Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 56


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, Morin mulai terbiasa dengan ibu mertua. Setiap hari wanita paruh baya itu mengirimkan makanan, ternyata dari sini sumber kepintaran suaminya memasak. Ibu mertuanya pun cukup pandai dan membuat lidah Morin terus menikmati makanan lezat, sederhana tapi cukup menggoyangkan lidahnya.


"Mas, kalau ibu seperti ini terus berat badanku pasti naik," ujar Morin, tapi wanita itu terus mengunyah tanpa henti.


"Mau kamu gendut atau tidak aku tetap cinta, biar kamu tidak pandai masak asal pintar di kasur" bisiknya.


Morin memukul suaminya, karena ucapan lelaki itu membuatnya malu.


"Tapi kapan isinya ya?" tanya Ramdan seraya menyentuh perut istrinya.


"Sabar ya, Mas. Belum rezeki, baru juga dua bulan kita menikah," ujar Morin.


"Aku pasti sabar." Ramdan pun akhirnya memeluk istrinya dari samping karena posisi mereka tengah duduk di kursi meja makan.


Ibunya Ramdan pun tersenyum saat melihat anak dan menantunya begitu akur, tidak seperti kakaknya yang sering ribut dan itu membuat kepalanya seakan mau pecah. Sebab itu kenapa ibunya sering datang berkunjung ke rumah Ramdan karena kakak perempuannya masih satu rumah dengan dirinya.


Ramdan pun melepaskan pelukkannya karena ibunya menghampirinya. Wanita itu kembali meletakkan makanan yang baru saja dibuat. Namun, saat itu juga Morin merasa mual saat aroma makan itu menyeruak di penciumannya.


Hoeekkk ...


Morin segera berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan isi dalam perutnya. Ramdan langsung menyusul dan memijat pundak istrinya.


"Kamu kenapa, Yang?" tanya Ramdan.


"Gak tau, Mas. Ibu masak apa sih, kok baunya aneh?" tanya Morin.


"Itu sarden makanan kesukaanmu," jawab ibu mertua yang ikut menyusul. "Ram, ambilkan kayu putih," titahnya kemudian.


***


Morin tengah dipijat dibagian bahu oleh ibu mertua, sedangkan Ramdan membereskan bekas makan di dapur.


"Sudah telat berapa hari?" tanya ibu Ramdan pada menantunya.


Morin menoleh sambil berpikir, kenapa ia bisa lupa dengan datang bulan yang biasanya teratur setiap bulannya.


"Kapan ya, Bu? Aku sendiri lupa kapan terakhir datang bulan, kalau gak salah setelah 2 minggu menikah aku datang bulan," jawab Morin.


Gara-gara kejadian itu Ramdan merajuk karena ia sudah siap dengan ramuannya, tapi istrinya malah datang bulan dan itu membuat Ramdan kelojotan akibat ramuannya sendiri, sampai berbagai macam cara dilakukan oleh istrinya agar suaminya mencapai kepuasan.

__ADS_1


Mendengar kata datang bulan, Ramdan langsung menghampiri. "Kamu lagi kedatangan tamu, Yang?" tanya Ramdan.


Morin menggelengkan kepala.


"Lalu, kalian bahas apa?" tanya Ramdan lagi.


"Aku telat datang bulan kayaknya, Mas."


"Oh." Ramdan belum sadar apa maksud istrinya, ia pun menanggapinya biasa saja dan ia kembali melanjutkan aktivitasnya yang tengah beberes di dapur. Dan setelah itu ia pamit untuk pergi ke kantor. "Yang, kamu baik-baik ya di rumah. Ada Ibu juga yang menemanimu di sini, aku berangkat kerja dulu."


Bukannya menjawab Morin malah melengos, suaminya tidak peka atau memang tidak tahu? Kok tanggapannya hanya 'oh'


Ramdan menyusul, tapi setibanya di hadapan istrinya ia hanya mencium kening wanita itu. "Aku pergi, aku janji pulang cepat." Setelah itu Ramdan benar-benar pergi meninggal istrinya yang mematung sendiri di kamar.


Morin kembali mual, dan ibu mertua menemuinya.


"Sabar ya, kayaknya anak Ibu belum sadar. Bagaimana kalau kita buat kejutan?"


Itu ide yang bagus sehingga Morin setuju dan tidak lagi cemberut. Untuk memastikan dirinya hamil atau tidaknya, ibu mertua pergi izin sebentar untuk membeli tespack ke apotik.


"Ibu tidak lama, nanti pulang Ibu bawakan rujak," kata ibu mertuanya.


Meski begitu, ibu mertuanya tetap akan membelikannya. Tidak suka karena belum isi, tapi ia yakin menantunya pasti suka.


Satu jam kemudian, ibu Ramdan pulang dan langsung menyuruh Morin menggunakan tespack-nya. Wanita itu pun pergi ke kamar mandi dan ternyata benar tespack itu garis dua. Ibu Ramdan langsung memeluk menantunya, akhirnya ia akan mendapatkan cucu dari anak bungsunya.


***


Ramdan tengah bersama Farhan, setelah menikah, Ramdan tidak lagi mengizinkan istrinya bekerja. Toh Farhan sudah kembali ke kantor setelah anak kembarnya lahir.


Saat itu jam kantor usai, Ramdan siap-siap untuk pulang. Namun, saat itu juga Farhan menyuruh laki-laki itu untuk mengecek laporan di bagian gudang. Ia tak bisa menolak karena Farhan atasannya, padahal ia sudah janji akan pulang cepat.


"Kamu kenapa?" tanya Farhan.


"Saya sudah janji pulang cepat, Pak," jawab Ramdan. Meski hubungan mereka sekarang menjadi keluarga, tak membuat Ramdan merubah panggilan pada lelaki itu.


"Kalian ada acara?" tanya Farhan.


"Tidak sih, Pak. Hanya janji pulang cepat," jawab Ramdan.

__ADS_1


"Oh, saya kira kalian mau pergi. Ya udah cek sebentar saja, setelah itu boleh pulang."


Ramdan mengangguk dan segera pergi ke gudang untuk mengecek laporan.


Dan Morin, wanita itu tengah menunggu kepulangan suaminya. Ia sudah merasa bosan di rumah, bahkan ibu mertua sudah mengabulkan apa yang diinginkannya. Dari mulai rujak yang tidak disukainya malah minta nambah dibuatkan, dengan senang hati wanita paruh baya itu membuatkannya.


"Bu, Mas Ramdan kok lama ya? Katanya dia mau pulang cepat, apa dia tidak ingat dengan janjinya?" tanya Morin yang sudah mulai BT.


"Lagi sibuk mungkin, atau gak jalan macet." Ibu Ramdan sebisa mungkin membuat Morin tenang. "Coba kamu telepon," titahnya.


Morin pun menghubungi suaminya dan benar saja, suaminya masih ada di pabrik karena ia menghubungi lewat vidio call.


"Sebentar lagi aku pulang," kata Ramdan.


"Mas, pulangnya beliin martabaknya. Maratabak manis, maratabak telor juga," titahnya.


"Iya, nanti Mas belikan. Sudah dulu ya, Mas mau cepat-cepat selesaikan pekerjaan."


Panggilan pun berakhir.


Morin dan ibu mertuanya buat kejutan untuk Ramdan, Morin akan memberikan tespack kepada suaminya dengan bentuk sebuah paket.


Dan tibalah suaminya pulang, pria itu membawa makanan pesanan istrinya.


"Yang, aku pulang," kata Ramdan.


Ia melihat kedua wanita yang berarti dalam hidupnya tengah duduk santai sambil menonton sebuah tayangan di layar kaca. Sebuah film yang membuat mereka emosi yang di mana peran utamanya pergi setelah dicerai oleh suaminya dalam keadaan hamil. Morin sampai menyentuh perutnya, amit-amit kalau itu sampai terjadi padanya.


"Kalian nonton apa sih sampai-sampai aku pulang dicuekin?" tanya Ramdan sambil meletakkan bawaannya di atas meja. "Ya ampun kalian sampai nangis begitu?" sambungnya lagi.


"Sedih, Mas. Peran utamanya hamil terus diceraikan suaminya, kamu jangan begitu ya padaku," kata Morin.


"Ngomong apa sih? Siapa juga yang mau ninggalin kamu?"


"Kan aku juga ha ..." Mulut Morin langsung ditutup oleh tangan ibu mertuanya, hampir saja kejutan itu bocor dari mulut istrinya sendiri.


"Itu hanya film jangan baper," kata ibu Ramdan. "Coba tolong kamu buka itu, katanya ada paket atas nama kamu," kata ibunya lagi.


Ramdan mengambil kotak kecil persegi panjang sambil mengeceknya. "Apa ini, Bu? Aku tidak merasa pesan paket."

__ADS_1


"Buka saja, Ibu juga penasaran sama isinya."


__ADS_2