Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 52


__ADS_3

Keesokkan paginya.


Di kediaman Farhan, semua sudah berkumpul termasuk tante Siska. Wanita itu terpaksa menunda kepulangannya karena sang putri belum menampakkan diri setelah acara pernikahannya kemarin. Ia juga tidak bisa menghubungi anaknya karena ponselnya mati. Menghubungi menantu pun sama tidak bisa karena, terhubung tapi tak kunjung ada jawaban.


"Kamu itu kenapa, Siska? Kaka perhatikan kamu itu gelisah terus, Morin itu sudah menikah sudah ada yang tanggung jawab mau pulang atau tidak itu urusan mereka. Lagian, kamu itu kayak yang tidak tau aja pengantin baru," kata sang kaka yaitu Amel.


"Iya, Tante itu lebay. Kalau mau pulang ya pulang aja sih," timpal Farhan.


"Bukan gitu, kok perasaanku tidak enak. Aku mimpi Morin sakit dan minta tolong padaku," jawab Siska.


"Kalau pun benar sakit 'kan sekarang ada suaminya, tidak usah khawatir. Ramdan itu sangat baik orangnya, sama kerjaan aja dia tanggung jawab apa lagi sama istrinya," sahut Permana yang baru datang menemui mereka yang tengah berada di ruang makan untuk sarapan sama-sama.


Tak lama, yang ditunggu-tunggu ternyata datang. Morin dan suaminya berkunjung. Itu pun Morin datang karena bujukkan suaminya, mama mertua akan pulang dan menunggu anaknya terlebih dulu. Pada saat mereka sampai, Siska langsung menghampiri. Karena mimpi semalam ia jadi khawatir tentang anak gadis satu-satunya.


"Apa sih, Ma. Aku baik-baik saja," protes Morin saat mamanya mengecek suhu tubuhnya.


Sementara Ramdan menelan saliva susah payah. Apa wanita itu tahu kalau anaknya tengah sakit dan itu karena ulahnya. Apa ia juga akan jadi tersangka soal penyebab putrinya sakit? Beruntung, Morin sudah diberi obat sehingga tubuhnya tidak lagi panas. Hanya saja, wajahnya yang pucat tidak bisa sembunyikan.


Sebelum mereka berkunjung, tadi subuh sudah melakukan rutinitas suami istri terlebih dulu. Itu pun istrinya yang memancingnya, sampai sekarang Ramdan masih mengingat kejadian tadi pagi-pagi buta di kamar hotel. Efek obat yang diberikannya ternyata manjur, istrinya tidak merasakan sakit dibagian intinya sehingga wanita itu dengan gencar menjamahnya.


Morin benar-benar memimpin permainan, sampai-sampai suaminya kewalahan karena kesusahan membuat istrinya mencapai kli***maksss-nya. Miliknya sampai tidak bisa berdiri tegak karena saking lemasnya karena ia sendiri sudah beberapa kali mencapai puncaknya. Entah obat apa yang diberikan pihak hotel semalam, ia sampai berpikir mungkin itu memang khusus obat untuk pengantin baru.


Bayang-bayang kejadian tadi tidak bisa dilupakan begitu saja. Ramdan malah terus teringat pada saat ...


"Sayang, aku sudah tidak kuat. Lututku gemetar sekali," keluh Ramdan pada saat tadi.

__ADS_1


"Ih, kamu curang. Kamu sudah beberapa kali keenakan sedangkan aku belum. Pokoknya buat aku terbang dulu baru udahan," protes Morin.


Ramdan sampai pusing harus berbuat apa, kemarin ia bisa membuat istrinya menikmatinya. Hingga ia melakukan gaya sebelumnya. Ramdan membuka kedua paha istrinya lebar-lebar, bahkan milik istrinya masih bengkak. Namun, ia tetap melakukannya. Membuka lipatan kecil istrinya dan mulai mencumbunya, memberikan sensasi yang seharusnya istrinya menikmatinya.


Ia menjulurkan lidah tak lupa jarinya pun ikut menari-nari. Hanya ini yang bisa dilakukan karena ia sudah tidak kuat jika melakukan dengan miliknya, lutut sudah tidak bisa lagi menopang berat tubuhnya. Hingga akhirnya ia bisa membuat istrinya merasa melayang ke udara. Tubuh istrinya menggelinjang tak karuan, dan setelah itu ia bisa beristirahat.


"Ramdan, kamu tidak dengar apa kata Mama?"


Pertanyaan itu membuyarkan lamunannya, Ramdan terkesiap dan langsung berdiri tegak.


"I-iya, Ma. Aku dengar, maaf," jawab Ramdan. "Aku sudah bilang tapi Morin tidak bangun-bangun jadi aku putuskan hari ini menemui Mama," jelas Ramdan.


"Aku cape, Ma. Mama kayak tidak pernah merasakan gimana pengantin baru, aku 'kan ingin bermanja-manja sama suami tercinta," kata Morin sambil memeluk suaminya.


Ia tahu kalau suaminya takut pada mamanya karena mama Siska cukup galak jika menyangkut putrinya. Apa lagi soal kesehatannya.


Tibalah Morin dan Ramdan di ruang makan.


"Gimana malam-malam indah kalian? Apa sangat menyenangkan?" tanya Farhan, apa lagi ia ingat soal obat yang dititipkan pada pihak hotel.


"Indah dong, Mas. Pantas Mas Farhan tidak bisa hidup sendirian, ternyata begitu ya rasanya punya pasangan," jawaban absur Morin membuat Farhan kalah telak.


Ia sampai berpikir Ramdan cukup perkasa bisa membuat istrinya puas dalam keadaan Morin yang meminum obat kuat. Melihat Ramdan yang pucat, Farhan tersenyum jahil.


Morin melihat menu makanan, tapi seakan tak berselera. Akhirnya ia meminta suaminya membuatkan sesuatu, pagi ini ia ingin sarapan nasi goreng. Sudah lama ia tak memakan hasil masakan suaminya, dulu Ramdan sering bawa bekal ke kantor dan itu hasil masakannya sendiri.

__ADS_1


"Yang, buatkan aku nasi goreng dong," pinta Morin.


Ramdan mengangguk, dengan senang hati ia akan membuatkan makanan kesukaannya.


"Mau dong nasi goreng," sahut Sarah yang baru saja tiba. Ia datang sambil mendorong kereta bayi.


Wajah Farhan langsung masam, ia tidak suka istrinya dekat dengan Ramdan.


"Aku saja yang buatkan nasi goreng,aku juga bisa kalau hanya buat itu," sahut Farhan.


"Ish ... Makananmu kurang enak, Ramdan pintar buat lidahku merasakan nikmat hasil masakannya," ujar Sarah lagi.


"Iya, sekalian aku buatkan untuk Bu Sarah juga," kata Ramdan.


Pria itu pun bergegas ke dapur ditemani oleh istrinya di sana. Sementara Farhan masih cemberut. "Kamu kenapa? Masih cemburu padanya? Dia itu sekarang sepupumu loh, Mas." Sarah pun akhirnya melenggang pergi ke depan rumah untuk menjemur si kembar sekalian menunggu hasil masakan pengantin baru itu.


***


Masakan hasil Ramdan sudah terhidang di meja makan. Dari aromanya membuat siapa pun ingin menikmatinya termasuk mama Siska. Wanita itu jadi teringat mendiang suaminya karena pria itu pun pintar memasak.


"Mama cobain ini, ini enak banget, Ma." Morin menyodorkan sepiring nasi goreng, sekalian menyogok wanita itu agar hatinya sedikit melunak. Ia tahu kalau sang mama belum seratus persen memberikan restu.


Mama Siska pun menyantapnya, tapi ia langsung menitikkan air mata karena teringat suaminya. Ramdan yang melihat pun menjadi was-was. Jangan-jangan masakannya tidak sesuai dengan lidahnya. Bisa gawat ini, pikirnya. Ia menunggu reaksi selanjutnya dari mama mertuanya itu.


Di ruang makan mendadak sunyi karena melihat seorang Siska si wanita tomboy mengeluarkan air matanya. Ramdan sampai takut saat melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2