Mengandung Anak Mantan Suami

Mengandung Anak Mantan Suami
Part 87


__ADS_3

Sosok tinggi berdiri dengan tegap, tangan dan rahang mengeras. Tatapan tajam bakal elang yang siap menerkam. Yang muncul malah tersenyum tanpa dosa. Memperlihatkan gigi putihnya. Entah harus dengan cara apa menghukum putrinya kecilnya itu. Dikerjain salah, di lembutin malah ngelunjak.


Akhirnya .....


"Masuk dan istirahat," ucap Farhan.


Farah nyelonong begitu saja, gadis itu bernapas lega. Namun, langkahnya terhenti di tengah-tengah tangga.


"Tidak ada fasilitas untukmu, semua Papa sita termasuk handphone."


Darah membalikkan tubuh tak percaya, ia kira akan lolos tanpa embel-embel. Ternyata, lebih baik kena omel dia hari dia malam dari pada harus dicabut semua fasilitas. Tak apa tidak diberi uang jajan, asal jangan ponsel yang diambil. Benda kecil itu seakan hidup dan matinya. Kalau diambil bagaimana dengan kekasih tercinta?


Farhan menghampiri, mengambil tas kecil milik putrinya dan memberikannya pada Sarah.


"Papa tidak mau mendengar apa pun lagi, jangan protes atau hukuman akan ditambah!" jelas Farhan.


"Berapa lama handphone-nya di sita? Lalu kuliahku gimana? Aku butuh HP itu," kata Farah.


"Jangan membantah, Papamu benar-benar marah," timpal Sarah.

__ADS_1


"Tapi, Ma," rengek Farah.


"Abisnya kamu bandel, akhir-akhir ini kamu sering pulang terlambat bahkan sering bolos ke kampus. Ditambah lagi ..." Sarah tidak meneruskan kata-katanya karena Farhan ikut menimpali.


"Apa kamu sering berduaan dengannya? Apa dia penyebabnya kamu sering bolos kuliah dan terlambat pulang? Kalau itu benar, itu pengaruh buruk untukmu, jauhi dia dan jangan berhubungan dengannya. Kamu itu lebih pantas jadi anaknya dari pada kekasihnya, Papa tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu!"


"Tapi aku mencintainya, Pa. Kami saling cinta," kata Farah.


"Ke kamar lalu tidur, ini sudah malam!" Perintah itu tidak bisa dibantah, ini pertama kali Farhan begitu marah pada anak bontotnya.


"Sudah, pergilah ke kamar," sahut Sarah.


"Salah kalau aku mencintainya? Cinta 'kan gak pandang umur, walau dia lebih pantas jadi papaku dia tidak terlihat tua 'kan? Masih gagah masih oke," gerutu Farah.


Kesal sendiri dan terus uring-uringan di kamar. Kamar seperti kapal pecah. Tempat tidur sangat acak-acakan, bantal dan guling berada di lantai. Akhirnya rasa kesal itu berubah menjadi tangisan.


Lelah sendiri akhirnya Farah tertidur.


_____

__ADS_1


Keesokan harinya.


Farah sudah siap, sudah terlihat cantik dengan penampilan modisnya. Ia akan datang ke Bandara untuk bertemu dengan kekasih tercinta. Ia berlenggok di depan cermin, melihat penampilannya.


Sayang, pas ia memutar knop pintu, pintu itu tidak bisa dibuka. Farah terkunci di dalam kamarnya sendiri. Farah menggedor pintu seakan minta bantuan pada siapa saja yang ada di luar sana. Tidak menyangka bahwa itu adalah perbuatan papanya.


"Ma, tolong buka pintunya," teriak Farah.


Tidak ada sahutan dari luar, ia pun mencari kunci cadangan. Semalam ia ingat betul tidak mengunci pintunya. Farah sudah panik karena takut terlambat ke Bandara. Semalam ia hanya memberi anggukkan sebagai jawaban cinta untuk tuan Akio.


Hari ini kepastian yang sesungguhnya. Ia harus datang apa pun alasannya. Waktu terus berputar, Farah lelah berkutat di dalam kamar mencari cara bagaimana caranya bisa keluar. Ia tidak mungkin keluar lewat jendela karena itu berbahaya.


"Mama, bukain pintunya. Aku bukan anak ayam yang harus dikurung," teriak Farah sambil menggedor pintu.


___


Ini juga aku bawa karya temanku yuk cus baca juga dengan judul, Terjebak pesona mama muda dengan nama penulis, Ayu Andila, ceritanya sangat menarik.


__ADS_1


__ADS_2