Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 75


__ADS_3

Jika Fathan dan Arumi saling berpelukan, lain halnya dengan pasangan pengantin yang lain. Nisa tengah duduk sambil menatap diri di cermin. Ia melepas kerudungnya lalu menyisir rambutnya. Putra pun akhirnya mendekat dan mencium aroma rambut Nisa yang begitu wangi.


"Mas," panggil Nisa.


"Ya," jawab Putra.


"Tentang tiket itu, aku tidak mau pergi jauh lah, Mas. Aku tidak bisa meninggalkan pesantren lama-lama, kasian uwa sendiri di sana," jelas Nisa.


"Maksudmu? Kamu mau kita tinggal di sana?" tanya Putra.


"Bukan, setidaknya aku pamit dulu dan aku mau serahin ini pada Alifa. Buat dia benar-benar bantu uwa di sana."


"Iya, kalau itu aku setuju. Kamu cukup diam saja di rumah, tunggu aku pulang setiap hari." Putra memeluk istrinya itu lalu mencium pucuk kepala Nisa. "Tidur yuk," ajaknya kemudian. "Aku punya hutang padamu." Putra tersenyum jahil.


Ternyata lelaki itu ketagihan setelah mencicipi tubuh istrinya, seakan candu baginya. Ternyata surga dunia itu sangat indah, apa lagi mereka tidak mengenal apa itu pacaran.


"Hutang apa?" Dengan polosnya Nisa bertanya. Detik kemudian, ia pun akhirnya mengerti karena suaminya menaikturunkan kedua alisnya.


Tubuh ramping Nisa membuat Putra tidak terlalu berat saat menggendongnya. Ia merebahkan tubuh istrinya di tempat tidur.


"Oh iya, aku lupa loh," ucap Putra.


"Lupa apa?" Nisa kembali mendudukkan tubuhnya.


"Farah tadi pagi sempat ngasih sesuatu, katanya itu akan berguna untuk kita. Aku jadi penasaran apa yang dia kasih." Putra langsung mengambil paper bag yang terletak di sudut kamar yang di mana ada meja di sana.


Putra memberikan paper bag itu pada istrinya. Nisa yang tidak menduga itu isinya apa, ia antusias saat membukanya. Namun, saat ia melihatnya.


"Ya ampun, Mas. Kelakuan adikmu itu benar-benar deh, jahil sekali. Masih sempat memikirkan beginian." Nisa sampai menepuk jidat sendiri sambil menghembuskan napas dengan kasar.

__ADS_1


"Apa memangnya?" Putra pun penasaran dan langsung mengeluarkannya dari paper bag.


"Ya ampun, Farah ..."


Putra dibuat malu oleh adik perempuannya itu, ia lebih malu sikap Farah yang seperti ini. Meski begitu, Putra menerimanya dan menyuruh Nisa memakainya.


"Cobalah, aku mau liat," pinta Putra.


"Malu lah, Mas. Aku tidak mau pakai, baju apa itu? Tipis, nerawang. Tubuhku kelihatan, mending sekali tidak usah pakai baju." Nisa sampai bergidik, ia membayangkannya saja sudah merasa malu.


"Ayolah, bukannya kata ayah harus nurut apa kata suami? Nyenengin suami itu ibadah loh."


"Gak mau, malu," kata Nisa.


"Ayolah, sayang," bujuk Putra.


"Sekali ini saja ya, adikmu itu ada-ada saja," omel Nisa. Akhirnya wanita itu pergi ke kamar mandi, memakai baju kurang bahan pemberian adik iparnya itu.


"Farah, kamu ini ngerjain kakak," kesal Nisa. "Masa iya aku pakai beginian." Meski mengomel, ia tetap memakainya.


"Gak nyaman, terasa ada yang nyangkut di belakang," gerutu Nisa.


Perlahan tapi pasti, Nisa pun menghampiri suaminya. Putra sampai tidak berkedip saat memandangnya. Rasanya sudah tidak sabar mendekap tubuh putih mulus itu.


"Farah, kamu itu nakal. Tapi kamu cukup tau bagaimana cara membahagiakan saudara-saudaramu," batin Putra.


Nisa terus menarik seutas tali itu agar tidak terjatuh dari pundak, sejujurnya, baju keramat itu nampak kebesaran Karen talinya terlalu panjang. Sampai buah dada yang terlihat mengkal dan bagus itu sangat terlihat. Bentuk tubuh Nisa sangat terekspose.


"Matiin lampunya," pinta Nisa kemudian.

__ADS_1


"Oke." Tanpa protes Putra mematikannya, padahal ia ingin lebih lama memandang istrinya dengan modelan begitu.


"Istriku cantik sekali sih," puji Putra.


"Mas."


"Hmm."


"Dingin, selimut mana?"


"Ngapain pakai selimut, aku gak mau kalah sama Fathan. Aku mau sekarang," pintanya.


"Sabar dong, Mas. Ini masih bengkak loh."


"Aku akan melakukannya dengan hati-hati."


Sejurus kemudian, terjadilah malam kedua mereka yang cukup nikmat. Kali ini, Nisa dapat merasakan surga dunia. Seakan ketagihan ia meminta suaminya terus mencumbunya tanpa henti.


Putra tersenyum puas saat melihat napas istrinya tersengal.


Lalu bagaimana dengan pasangan baru yang lain? Jika Putra dan Nisa menghabiskan malamnya dengan penuh keringat tapi tidak dengan Fathan dan Arumi. Arumi tidur nyenyak malam ini karena Fathan tidak berani menyentuh istrinya.


Apa lagi, gadis itu pertama kalinya tidur di kasur yang empuk.


Padahal, Fathan sudah mengungkapkan perasaannya. Tapi Arumi tidak mengatakan apa pun soal perasaannya. Fathan kira Arumi tidak mencintainya, karena gadis itu sempat menghindar darinya. Akhirnya, Fathan gelisah malam ini karena tidak bisa tidur.


...----------------...


Aku up lagi nih. Demi apa coba? Demi kalian lah pembaca MAMS yang masih setia.πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


Jangan lupa beri aku dukungan ya, dan besok waktunya vote, kalian harus vote karyaku yang ini😁😁


__ADS_2