan luar negri, sedangkan ia hanya pria biasa yang hanya memiliki ijazah SMA. Yang kebetulan memiliki keberuntungan sehingga menjadi asisten Morin. Membantu wanita itu untuk menjalankan pekerjaannya.


Morin melakukan segala macam cara, ia menjadikan Ramdan bukan hanya sekedar asisten di kantor. Ia pun menjadikan lelaki itu sebagai asisten pribadinya. Sehingga kesehariannya tak luput dari seorang Ramdan. Dan hari ini, seusai menjenguk si kembar Morin mengajak Ramdan makan siang sebelum kembali ke kantor.


Dan tibalah mereka disebuah restoran yang cukup mewah, tidak terlalu banyak orang di sana karena Morin mengajak ke ruangan VIP. Setelah memesan makanan dan makanan pun sudah terhidang. Sebelum makan, Morin ingin mengucapkan sesuatu yang mungkin sedari tadi mengganjal dalam hati. Ia sudah mencari tahu soal lelaki itu. Dan ternyata benar, pria itu masih sendiri.


"Ramdan," panggil Morin.


"Ya." Pria itu menoleh dan menghentikan aktivitasnya yang tengah mengambil makanan. Pria itu sangat terkejut saat tangannya diraih oleh gadis itu.


Ramdan celingak-celinguk takut ada yang melihat dengan aksi atasannya itu. Tinggal di luar negri cukup lama membuat hal seperti ini mungkin sudah lumrah. Morin menggenggam tangan pria itu. Bahkan Ramdan sudah tidak karuan. Ia merasa panas dingin saat tangannya digenggam.


"Ram, boleh aku katakan sesuatu?" tanya Morin.


"Hmm, ya. Boleh," jawab lelaki itu.


"Mau tidak kamu jadi kekasihku?" Morin mengungkapkan pernyataan yang membuat jantung lelaki hampir copot.


Ramdan tersedak air liurnya sendiri. Pria itu masih belum percaya, saking tak percayanya ia mencubit pipinya sendiri.


"Kamu kenapa?" tanya Morin.


"Aku tidak mimpi 'kan? Apa pendengaranku sudah tidak normal?" tanyanya balik.


"Ih, aku serius," kata wanita itu. "Kamu jangan sok polos deh," ujarnya lagi.


Ramdan bukannya sok polos, ia belum pernah menyatakan cinta kepada wanita pun. Bahkan dulu pun tidak sempat menyatakan cintanya pada seorang janda beranak satu waktu itu. Karena wanita itu sudah menutup pintu sebelum cinta diungkapkan.


"Ramdan, apa kamu sudah memiliki kekasih? Jujur, aku tidak bisa tidur karena wajahmu selalu terbayang. Menunggu kamu mengungkapkan perasaan sepertinya aku harus menunggu cacing tumbuh bulu," katanya.

__ADS_1


"Hah, tumbuh bulu? Itu mustahil, Morin," kata Ramdan.


"Iya memang mustahil, seperti perasaanmu padaku."


"Bukan itu maksudku, aku takut kecewa untuk kesekian kalinya. Lagian, derajat kita berbeda. Aku hanya lelaki biasa yang tak memiliki apa-apa," jawab Ramdan. Sebelum perang ia sudah lebih dulu kalah.


"Kenapa harus bawa-bawa derajat? Derajat di Tuhan itu sama, Ram. Aku cinta padamu, apa kamu mau menjadi kekasihku? Jika kamu menolak tidak ada lagi kesempatan untukmu mendapatkanku."


Ungkapan yang terkesan memaksa bagi Ramdan. Morin memang baik selama ini padanya, tapi ia tak menyangka kebaikan gadis itu ternyata ada niat tertentu. Bagaimana ini? Ramdan bukannya menolak, tapi tidak etis saja kenapa harus wanita yang lebih dulu menyatakan cinta padanya.


"Maaf, aku tidak bisa," jawab Ramdan.


Seketika, Morin melepaskan gengamannya.


"Oke, tidak apa-apa. Maaf, mungkin aku tidak tau malu," kata Morin. Gadis itu langsung beranjak dari tempatnya.


Bukan itu yang dimaksud Ramdan, ternyata jawabannya salah. Ia inginnya ia yang menyatakan perasaan bukan gadis itu. Namun, sayangnya jawaban Ramdan membuat Morin cukup sakit. Gadis itu langsung peri sebelum menyantap makan siangnya. Morin pergi menggunakan kendaraan lain, ia menyetop taksi untuk kembali ke kantor.


"Morin tunggu," cegah Ramdan.


Ternyata gadis itu cukup merasakan sakit, lebih tepatnya malu karena mendapat penolakan dari lelaki itu. Morin tiba di ruangan, saat itu juga Ramdan pun sampai.


"Hei, kamu marah?" tanya Ramdan.


"Tidak, hatiku sedikit nyeri. Bisa tolong tinggalkan aku sendiri," pinta gadis itu.


"Hei ... Kamu salah paham." Dengan sekuat tenanga, ia memberanikan diri untuk meraih tangan gadis itu. Kedua tangan Morin digenggam oleh Ramdan. "Lihat aku," pintanya kemudian.


Dan mereka pun saling tatap.


"Aku bukannya tidak bisa menerimamu, tapi aku tidak mau kamu yang menyatakan cinta apa lagi memintaku menjadi kekasihmu. Di mana harga diriku?"


"Maksudmu?" Morin terlihat bingun.

__ADS_1


"Harusnya aku yang menyatakan cinta, bukan kamu. Kita ulangi adegan tadi ya?"


Ramdan langsung berlutut dengan satu kaki. Lalu mendongak dan ia mulai bercakap. "Kamu tidak jadi kekasihku?"


Ramdan menyatakan cinta karena ia tak ingin menyesal dikemudian hari. Morin tadi sempat berkata karena tidak ada kesempatan lagi jika ia menolak cintanya. Tapi ia inginnya ia yang mengungkapkan cinta, bukan wanita itu.


"Bukannya tadi kamu menolakku?" tanya Morin.


"Itu bukan penolakan, Morin. Tapi penundaan," jawabnya.


"Aku tidak ngerti, Ram. Tadi kamu bilang tidak bisa, itu artinya kamu menolakku," kata wanita itu.


"Jadi gimana? Kamu menerima cintaku tidak?" tanya Ramdan.


Morin benar-benar dibuat pusing oleh pemuda itu. Namun, ia cukup senang meski tadi sempat kecewa. Detik berikutnya, Morin menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Ramdan pun tersenyum kikuk. Setelah cintanya diterima ia tidak bisa berbuat apa-apa, ia bukan tipe lelaki yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Di luar negri, biasanya setelah pengungkapan cinta maka pasangan yang baru saja menjalin hubungan akan melakukan sesuatu, sehingga gadis itu memejamkan mata menunggu sang kekasih menciumnya. Tapi apa yang ia dapat? Ramdan tidak melakukan apa-apa.


Ramdan berdiri, lalu melihat gadis itu memejamkan mata. Lelaki itu bukan tidak tahu apa artinya, tapi ia tak akan mencium gadis itu sebelum terjalinnya tali pernikahan. Ramdan hanya mengusap bibir gadis itu dengan ibu jari. Morin pun membuka mata. Tanpa permisi, gadis itu memeluk pria yang baru saja menjadi kekasihnya.


"Malu kalau sampai ada yang melihat," kata Ramdan.


"Ini hanya sebuah pelukkan kasih sayang, Ram. Itu artinya kita resmi menjadi sepasang kekasih," tutur Morin.


"Ya aku tau, tapi tunggu setelah aku menikahimu."


Gadis itu langsung melepaskan pelukkannya, mencari kebenaran ucapan lelaki itu.


"Tunggu aku melamarmu, akan meminta restu orang tuamu lebih dulu," kata Ramdan.


Gadis itu tersenyum dengan keseriusan kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2