
Menjelang tengah malam Indrawan sama sekali belum bisa memejamkan matanya. Dia membolak - balikkan tubuhnya di atas kasur empuk itu. Dia terlihat seperti anak remaja yang sedang kasmaran. Terkadang sesekali tersenyum sendiri mengenang kenangan manisnya yang suka diam - diam masuk kamar anak gadisnya dan mencuri kecpan singkat di bibir ranumnya.
Karena merasa matanya sulit untuk terpejam dia duduk di tepi ranjang. Lalu melangkah ke arah jendela kamar hotel.
"Aku bisa gila". batinnya
Dia akhirnya melangkah menuju pintu penghubung dan membukanya.
Indrawan berjalan menuju ranjang yang di tempati Laras. Menatap wajah polosnya yang cantik natural.
Dia naik ke atas ranjang dengan hati - hati lalu menyingkap selimutnya, dia pun ikut berbaring. Wajah mereka berhadapan Indrawan mengusap wajah polos itu dan mengusap ujung rambut gadisnya, lalu memeluknya. Tak lama ia pun ikut terlelap.
Pagi harinya Laras merasa tubuhnya serasa hangat dan berat. Dia perlahan membuka matanya, menguceknya sebentar dan langsung membulatkan bola matanya. Saat dia tidur berpelukan dengan laki - laki yang dia anggap ayah.
Dia tidur beralaskan lengan lelaki berusia 36 tahun itu. Dan mereka tidur berpelukan seperti layaknya pasangan suami istri. Dia menatap pria dewasa yang masih terlelap pulas.
Perasaannya semakin yakin, jika pria di hadapannya ini bukan hanya sekedar menganggapnya anak adopsi. Tapi dia merasa ada feel. Dia bukan anak bodoh yang tidak bisa membedakan antara perasaan sayang Orangtua dan sayang terhadap pasangan. Papihnya begitu memanjakannya belakangan ini apalagi sikap posesifnya membuat ia yakin kalo papihnya punya maksud terselubung kepadanya.
Perlahan dia bangun dengan hati - hati, dia lalu turun dari ranjang dan menuju kamar mandi, setelah masuk dia tidak langsung membersihkan diri. Dia duduk termenung di atas closet.
__ADS_1
Dia bingung harus bagaimana, apa tetap bertahan denga keluarga adopsinya, atau pulang kepada ibunya dan kumpul bersama adik - adiknya.
Laras lama termenung di kamar mandi, air matanya turun mulai deras, semenjak ayahnya meninggal dia merasa hidupnya selalu di rundung kesedihan.
Sekarang dia gak kekurangan materi, karena Indrawan menanggung beban keluarganya. Tapi sekarang dia mengerti, papihnya melakukan semua itu karena ada maksud tertentu.
Semenjak mamihnya jarang pulang ke rumah papihnya mencurahkan kasih sayangnya ke Laras.
Tok.. tok... tok...
"Sayang kamu di kamar mandi lama banget." Ucap Indrawan sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Laras buru - buru bangun dari closet. Dia membasuh muka dan gosok gigi. Dia malas untuk mandi karena masih pagi, di tambah perasaaan nya sedang tidak enak.
Ceklek...
Pintu kamar mandi dia buka.
"Sayang, kamu nangis?" tanya Indrawan
__ADS_1
Dia melihat mata Laras sembab dan mukanya merah menunjukkan bahwa gadis itu sedang tidak baik - baik saja.
Laras terdiam, dia bingung harus jawab apa. Karena kenyataannya dia memang habis nangis
Indrawan menuntun tangan Laras dan membawanya ke ranjang.
"Masih pagi, tidur lah lagi sayang". Ucap Indrawan
Laras diam saja dia naik ke atas kasur dan meringkuk membelakangi Indrawan.
Indrawan ikut ke kasur dan tiduran sambil memeluk Laras dari belakang. Dia mengusap rambut Laras.
"Pih kenapa papih tidur sama Laras? tanya Laras masih dengan posisi meringkuk. Dia agak gemetar karena ketakutan.
"Karena itu Laras nangis?" bukannya menjawab Indrawan malah balik bertanya.
Laras tak menjawab dia hanya menganggukkan kepalanya dengan perasaan was - was.
(hadeuuuh udh bikin part hareudang.. eh d tolak alhasil bikin ulang... maaf ya jadinya up nya telat karena 4 kali revisi... ) jangan lupa like yaaaaaaa
__ADS_1