Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 38


__ADS_3

Sarah mencium punggung tangan Farhan yang kini resmi menjadi suaminya kembali. Lelaki itu pun mencium keningnya, tak lupa menyematkan cincin di jari manis masing-masing.


Mama Amel dan suaminya pun tersenyum, begitu juga dengan Wita. Wanita itu tahu sejarah Sarah.


"Tante, kenapa Mama sama Papa menikah lagi?" tanya Putra yang masih belum mendapatkan jawaban sesuai keinginannya.


"Apa ya ...," jawab Wita sambil berpikir. "Mungkin sudah lama berpisah dan tidak bertemu," kata Wita.


"Oh, gitu ya. Aku sama Nisa juga lama tidak bertemu, kenapa aku dengannya tidak menikah? Menikah itu apa?" Pertanyaan Putra membuat semua orang di sana tertawa.


"Nanti kalau kamu sudah besar kamu pasti tau jawabannya," sahut mama Amel.


Putra hanya manggut-manggut lalu menghampiri orang tuanya. Setelah itu mereka berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Farhan inginnya mengadakan resepsi, tapi Sarah tidak ingin karena mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi. Ada hikmah di balik ini semua, ia jadi tahu bagaimana cara mensyukuri apa yang telah diberi dari Tuhan. Ia bukan Sarah yang dulu yang biasanya mengikuti jaman, sekarang ia lebih suka kesederhanaan.


Ia ingin suaminya mencintainya apa adanya, begitu pun dirinya. Seusai berfoto, mereka makan bersama. Farhan menyuapi istrinya makan, tak lupa juga dengan Putra. Wajah Sarah nampak berseri karena ia begitu bahagia. Farhan terlihat tulus, mungkin laki-laki itu sudah benar-benar mencintainya.


Sampai pada akhirnya, Wita dan suaminya pun pamit pulang.


"Putra, Tante pulang dulu ya, nanti ajak Papa sama Mama main ke rumah Tante, oke," kata Wita.


"Iya, Tante. Aku mau cium Nisa," ucap Putra.


Nisa, si gadis kecil nan lucu itu berjalan menghampiri Putra, mereka berciuman dan saling berpelukkan. Tidak tahu apa arti ciuman itu, yang jelas Putra menyayangi Nisa karena menurutnya gadis kecil itu adalah temannya.


"Lucu sekali mereka, Pa," ujar mama Amel.


"Mereka kalau sudah sama-sama anteng, Ma. Putra jagain Nisa dan tak pernah membuatnya menangis," tutur Sarah.

__ADS_1


"Cepatlah tambah momongan, beri adik untuk Putra. Beri kami cucu lagi," timpal Permana.


"Tenang, Pa. Aku buat sepuluh adik untuk Putra," sahut Farhan.


"Dikira hamil itu tidak menyiksa apa? Aku sampai sakit pas hamil Putra," protes Sarah. "Tunggulah, tidak secepat itu," tutur Sarah lagi. Bukannya apa-apa, mengingat momen masa ngidam dan melahirkan itu membuatnya sedikit takut.


"Ah sudahlah, kami pamit," kata Wita. "Jangan lama-lama, Mbak. Biar Nisa ada temannya, siapa tau anak Mbak nanti perempuan." Setelah mengatakan itu Wita benar-benar undur diri.


Begitu pun yang lainnya, karena yang hadir hanya beberapa orang saja. Bahkan kerabat mama Amel mau pun suaminya tidak ada yang tahu bahwa Farhan kembali rujuk, yang mereka tahu Farhan akan menikah dengan Celine. Tapi itu pun tidak jadi karena wanita itu sudah meninggal.


***


Karena merasa tidak nyaman, Sarah langsung ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Tak lama, Farhan menyusul dan melihat Sarah tengah membuka kebayanya. Sarah terkejut dan merasa malu, terlalu lama berpisah membuat ia sedikit canggung saat tubuhnya terekspos. Sarah meraih apa saja yang ada di dekatnya untuk menutup bagian dada.


Ia meraih bantal untuk menutupnya. Sayangnya, rasanya itu sia-sia karena Farhan mendekat dan melepaskan bantal sebagai penghalang.


Sarah yang merasakan itu cukup merinding. Sudah cukup lama mereka dalam kesendirian. Keduanya sama meeindukkan sentuhan hangat itu, cinta keduanya semakin menggebu.


Mungkin ini kesempatan Farhan untuk meminta hak-nya, mengingat adanya Putra tentu tidak bisa sebebas dulu.


"Mumpung Putra lagi diajak jalan-jalan sama Papa naik mobil, kita ..."


"Kita apa?" pungkas Sarah. "Aku gerah, Mas. Tubuhku terasa lengket," sambungnya.


"Ya udah, kita mandi bareng," ajak Farhan. Perlahan, ia melepas kain yang dikenakan Sarah. Bawahan kebaya ia lepas dengan secara perlahan. Hingga terpang-pang jelas tubuh molek wanita itu. Menyisakan segitiga dan bra yang warnanya senada.


Sarah menyilangkan kedua tangan di tubuhnya, yang kiri di atas dan yang kanan ia tutup di bagian bawah. Farhan tersenyum jahil, ia langsung saja membopong istrinya ke kamar mandi ala bridal style.

__ADS_1


Tiba di dalam sana, ia mendudukkan Sarah di bath-up. Lalu mengisi bath-up itu dengan air dingin karena meraka sedang dalam kegerahan. Bukan gerah karena cuaca, melainkan gelora yang sudah membungbung tinggi.


Bath-up sudah terisi air cukup penuh. Farhan menuangkan sabun ke dalamnya dan Sarah mulai memainkan busa yang sudah muncul di area bath-up. Tak lama, Farhan mun ikut masuk ke dalam sana setelah melepas semua pakaiannya.


Mata Sarah sudah ternoda saat melihat sesuatu yang sudah berdiri tegak, bahkan sekarang tengah menggesek tubuh bagian belakang karena posisi suaminya berada di belakang sambil memeluk pinggang istrinya.


Lalu, Farhan melepas bra yang dikenakan wanita itu, tak lupa segitiga yang tersisa pun dilepasnya. Mereka mandi bersama saling mengusap tubuh masing-masing., cukup lama mereka menikmati mandi bersama dengan merendam tubuhnya di air dingin. Beberapa menit kemudian, Sarah mulai menggigil kedinginan.


Akhirnya, Farhan mengangkat tubuh istrinya. Membasuh tubuh mereka dengan air hangat yang dipenuhi dengan busa. Pada saat tubuhnya terguyur air hangat, Farhan malah mencumbu wanita itu. Mendaratkan sebuah ciuman di bibir, sambil merasakan sensasi hangat dari air yang mengucur.


Dalam keadaan seperti itu tentu membuat Farhan tak bisa menahan. Ia langsung mendudukkan istrinya di closet. Akhirnya mereka bermain di dalam kamar mandi. Gelora cinta yang sudah lama terpendam akhirnya membuncah seketika. Hujaman demi hujaman dilakukan lelaki itu.


Sesekali Sarah menjerit, merasakan sakit dicampur nikmat. Pasalnya, ia baru melakukannya lagi setelah melahirkan.


"Sarah, kenapa masih sempit saja?" tanya Farhan sambil terus menggoyangkan pinggulnya maju mundur. "Aku sangat menyukainya, kamu pintar merawat diri. Aku mencintaimu, Sarah. Sangat mencintaimu."


Farhan semakin mempercepat tempo sehingga Sarah mencengkram bahu sampai meninggalkan bekas cakaran. Mereka mengerang bersama di dalam kamar mandi.


"Terima kasih Sarah, terima kasih masih menjaganya untukku." Ciuman kembali mendarat di kening dan terakhir di benda kenyal wanita itu.


Beberapa saat, mereka masih terdiam. Farhan pun tak langsung mencabutnya, karena posisi Sarah terduduk dengan kakinya yang masih melingkar di pinggang suaminya. Tak lama, mereka pun melepaskan diri dan kembali mandi bersama-sama dengan air hangat.


_


_


Harusnya tayang besok, berhubung malam jumat ya sudah sekarang saja🤣🤣🤣

__ADS_1


Selamat malam sunah bagi yang menjalankan😁


__ADS_2