
Setibanya di rumah sakit, Morin langsung di bawa ke ruang operasi. Wanita itu semakin merasakan sakit yang amat luar biasa. Ramdan tak hentinya memanjatkan doa, terus membaca aya-ayat suci di telinga istrinya.
"Sakit, Mas," keluh Morin. Wanita itu sudah dibanjiri keringat di area kening.
"Iya, itu pasti sakit. Mas akan terus menemanimu." Ramdan mencium kening istrinya.
Dokter pun tidak tinggal diam, karena ini sangat darurat membuat mereka tak lagi menunggu waktu. Beruntungnya, hari ini dokter bedah tidak ada pasien sehingga bisa fokus pada Morin. Dokter langsung saja menyuntik di bagian punggung wanita yang akan melahirkan itu.
Perawat yang lain pun ikut membantu sehingga perlahan, Morin tidak merasakan apa pun di bagian perut ke bawah. Hatinya jadi was-was karena ini pertama kali baginya. Ramdan terus bersama Morin, terus mengajak interaksi dengannya.
"Sebentar lagi kita akan jadi orang tua, aku akan menjadi suami dan ayah yang baik," tutur Ramdan. Ia terus menciumi punggung tangan istrinya. Tak berselang lama, suara tangisan bayi pun terdengar. Ramdan langsung menoleh ke arah bayi yang dibawa suster, tak lama disusul suara tangisan bayi ke dua.
Di ruangan itu semakin berisik karena ada dua bayi yang menangis. Sampai bayi yang ketiga cukup agak kesusahan bagi dokter, karena tali ari-ari membelit bayi itu. Ramdan menjadi sedikit khawatir karena takut terjadi apa-apa, Namun, ia tak menanyakan hal itu, ia cukup diam dan tidak membuat dokter menjadi semakin panik.
Sehingga perbedaan waktu berselisih hampir setengah jam dengan bayi yang terakhir. Namun, pada akhirnya suara bayi menangis pun kembali terdengar. Operasi berjalan lancar, dan itu membuat Ramdan tenang. Tak sabar rasanya melihat ketiga bayinya. Tapi, ia masih menemani istrinya sampai benar-benar selesai.
"Bapak, mau lihat bayinya tidak?" kata suster. "Mereka lucu-lucu sekali, perempuan ada dua dan yang satunya lagi laki-laki," sambung suster.
__ADS_1
"Sayang, aku ke sana dulu ya. Sekalian mau mengazdani mereka."
Morin mengangguk. Lagi pun, sebentar lagi dokter selesai menanganinya. Ramdan mengambil wudhu terlebih dulu, lalu mengadzani ketiga anaknya yang begitu lucu dan menggemaskan. Berat badan bayi itu rata-rata 2,1kg, cukup membebani ibunya selama berada dalam kandungan.
Setelah selesai di adzani, ketiga bayi itu dibawa dan diperlihatkan pada ibunya.
"Anakku." Tangis Morin akhirnya pecah saat melihat ketiga bayinya. Tak menyangka kini ia telah menjadi seorang ibu, menjadi wanita sempurna karena telah melahirkan anak ke dunia. Meski ia tidak bisa bagaimana rasanya melahirkan normal. Namun, ia dapat merasakan kontraksi yang cukup membuat dirinya merinding.
Dan akhirnya, Morin dan bayi dipindahkan ke ruang rawat. Mama Siska dan ibu Ramdan menantikan di luar, rasanya tidak sabar melihat ketiga cucu mereka. Morin dan bayi pun akhirnya tiba di ruangan. Namun, Morin belum stabil karena tubuhnya masih belum bisa digerakkan sehingga ia dan bayinya terpisah untuk sementara waktu.
Mama Siska dan ibu Ramdan akhirnya dapat bertemu dengan ketiga cucunya. Mereka sangat terharu karena masih bisa melihat cucunya lahir.
***
Ramdan dengan setia menemani istrinya di ruangan. Morin pun akhirnya beristirahat dan ia tidur untuk semetara waktu. Meski begitu tak membuat Ramdan meninggalkannya. Sambil menunggu, ia mengaji melantunkan ayat-ayat suci.
Sampai Morin kembali sadar dan Ramdan masih setia di sana. Karena Morin sudah normal dan sudah merasakan sentuhan di area perut sampai kaki, dan dokter pun mengizinkan keluarg berkunjung. Yang pertama kali masuk adalah mama Siska dan ibu Ramdan, sementara yang lain masih di luar.
__ADS_1
Tak berselang lama, Sarah dan Farhan pun tiba setelah mendapat kabar bahwa Morin melahirkan. Karena saat Ramdan pulang, Farhan tidak mengetahuinya karena lelaki itu tengah meeting dengan client penting dari Korea.
***
Ketiga bayi pun akhirnya dibawa keruangan, di dalam ruangan sudah cukup ramai karena semua sudah berkumpul di sana. Farhan dan Sarah melihat ketiga bayi comel itu.
"Yang, lucu-lucu ya mereka," kata Farhan. "Jadi pengen punya bayi lagi," sambungnya.
Sarah langsung mendelik, dikira hamil itu enak? Apa lagi setelah operasi lahiran kemarin membuat Sarah tidak kepikiran akan mempunyai anak lagi, toh anaknya pun sudah tiga. Ketiga anaknya sudah lengkap, dua laki-laki dan satu perempuan. Kalau Morin, dua perempuan satu laki-laki.
"Jangan bilang mau nambah, kamu aja yang hamil," kata Sarah.
Farhan hanya tersenyum karena ia hanya bercanda. Terkadang, istrinya masih merasakan sakit cenat-cenut di bagian perut pasca operasi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya setelah melahirkan melalui sesar.
Di ruangan itu semakin ramai karena kedatangan mama Amel dan suaminya.
"Cucu kita bertambah, ya Pa," ucap Amel pada suaminya.
__ADS_1
"Iya mereka lucu-lucu sekali," jawab Permana, mereka pun menggendongnya.
Morin dan Ramdan tersenyum bahagia saat melihat keluarganya begitu menyambut ketiga anaknya.