
Sepulang dari kantor Ramdan ikut bersama Morin ke rumah Farhan. Di sana ada mertua Sarah. Sebagai perwakilan, Ramdan meminta restu terlebih dulu pada tantenya. Beruntung, saat sampai dikediaman Farhan, wanita itu ada di rumah baru saja pulang dari rumah sakit.
"Eh, nak Ramdan," sapa Amel.
"Malam, Bu," ucapnya
"Silahkan duduk," kata wanita itu lagi. "Saya ke dalam dulu," pamitnya.
"Tunggu, Tante," cegah Morin.
Wanita itu menoleh dan menghentikan langkahnya. Morin mendekat dan mengajak sang tante untuk ikut duduk bersamanya. Wanita itu pun duduk bersebelahan bersama Morin.
"Ada apa?" tanya Amel. Tak biasanya keponakannya itu mengajaknya bergabung. Ia melihat Morin juga Ramdan secara bergantian. "Ada apa dengan kalian?" tanyanya lagi.
Morin menyikut tangan kekasihnya, menyuruhnya untuk mengatakan sesuatu pada tantenya itu.
"Mmm, jadi gini, Bu. Saya ..." Kerongkongan lelaki itu seakan tercekat, lidah terasa kelu dan tidak bisa mengeluarkan suara. Ia jadi deg-degan. Pasalnya, ini pertama kali ia meminta restu.
"Kamu kenapa? Kok gugup gitu?" Amel semakin menatap Ramdan dengan penuh kecurigaan.
"Mau minta restu," pungkas Morin. Ia geram karena lelaki itu tak kunjung bersuara.
"Restu?" Amel terlihat bingung.
"Iya, restu. Kami baru saja pacaran," terang Morin.
Ramdan, ingin rasanya menelusupkan wajahnya. Menyembunyikan diri dari rasa malu yang dibuat oleh kekasihnya itu. Wajah lelaki itu bak kepiting rebus. Morin benar-benar membuatnya malu. Kekasihnya itu bar-bar sekali. Morin memang tidak suka bertele-tele. Termasuk soal percintaannya.
"Sejak kapan kalian pacaran?" tanya Amel. "Apa mama-mu sudah tau?"
Morin menggelengkan kepala. "Mama belum tau, kami baru hari ini menjalin hubungan. Maka dari itu, sebagai perwakilan, Tante restui kami. Mama pasti nurut apa kata, Tante," jelas Morin.
__ADS_1
"Kamu serius, Ramdan? Jadi laki-laki jangan diam saja, saya hanya melihat keseriusan Morin di sini," kata Amel.
"Seris, Bu!" jawabnya tegas.
"Baik, karena saya bukan orang tuanya Morin, saya akan menghubungi orang tuanya. Dan kalau memang kamu serius kamu siapkan diri untuk bertemu dengan orang tuanya, adik saya tidak suka orang berbasa-basi," terang Amel.
Ramdan tidak tahu seperti apa orang tua Morin, maka dari itu mama Amel menyuruhnya menyiapkan diri terutama mental. Karena Siska kembarannya yang berbeda, wanita itu tomboy dan suka laki-laki yang maco. Mama Amel melihat Ramdan yang pendiam begitu .erasa tidak yakin bisa dengan mudah mendapatkan restu, pikirnya.
"Siapkan mental juga," kata Amel sambil menepuk bahu lelaki itu dan melenggang pergi meninggalkan sepasang kekasih itu.
"Siapkan mental?" batin Ramdan.
"Terus restunya?" teriak Morin pada sang tante.
"Restu ada dikedua orang tuamu," jawab Amel berteriak juga.
"Morin, apa kata bu Amel dengan siapkan mental?" tanya Ramdan.
Belum apa-apa, Morin sudah gemetar menghadapi sang mama yang meninginkan menantu kriterianya yang harus jago bela diri. Namun, melihat sang mekasih sudah pasrah duluan. Ramdan yang lemah lembut begitu, Morin sampai menepuk keningnya sendiri saat memikirkannya. Andai Morin bisa memilih, ia ingin menjadi mama Amel dari pada mama Siska.
Kembar? Tapi kok beda, pikirnya.
***
Satu minggu kemudian.
Sarah pun akhirnya pulang ke rumah bersama si kembar yang kini telah diberi nama, Farah dan Fathan. Kepulangan si kembar disambut keluarga besar Permana. Termasuk orang tua Morin, ini pun kesempatan Ramdan untuk meminta restu dari orang tua sang kekasih.
Pada saat Sarah sampai, ia terkejut dengan keberadaan Ramdan di sana. Karena belum ada yang tahu hubungan Morin dan Ramdan selain mama Amel. Morin meminta pada tantenya agar merahasiakan hubungannya sebelum mendapatkan restu dari mamanya. Morin sudah tidak punya ayah, iadi besarkan oleh sang mama seorang diri. Menjadi single mom itu tidak mudah. Makanya mama Morin ingin mendapatkan menantu yang jago bela diri agar bisa melindungi putrinya. Morin juga punya 3 orang adik, dan ketiganya itu kembar.
Ramdan tersenyum saat Sarah pulang. Ia sudah mengubur perasaannya itu. Namun, sisi cemburu Farhan masih tetap ada pada lelaki itu. Bagaimana pun, Ramdan sempat menaruh hati pada istrinya.
__ADS_1
"Bu," sapa Ramdan. Tak ada lagi panggilan nama sejak Sarah kembali menyandang status istri dari Farhan Permana. "Gimana kabarnya?" tanyanya kemudian.
"Baik, alhamdulilah sehat," jawab Sarah sambil tersenyum.
"Kasih aja senyummu padanya," bisik Farhan.
Sarah memutar bola mata jengah. "Apaan sih, gak jelas banget?!" kata Sarah. Lalu ia pergi ke dalam karena ingin istirahat. Perut yang dibelek membuatnya terkadang masih meninggalkan nyeri cenut-cenut. "Aku mau ke kamar, kamu jaga anak-anak ya," pinta Sarah pada suaminya dan pergi begitu saja.
Sarah tidak terbiasa dengan kegaduhan di rumah karena adanya adik-adik Morin yang lagi aktif-aktifnya. Mereka tengah bermain bersama Putra. Ketiga adik Morin berusia sepuluh tahun dan Putra yang kini menginjak kurang lebih tujuh tahun. Tidak bisa dibayangkan bagaimana gaduhnya mereka.
Putra pun cukup anteng dan tidak manja kepada Sarah saat ketiga adik Morin berada di rumahnya. Selama kehamilan, anak sulungnya sedikit manja padanya.
Sarah pun istirahat dan Farhan sibuk bersama si kembar. Belajar mengganti popok kedua anaknya yang ditemani oleh baby sitter. Farhan tidak membiarkan istrinya mengurus anaknya sendiri, bisa-bisa Sarah stres karena mengurus bayi kembar itu tidak mudah.
Sementara di tempat lain.
Kursi yang didudukinya terasa panas, hawa dingin dari AC pun mendadak menghilang. Ramdan merasa ada di tempat sidang. Calon ibu mertua tengah menatapnya tajam. Ini pertama kali ia bertemu dengan ibunya Morin, wanita itu tidak ada mirip-miripnya dengan sang kekasih. Mamanya Morin malah terlihat seperti laki-laki.
"Apa keahlianmu selain berkerja di perusahaan keponakan saya?" tanya mama Morin pada Ramdan.
Belum menjawab, Ramdan sudah menelan saliva.
"Jawab jangan diam saja!" batin Morin geram. Ia ikut gereget dengan sikap kekasihnya. Bisa-bisa ia gagal mendapatkan restu dari orang tuanya kalau begini caranya.
"Memasak," jawab Ramdan.
Mama Siska sampai membetulkan kaca mata saat mendengar jawaban pria itu.
"Masak? Itu pekerjaan perempuan, setelah menikah apa kamu akan jadi koki?" tanya mama Siska.
Tubuh Ramdan semakin gemetar, ia merasa sedang dinilai padahal ia hanya ingin meminta restu. Bukan diintrogasi soal sisi kehidupannya yang bekerja di pabrik.
__ADS_1
Sedangkan Morin hanya nyengir memperlihatkan gigi putihnya saat ibunya menatap ke arahnya.