Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 63


__ADS_3

Gadis itu berjalan mendekat ke arah sang bunda, tubuh yang tertutup dengan sempurna. Hanya mata indahnya yang terlihat. Dan kini gadis itu sudah berdiri di samping orang tuanya, bibirnya memang tidak terlihat. Namun, dibalik cadar itu bibirnya tersenyum saat melihat seorang pemuda berjalan mendekat ke arahnya. Sosok lelaki yang ia kagumi tapi hanya sekedar sahabat.


Rasa kagumnya itu hanya melihat sisi kepribadian lelaki itu karena ia sangat sopan dalam bertutur kata. Nisa langsung mencium tangan mama si kembar yang tak lain adalah Sarah, lalu ia mengatupkan tangan ke arah Putra.


Putra bukannya membalas sapaan Nisa ia malah tercengang dengan penampilan gadis itu sekarang. Ia memang sudah tahu dengan cara berpakaian gadis itu karena mereka sering bervidio call. Namun, ini pertama kali mereka bertemu secara langsung.


Sarah langsung saja membuyarkan lamunan anaknya dengan cara menyenggol tangan Putra dengan tangannya juga. Sehingga membuat Putra menoleh.


"Nisa ...," panggil seorang wanita paruh baya.


Nisa pun menoleh, karena sebentar lagi acara akan dimulai.


"Mama kembar, Nisa ke sana dulu ya," pamit Nisa. Lalu, sekilas melihat ke arah Putra mengisyaratkan bahwa ia pun pamit padanya.


Putra hanya mengangguk, lalu melihat kepergian Nisa begitu saja.


***


Khairu Nisa, dengan parasnya yang cantik meski tidak terlihat. Namun, Putra sudah tahu bagaimana wajah gadis itu semasa kecil. Tentu gadis itu pasti semakin cantik setelah dewasa. Tak hanya cantik, Nisa pintar ceramah dan terkadang gadis itu menyeramahi Putra lewat panggilan yang sering dilakukan oleh mereka.


Pada saat Nisa berdakwah serta sesekali melantunkan ayat-ayat suci al-qur'an, suaranya pun begitu merdu ketika di dengar. Semua yang hadir menyaksikannya begitu kagum, tentu bangga yang menjadi orang tuanya. Hingga tak lama, acara itu selesai. Diakhiri dengan makan-makan.


Yayasan itu cukup dipadati anak-anak yatim piatu dan kaum duafa. Sehingga pihak yayasan menerima bantuan bagi siapa saja yang mengulurkan tangan. Hingga ada seseorang yang menjadi donatur terbesar di sana, bukan hanya sekedar yayasan di sana pun menjadi tempat mencari ilmu agama dengan cara gratis. Pesantren terbilang cukup besar di kota itu.

__ADS_1


Dan kini, orang itu datang dengan tujuan yang baik. Membawakan makanan serta mainan untuk anak-anak panti di sana. Nisa pun menghampiri daneng mucapkan terima kasih pada pemuda itu. Sosok lelaki yang Nisa kagumi secara diam-diam, pria itu pun tersenyum pada Nisa.


Mereka memang sering bertemu tapi tidak sering mengobrol, hanya bersi tatap muka saja dan setelah memberikan bantuan, lelaki itu tidak pernah lama berada di yayasan sekaligus pesantren itu. Dan kini, pria itu pamit undur diri. Namun, itu dicegah oleh Wita karena ada yang ingin mengucapkan terima kasih padanya.


Tak lama, Sarah dan Putra datang menghampiri. Putra melihat pria itu dengan seksama, dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dipandangannya, lelaki itu cukup sempurna dari fisik. Ketampanan yang nyaris menyaingi, sebelas dua belas jika dibandingkan denganya.


Ia juga melihat tatapan pemuda itu kepada Nisa, ia yakin kalau lelaki itu memiliki perasaan yang tidak biasa pada Nisa. Dalam hati, ia berharap tidak ada balasan perasaan dari gadis itu kepada pria yang ada di hadapanya.


"Mbak, ini loh donatur terbesar yang sering aku katakan," kata Wita. "Namanya Miko," terang Wita.


Lelaki itu pun mengatupkan tangan sebagai salam, begitu pun dengan Sarah. Dan kepada Putra, mereka saling berjabat tangan.


"Permisi ya, saya tidak bisa lama," ucap Miko.


"Ada urusan keluarga, terima kasih atas tawarannya. Saya permisi, mari Bu Ustazdah," pamitnya pada Nisa.


Nisa menganggukkan kepala, dan menatap kepergian lelaki itu. Itu semua tak luput dari Putra yang memperhatikan Nisa, sorot matanya yang beda. Itu membuatnya kepikiran, apa ada dengan Nisa sampai begitunya tak melepas pandangan dari lelaki yang kian menjauh itu?


Lalu, Wita mengajak Sarah dan Putra untuk makan. "Ayo kita ke dalam, kita makan dulu. Nisa ayo bantu Bunda," titahnya.


Nisa pun mengikuti sang bunda, menata makanan yang memang sudah disiapkan untuk menyambut kedatangan Putra untuk yang pertama kalinya.


Dan sekarang mereka sudah duduk bersama keluarga pesantren. Uwa serta orang tua Nisa pun berada di sana, hingga tak lama muncul sosok gadis yang sama seperti Nisa, yaitu Alifa adik Nisa.

__ADS_1


"Kak Putra," sapa Alifa. "Kak Putra kapan pulang?" tanya gadis itu lagi.


Gadis itu berbeda dengan Nisa, ia lebih cerewet. Sedangkan Nisa hanya akan bersuara jika ditanya. Nisa terbilang cuek, tapi berbeda jika sudah berada di panggung untuk berdakwah. Lebih tepatnya ia bingung, walau tidak pernah bertemu mereka sering berkomunikasi sehingga pertemuan itu membuatnya merasa biasa saja.


Nisa hanya menganggap Putra seorang teman, tapi lain halnya dengan lelaki itu. Dari dulu, Putra sudah suka bahkan sejak masih kecil. Jika dulu rasa sukanya karena kelucuannya tapi tidak dengan sekarang. Ia mengagumi sosok Nisa yang sering menyelipkan kata-katanya lewat berdakwah. Begitu menyentuh dan ngena di hati.


Sesekali ia mencuri pandang pada Nisa, sangat lucu saat melihat gadis itu makan. Rasanya ingin sekali melihat wajah gadis itu, meski sedang makan tak membuat Nisa melepas cadarnya. Ia memasukkan makanan lewat bawah dan mengangkat cadarnya sedikit.


"Kenapa melihatku seperti itu?" Akhirnya suara Nisa terdengar dan itu langsung tertuju pada Putra karena ia menangkap basah saat Putra melihatnya.


"Cara makanmu lucu," jawab Putra.


Nisa langsung mendelikkan mata karena merasa terejek. Tapi, setelah itu mereka langsung melanjutkan makan bersama.


***


Makan pun selesai, dan aktivitas di sana kembali kesemula karena acara sudah selesai. Kini, Nisa ikut merapihkan ruangan di sana. Tak lama, Putra pun ikut membantu menggulung tikar seusai Nisa berdakwah tadi.


Sampai pada akhirnya, Nisa membuka sebuah kotak pemberian Miko untuk anak-anak. Sampai pada akhirnya, anak-anak kecil itu datang menghampiri karena Nisa memanggil.


"Anak-anak sini," panggilnya sambil melambaikam tangan. Ia mengeluarkan mainan itu. Keantusiasan anak-anak sangat membuat Nisa merasa senang.


Dan itu tak luput dari pandangan Putra, tau begini ia pun membawakan oleh-oleh untuk anak-anak. Ia hanya membawakam sesuatu untuk Nisa saja. Putra pun ke arah mobil untuk mengambil barang tersebut.

__ADS_1


"Dan ini untukmu," kata Putra.


__ADS_2