
Bandung.
Setelah menikah, Sarah dan Farhan akhirnya menetap di kota Bandung. Dan hari ini, Putra pun mulai masuk sekolah. Sarah ingin suasana baru, hidup dengan damai di tempat tinggalnya sekarang. Sesekali, Sarah pun ikut ke pabrik menemani suaminya kala anaknya pergi ke sekolah.
Keramahan Sarah membuat para karyawan tak segan untuk menyapanya apa lagi dengan karyawan yang pernah ia pegang secara langsung selagi masih menjadi supervisior. Farhan sibuk dengan layar laptopnya, mengecek laporan bulanan. Sarah pun sibuk dengan ponselnya karena ia sering membantu Wita mendesiain baju-baju di butiknya.
Dan hari ini, rutinitas suaminya di kantor selesai. Farhan pulang cepat hari ini karena akan menjemput Putra pulang sekolah bersama istrinya. Putra tumbuh menjadi anak yang mandiri, Sarah hanya mengantar tanpa menunggu bocah itu di sekolah.
Keharomisan Sarah dan Farhan tak luput dari pandangan karyawan di sana. Termasuk Ramdan. Meski hatinya sakit, pria itu mencoba untuk tegar.
***
Sarah dan Farhan sampai di sekolah Putra, sekolah taman kanak-kanak. Anak kecil itu ternyata sudah menunggu di depan gerbang. Sarah turun dari mobil dan menghampiri anaknya.
"Maaf ya, Mama telat," ucap Sarah.
Putra tersenyum sebagai jawaban. Dan mereka pun pulang.
Hari-hari seperti itulah yang dijalani Sarah setelah kembali rujuk dengan suaminya. Pagi buat sarapan lalu mengantar Putra sekolah. Karena rumah dan pabrik serta sekolah Putra tidak jauh, Sarah akan berkunjung ke pabrik sambil menunggu jam pelajaran anaknya selesai. Mungkin sudah terbiasa bekerja dan tidak betah di rumah tanpa kegiatan meski ia seorang ibu rumah tangga tapi bisa meluangkan waktu menemani suaminya bekerja.
Tanpa terasa satu bulan pun berlalu, hari ini Sarah sedikit lemas. Bahkan ia belum terbangun dari tidurnya. Biasanya, wanita itu tidak akan kembali tidur setelah menunaikan shalat subuh. Sampai Farhan pun terbangun dan istrinya masih berada di sampingnya.
Farhan tidak tahu ada keluhan dari istrinya, ia kira wanita itu hanya ingin bersantai karena hari ini hari libur. Putra pun masih terlelap di kamarnya.
"Mas, hentikan," keluh Sarah saat suaminya menciuminya.
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Farhan.
"Tidak, aku hanya ingin istirahat saja," jawab Sarah. Ia bisa menebak keadaannya yang sekarang, tubuh lemas dan perut sedikit mual ditambah lagi ia belum datang bulan setela menikah. Sarah rasa ia sedang mengandung anak kedua dari suaminya. Namun, ia masih belum memberitahukan soal telat datang bulannya pada Farhan.
"Jangan buat aku khawatir, tidak biasanya kamu seperti ini. Aku tidak akan marah kalau mau bermanja-manja padaku, maafkan aku ya? Ketakutanmu pasti membuatmu tidak nyaman, aku rindu sosokmu yang manja, Sarah."
Farhan mengira, istrinya selalu menjaga sikap karena ia pernah tidak menyukai sikap istrinya yang manja. Namun, itu dulu. Sebelum ia benar-benar mencintainya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku memang tidak apa-apa. Hanya saja aku teringat masa ngidam Putra, persis seperti ini. Lemas, maunya cuma rebahan aja," jawab Sarah.
"Ngidam? Kamu hamil?" tanya Farhan.
"Belum tau hamil atau gak-nya, tapi harusnya aku sudah datang bulan minggu kemarin." Sebelum menikah, Sarah memang sempat datang bulan. Mungkin karena lagi masa subur ia langsung hamil.
Farhan langsung beranjak dari tempat tidur, pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lupa setelah ia mandi langsung menyiapkan air hangat untuk istrinya. Farhan pun menggendong Sarah dan membawanya untuk membersihkan diri.
"Mas, aku bukan orang sakit. Kamu tidak usah memperlakukanku seperti ini." Sarah tidak biasa mandi air hangat di pagi hari.
"Kamu tidak boleh banyak gerak, aku tidak mau kandunganmu kenapa-kenapa. Pokoknya kamu diam saja."
Sarah bagaikan anak kecil, dimandikan oleh suaminya sampai selesai. Bahkan memakai baju pun Farhan yang melakukannya. Sarah hanya menghela napas dengan perlakuan suaminya itu. Terkesan lebay, tapi itulah Farhan. Ia selalu berkata telah berdosa pada Sarah karena membiarkannya mengandung dan merawat anaknya sendirian.
***
Setelah siap, mereka langsung turun untuk sarapan terlebih dulu. Bi Ami dan asisten di sana sudah sibuk di dapur, termasuk Putra yang baru saja selesai mandi.
"Mama tidak apa-apa, Papamu saja yang lebay. Dikira Mama sakit," jawab Sarah.
Lalu, bi Ami pun menghampiri. "Tapi wajahmu pucat," timpal bi Ami.
"Tuh, Bi Ami saja tau kalau kamu sakit," sahut Farhan.
"Aku tidak sakit, Mas. Aku hanya lemas dan perutku mual," jawab Sarah.
"Iya, tapi ada calon bayi yang ada dalam perutmu. Jadi kamu harus hati-hati saat melakukan aktivitas," balas Farhan
"Calon bayi? Sarah hamil?" tanya bi Ami.
"Belum tau, Bi. Tapi sudah telat datang bulan," jawab Sarah.
"Wah, sebentar lagi Putra punya adik," kata bi Ami.
__ADS_1
"Adik, Nek?" sahut Putra. "Hore-hore ... Aku mau punya adik, adiknya kembar ya, Ma," kata Putra.
Keantusiasan Putra diikuti oleh Farhan. "Anak kembar? Lucu juga kalau punya anak kembar," timpal Farhan.
"Kembar itu harus ada turunan, Mas," kata Sarah.
"Eh, jangan salah. Pak Farhan ada turunan kembar, emangnya Pak Farhan tidak tau kalau bu Amel sama bu Siska kembar?" tanya bi Ami.
"Kembar?" Farhan langsung tertawa karena mama Amel dan tante Siska tidak mirip sama sekali, sehingga tiap kali dikatakan kembar selalu tidak percaya meski tanggal lahir diperlihatkan. Katanya itu settingan. "Bi, kembar itu mukanya mirip, nah ini. Tante Siska sama mama tidak mirip sama sekali, tante Siska malah cenderung seperti laki-laki."
"Ih, Pak Farhan ini selalu tidak percaya. Tapi semoga saja kandungan Sarah kembar seperti yang diinginkan Putra," ujar bi Ami.
***
Setelah sarapan, Farhan mengajak istrinya ke rumah sakit untuk memastikan keluhan istrinya. Dan benar saja, Sarah positif dan kandungannya sudah satu bulan.
"Berarti, istri saya langsung hamil ya, Dok setelah menikah kemarin?" tanya Farhan.
"Iya, Pak. Biasanya menghitung kehamilan itu dilihat dari setelah beres haid," jawab dokter.
"Lalu gimana? Apa ada tanda-tanda kembar, Dok?" tanya Farhan lagi.
"Oh, kalau itu nanti ya, Pak. Tunggu sepuluh atau dua belas minggu baru ketahuan hasilnya," jawab dokter.
"Oh gitu ya, Dok. Baiklah, terima kasih," ucap Farhan.
Sarah sendiri malah diam saja karena ini bukan kandungan pertama, jadi yang lebih banyak bertanya itu adalah suaminya. Farhan membantu Sarah turun dari brankar, dan mereka pun langsung pulang setelah selesai pemeriksaan.
Tiba di rumah, Sarah tidak boleh ke mana-mana. Apa lagi ikut ke pabrik. Sarah benar-benar dijadikan ratu. Tapi, istrinya menolak karena ia merasa tidak apa-apa.
"Jangan lebay deh, Mas. Aku sehat begini kok ngapain harus diam di kamar terus? Bukannya kamu tidak suka istri manja? Kamu loh yang buat aku mandiri seperti ini," kata Sarah.
"Jangan membahas masalah itu lagi, itu membuatku semakin bersalah." Farhan mencium tangan istrinya dan kembali bersimpuh memohon maaf atas kejadian yang dulu.
__ADS_1