
Ketakutan itu terjadi karena Ramdan tidak ingin mengecewakan mama mertua, ini kesempatan wanita itu mencicipi masakannya.
"Kenapa nasi gorengnya seperti ini?" tanya Siska.
"Gimana apanya?" tanya Amel. Wanita itu mencicipinya, tidak ada yang aneh dengan makanan itu malah bisa dikatakan nasi goreng itu sangat lezat. "Sini kalau kamu tidak mau." Kakaknya itu menarik piring dari hadapan adiknya.
Namun, dengan berat hati adiknya itu tak memberikannya karena itu miliknya. Menantunya yang sudah membuatkannya. Gengsi wanita paruh baya itu cukup besar sehingga tidak mengakui kepintaran menantunya. Masih ada tahap yang lain agar Ramdan bisa diterima dengan baik olehnya, bukan benci melainkan ia tidak rela anaknya menikah begitu saja tanpa ia tahu siapa lelaki itu. Kesetiaan lelaki itu belum diuji, pikirnya.
"Mama kenapa nangis?" tanya Morin, sepertinya ia tahu kenapa ibunya menangis. Karena ia pun merasakan sesuatu saat pertama kali mencicipi masi goreng buatan suaminya itu kenapa ia ingin Ramdan menjadi pasangannya. Ia ingat betul apa kata sang ayah, menikahlah dengan pria yang pintar memasak karena pria seperti itu biasanya penyayang apa lagi pada keluarga.
Setelah ditelisik, Ramdan memang baik juga penyabar. Itu kenapa ia sangat mencintai pemuda itu, Ramdan juga sangat sopan. Nilai plus untuk lelaki itu karena menurutnya Ramdan pria idaman para wanita.
"Rasa nasi gorengnya sama persis buatan papamu," jawab Siska, dan itu membuatnya rindu akan sosok suaminya yang telah meninggalkan dirinya juga anak-anaknya untuk selama-lamanya.
Morin memeluk ibunya, ia pun merasakan apa yang ia rasakan. "Suamiku akan melindungi kita seperti papa melindungi kita, Ma," dan berikanlah restu menerima pria itu sebagai imam dikeluarganya, pikirnya.
Acara drama makan di pagi hari pun selesai, kini Siska akhirnya pamit undur diri. Ia dan anak-anak tidak bisa berlama-lama menginap karena si kembar harus sekolah.
"Mama pulang dulu ya," pamit Siska pada Morin. "Ramdan, jaga anak Mama baik-baik. Mama titip dia sayangi, cinta dan hormati anak Mama ini. Mama tidak mau mendengar apa pun yang membuat Morin menangis," pesan mama mertua.
"Tentu, Ma. Aku akan menjaganya dengan sangat baik, sebisa mungkin aku akan membahagiakannya," jawab Ramdan.
"Oh, so sweet," gumam Sarah yang ikut mengantar sang tante dan keponakan. "Tante tidak usah khawatir, Ramdan bisa dipercaya kok aku jamin seratus persen. Morin beruntung punya suami kayak Ramdan," sahut Sarah.
__ADS_1
"Puji aja terus, aku merasa tersindir," gumam Farhan, dan pria itu pun masuk sambil mendorong kereta bayi masuk ke dalam.
Sarah menatap kepergian suaminya dan tak lama ia mengekor dari belakang. Farhan sangat sensitif soal itu karena ia selalu merasa bersalah karena dulu sempat menelantar Sarah dengan perasaan. Tidak ingin memikirkan itu, Farhan menyibukkan diri sendiri dengan cara mengurus si kembar. Pagi ini ia akan memandikan anak-anaknya.
Sarah tak bersuara, ia terus memperhatikan suaminya dari kejauhan. Farhan berubah seratus persen, suaminya itu sangat membuktikan ucapannya. Meski tengah merajuk tak membuatnya acuh kepada keluarga. Apa lagi Sarah baru melahirkan secara sesar, ia tak diizinkan beraktivitas sama sekali termasuk mengurus si kembar. Sarah hanya cukup memberi anak-anaknya ASI selebihnya baby sitter yang mengurus itu pun jika Farhan tengah bekerja.
Disaat libur, Farhan yang turun tangan mengasuh dan merawat si kembar. Karena salut akan perubahan suaminya, Sarah pun mendekat dan tak membiarkan momen langka seperti ini. Jika Putra tak mendapatkan kasih sayang dari papanya saat dulu, tapi sekarang rasa sayang suaminya begitu dalam pada si kembar. Adanya si kembar bukan berarti Farhan acuh pada anak sulungnya.
Putra begitu manja pada papanya, terkadang anak itu cemburu sosial pada adik kembarnya. Namun, Farhan berusaha adil dan memberikan pengertian pada anak sulungnya itu.
Sarah memeluk suaminya dari belakang. Ia tak akan membiarkan suaminya terus dihantui rasa bersalah. Sarah mengubur rasa sakit itu, karena sekarang ia dapat merasakan cinta dan kasih sayang yang tulus dari suaminya.
"Terima kasih sudah menjadi suami dan Ayah yang baik untukku juga anak-anak," tutur Sarah sambil memeluk suaminya.
"Kamu suami terbaik yang pernah aku temui, dari dulu sampai sekarang kamu tetap nomor satu, dan tiada duanya," puji Sarah.
"Dan aku akan terus berusaha menjadi yang terbaik untuk kalian semua," kata Farhan. Lalu ia membalikkan tubuhnya menatap mata indah istrinya dengan seksama. Menangkup kedua pipi dengan jari-jemarinya, lalu menempelkan wajah mereka. Bibirnya melengku manis.
"Aku akan selalu mencintaimu, jadi jangan puji laki-laki lain di hadapanku. Aku lagi belajar dan kamu semangati aku ya?" Akhirnya, sebuah ciuman mendarat di bibir Sarah pagi itu setelahnya mereka saling berpelukkan. Cukup lama keadaan mereka seperti itu sampai-sampai Farhan melupakan suatu. Bukankah ia tengah melepas baju kedua anak-anaknya karena akan di mandikan.
Suara tangis bayi-bayi itu membuat mereka tersadar.
"Oh sayang, maafkan Papamu ini," ujar Farhan. Ia melanjutkan aktivitasnya. "Kamu bisa siapkan baju untuk mereka? Hanya siapkan saja, selebihnya aku yang urus."
__ADS_1
"Tentu." Sarah pun pergi menuju lemari pakaian si kembar lalu meletakkannya di tempat tidur tak lupa menyiapkan minyak telon dan bedak Setelahnya ia duduk sambil menunggu suaminya selesai dengan aktivitasnya.
Akhirnya selesai sudah memandikan si kembar. Kedua bayi itu sudah terlihat tampan dan cantik. Tak lupa Farhan membedaki wajah bayi-bayi itu.
"Lucunya," gumam Farhan setelah membedaki si kembar.
PR hari ini belum selesai dilaksanakan, tinggal satu lagi yang belum dimandikan.
"Sayang, aku titip Farah dan Fathan ya, aku mau mandi sama Putra." Farha langsung keluar dari kamar dan mencari anak sulungnya.
Ternyata Putra tengah bersama Ramdan. Mereka tengah bermain tebak-tebakan, lalu Farhan menghampiri anaknya.
"Putra, mandi dulu yuk?" ajaknya kemudian.
Ramdan dan Putra menoleh, lalu anak itu beranjak dari tempatnya. "Om, nanti kita main lagi ya aku mau mandi dulu," kata Putra pada Ramdan.
"Siap komandan," jawab Ramdan disertai candaan.
***
Farhan dan Putra akhirnya mandi bersama, dan itu tak luput dari pandangan Sarah melalui kaca. Ia semakin bahagia karena suaminya benar-benar adil dalam mengurus ketiga anaknya. Rasa sakit dulu terbayar oleh kebahagiaan yang tengah dirasakan. Tidak ada gunanya juga terus larut dalam masa lalu. Ia harus membuka lembaran baru karena kini suaminya begitu mencintai dan menyayangi.
Candaan Farhan dengan anaknya membuat Sarah terus tersenyum. Perbincangan mereka selalu menyebut nama Sarah karena wanita itu yang selalu menjadi topik perbincangan kedua lelaki itu. Mereka saling mengungkapkan perasaan betapa sayangnya pada Sarah.
__ADS_1